Pengertian SCM
1. Definisi Supply Chain
Beberapa definisi supply chain menurut beberapa penulis, antara lain:
Menurut Chopra dan Meindl (2001):
Suatu supply chain mencakup semua tahap, yang secara langsung atau tak langsung, dalam memenuhi permintaan pelanggan. Supply chain itu tidak hanya mencakup perusahaan manufaktur dan pemasok, tetapi juga pihak-pihak yang terlibat dalam kegiatan transportasi, pergudangan, pengecer, dan para pelanggan itu sendiri. Dalam setiap organisasi, supply chain tersebut mencakup semua fungsi yang terlibat dalam pemenuhan permintaan pelanggan. Fungsi-fungsi ini meliputi – tetapi tidak terbatas pada, pengembangan produk baru, pemasaran, operasi, distribusi, keuangan, dan pelayanan pelanggan.
Suatu supply chain merupakan suatu rangkaian proses-proses dan aliran-aliran yang terjadi di dalam dan di antara tahapan rantai pasok yang berbeda dan berkombinasi untuk memenuhi kebutuhan pelanggan atas suatu produk.
Menurut Stevens dalam Towill (1996:41):
Supply chain didefinisikan sebagai suatu sistem yang mempunyai bagian-bagian pokok yang mencakup pemasok material, fasilitas produksi, jasa distribusi, dan pelanggan, yang terhubungkan bersama melalui aliran arus-maju (feedforward) material dan arus-balik (feedback) informasi.
2. Definisi Supply Chain Management
Sejak tahun 1980-an, telah dikembangkan istilah supply chain management (SCM). Istilah ini banyak digunakan, walaupun dengan beberapa kerancuan pengertian. Sejumlah pihak menggunakannya sebagai sinonim untuk “logistik” (Lambert,1998). Beberapa pihak memberikan definisi/pengertian supply chain management sbb.:
Menurut Fortune Magazine (artikel Henkoff, 1994):
Proses dimana perusahaan memindahkan material, komponen dan produk ke pelanggan.
Menurut Ross (1998) :
SCM adalah filosofi manajemen yang secara terus –menerus mencari sumber-sumber fungsi bisnis yang kompeten untuk digabungkan baik dalam perusahaan maupun luar perusahaan seperti mitra bisnis yang berada dalam supply chain untuk memasuki sistem supply yang berkompetitif tinggi dan memperhatikan kebutuhan pelanggan, yang berfokus pada pengembangan solusi inovatif dan sinkronisasi aliran produk, jasa dan informasi untuk menciptakan sumber nilai pelanggan (customer value) yang bersifat unik.
Menurut Martin (1998) :
SCM adalah jaringan organisasi yang melibatkan hubungan upstream dan downstream dalam proses dan aktivitas yang berbeda yang memberi nilai dalam bentuk produk dan jasa pada pelanggan.
Menurut Simchi-Levi (2000) :
Suatu kumpulan pendekatan yang digunakan untuk mengintegrasikan secara efisien antara pemasok, perusahaan manufaktur, pergudangan, dan toko, sehingga barang diproduksi dan didistribusikan dengan kuantitas yang tepat, lokasi tepat, dan waktu yang tepat, untuk meminimumkan biaya-biaya pada kondisi yang memuaskan kebutuhan tingkat pelayanan.
Menurut Lambert (1998) :
Integrasi atas proses-proses bisnis dari pengguna akhir melalui pemasok awal yang menyediakan produk, jasa, dan informasi yang memberikan nilai tambah bagi pelanggan.
Supply chain management merupakan manajemen atas semua proses-proses bisnis kunci di antara anggota-anggota rantai pasok. Proses-proses itu mencakup: manajemen hubungan pelanggan, manajemen pelayanan pelanggan, manajemen permintaan, pemenuhan pesanan, manajemen aliran manufaktur, pembelian, dan pengembangan dan komersialisasi produk (untuk beberapa perusahaan termasuk saluran pengembalian [returns channel].
Menurut Handfield (1999) :
Integrasi atas kegiatan-kegiatan dalam suatu rantai pasok dengan hubungan yang diperbaiki, untuk mencapai suatu keunggulan bersaing yang berkelanjutan.
Menurut Chopra & Meindl (2001) :
Mencakup manajemen atas aliran-aliran di antara tingkatan dalam suatu supply chain untuk memaksimumkan keuntungan total.
Menurut Christopher, M., (1998).
Supply Chain merupakan jaringan dari sebuah organisasi yang melibatkan, upstream dan downstream pada process dan aktivitas yang berbeda yang berbeda yang hasilkan nilai tambah dalam bentuk produk maupun pelayanan terhadap konsumen. Dimana tujuan dari aktivitas supply chain dirancang menurut kebutuhan konsumen. Fokus utama dari aktivitas supply chain adalah untuk pemenuhan pemesanan, dan merespon aliran material, uang dan informasi. Definisi yng tepat untuk menggambarkan supply chain dapat dilihat pada gambar 1
Gambar 1 House of SCM
3. Definisi Manajemen Logistik
Menurut Ballau (1999)
Sekumpulan aktivitas fungsional yang berkelanjutan melalui sebuah saluran dimana bahan baku dirubah menjadi bahan jadi dan menjadi nilai tambah di depan konsumen. Karena sumber bahan baku, plants, dan selling point tidak berada dalam satu lokasi dan saluran merepresentasikan urutan tahapan manufakturing, aktivitas logistik membutuhkan banyak waktu sebelum produk sampai di tempat pemasaran.
Menurut Bowersox (2002)
Logistik merupakan sekumpulan subset yang berada dalam framework supply chain. Logistik adalah proses pertambahan nilai dengan mengatur posisi dan waktu inventory, dimana ada kombinasi antara firm’s order management, inventory, transportation, warehousing, material handling, dan packaging sebagai sesuatu yang terintegrasi dalam sebuah jaringan fasilitas.
4. Perbedaan Manajemen Logistik dan SCM
Tidak ada perbedaan yang menyolok antara SCM dan Manajemen Logistik, hanya saja SCM dipandang sebagai logistik bagian luar perusahaan yang meliputi pelanggan dan supplier. Manajemen logistik lebih memfokuskan pada pengoptimalan rencana orientasi dan kerangka kerja berupa pembuatan rencana tunggal untuk aliran produk dan informasi di dalam perusahaan, sedangkan SCM merasa tidak cukup hanya integrasi bagian dalam. Tujuan utama SCM adalah mengurangi atau bahkan menghilangkan persediaan buffer yang terlibat antara beberapa departemen dalam satu rantai dengan cara saling membagi informasi mengenai demand dan persediaan yang ada sekarang.
II. Mengapa SCM
Konsep supply chain pada hakekatnya mempunyai daya tarik karena rencana bisnis baru yang ditawarkan berpotensi untuk meningkatkan pelayanan pelanggan. Konsep tersebut juga menyebabkan efisiensi dan efektifitas jaringan bisnis yang dapat meningkatkan efisiensi dengan mengurangi duplikasi dan pekerjaan yang tidak produktif.
1. Symptom dari tidak baiknya Supply Chain
Supply chain menjadikan satu sama lain menjadi tergantung karena adanya kontrak-kontrak yang harus dipatuhi bersama. Tiap perusahaan yang berada dalam satu rantai dan terintegrasi tidak dapat memutuskan segala sesuatu secara sepihak, segala sesuatunya harus dibicarakan bersama. Hal ini dapat menyebabkan sulit mengembangkan perusahaan dengan maksimal sesuai dengan keinginan.
Penerapan strategi bisnis ini sangat sulit karena ada beberapa hal yang harus dimiliki sebagai modal utama melakukan bisnis dengan strategi ini, yaitu
1. Leadership
Untuk mencapai keberhasilan dalam suatu supply chain diperlukaan leadership. Hal ini diperlukan karena kolaborasi akan terlaksana apabila ada peran leadership.
2. Loyal/ sejajar
Hampir pada setiap keadaan perusahaan yang berpartisipasi dalam suatu supply chain juga secara simultan terikat dalam segala rencana.
3. Pengukuran
Dalam bisnis individu, balance sheet dan income statement harus dibuat dalam keseragaman prinsip akuntansi. Dalam supply chain tidak ada keseragaman dalam performansi.
4. Resiko/ Berbagi keuntungan
Dalam hal ini kerugian atau keuntungan tidak hanya jatuh pada satu perusahaan saja, akan tetapi seluruh perusahaan yang terlibat ikut menanggung resikonya baik rugi maupun untung.
5. Kesuksesan yang terbatas
Supply chain tidak mematok kesuksesan untuk jangka waktu yang panjang.
6. Anti trust
Antitrust menentang kerjasama supply chain atas dasar doktrin kompetisi perdagangan bebas.
7. Consumer value concern
Hasil efisiensi supply chain tidak menguntungkan semua orang.
Ada 2 kritik mengenai supply chain, yang pertamamelaksanakan efisiensi tidak tidak ada garansi untuk harga eceran yang rendah. Yang kedua, pelaksanaan efisiensi tidak selalu pantas dimasyarakat.
2. Indikator Kinerja yang dapat diperbaiki dengan mengembangkan system SCM
Dengan mengembangkan sistem supply chain maka kinerja yang dapat diperbaiki dapat melalui fasilitas, inventori, transportasi dan informasi. Sehingga performansi sistem SCM dianggap sukses tidaknya dapat dilihat dari harga, mutu barang serta layanan (kecepatan, kemudahan, dsb.)
Berikut ini adalah supply chain decision – making frameworknya,
Gambar 2. Supply chain decision-making framework
Dengan terbukanya pasar bebas yang mendunia (globalisasi) maka terjadi begitu banyak dan begitu ketat persaingan antar perusahaan dan antar produk. Sehingga perusahaan dituntut untuk merancang, mengelola dan mengoptimalkan supply chain. Terdapat beberapa permasalahan yang terjadi bila perusahaan tidak mengelola dan mengoptimalkan supply chain, dan permasalahan ini tentunya akan berakibat tidak baik terhadap konsumen yaitu :
• Harga barang menjadi tidak kompetitif dan sulit ditemukan oleh konsumen
• Pilihan sumber pembelian tidak banyak
• Mutu barang tidak dapat dijamin dengan baik
• Penyediaan barang menjadi tidak cepat
Dengan mengembangkan dan mengoptimalkan SCM, maka permasalahan-permasalahan yang disebutkan diatas dapat diperbaiki. Bagi para konsumen, ini merupakan keuntungan karena konsumen mendapatkan :
• Harga barang yang lebih kompetitif dan mudah ditemukan
• Pilihan sumber pembelian yang lebih banyak
• Mutu barang yang lebih baik
• Penyediaan barang yang lebih cepat
III. Model umum Supply Chain
Secara umum, model supply chain digambarkan seperti pada gambar berikut ini :
Gambar 3 Model Umum Supply Chain
Berdasarkan gambar diatas, dapat dilihat bahwa dalam supply chain tersebut terdapat beberapa pemain utama yang merupakan perusahaan-perusahaan yang mempunyai kepentingan yang sama, yaitu :
• Suppliers
• Manufacturer
• Distributors
• Retailer outlets
• customer
IV. Kajian Pull-Based VS Push-Based Supply Chain
Jaringan rantai pasok dikategorikan menjadi dua, yaitu:
Push-based Supply Chain
Dalam Push-based Supply Chain, keputusan produksi berdasarkan peramalan jangka panjang. Manufaktur menggunakan penerimaan pesanan dari gudang pengecer untuk meramalkan permintaan konsumen. Hal ini berarti memakan banyak waktu bagi Push-based Supply Chain untuk bereaksi dalam perubahan pasar. Ini dapat berperan pada :
• Ketidakmampuan menemukan perubahan pola permintaan
• Keusangan pada inventori rantai pasok sebagai permintaan pada produk yang pasti hilang.
Peningkatan variabilitas dalam permintaan pelanggan berperan untuk :
• Kelebihan inventori karena kebutuhan stok penyimpanan yang besar
• Perluasan dan variabel produksi yang lebih
• Penolakan tingkat pelayanan
• Keusangan produk
Gambar 4 kajian push – based strategy
Pull-based Supply Chain
Dalam Pull-based Supply Chain, produksi dikirimkan karena permintaan sehingga dikoordinasikan dengan permintaan pelanggan yang aktual dari pada peramalan. Untuk tujuan ini, rantai pasok menggunakan mekanisme arus informasi yang cepat untuk mengirimkan informasi tentang permintaan pelanggan ke fasilitas manufaktur. Ini berperan untuk :
Pengurangan dalam peran waktu yang dicapai melalui kemampuan mengantisipasi dengan baik datangnya pesanan dari pengecer.
Pengurangan dalam inventori pada pengecer sejak tingkat inventori pada fasilitas-fasilitas ini meningkat dengan peran waktu.
Pengurangan dalam variabilitas sistem dan variabilitas yang dihadapi manufaktur karena reduksi lead time.
Pengurangan inventori pada manufaktur karena reduksi variabilitas.
Pull-based Supply Chain sering kali sulit untuk diimplementasikan ketika lead time sangat lama, ini berarti tidak praktis untuk bereaksi pada informasi permintaan. Selain itu, sistem ini juga sulit diperoleh keuntungan skala ekonomi dalam manufaktur dan transportasi karena sistem tidak direncanakan lebih jauh dalam waktu.
V. Strategi SCM
Strategi competitive dari sebuah perusahaan tergantung dari kebutuhan konsumen yang bertujuan untuk memberikan kepuasan terhadap konsumen melalui produk dan pelayanan. Hubungan antara competitive dan supply chain strategy dapat dilihat dari perubahan nilai tambah. Pertambahan nilai dimulai dari pengembangan produk baru. Marketing dan sales menghasilkan demand. Marketing juga menghasilkan input balik ke new produk development.
Gambar 5 the Value Chain in a company
Strategi dari supply chain termasuk didalamnya supplier strategy, operation strategy dan logistic strategy. Keputusan termasuk didalamnya inventory, transportation, operations facilities dan aliran informasi dalam suplly chain merupakan bagian dari strategi supply chain.
Gambar 6 Fit competitive and Functional Strategies
Untuk mengetahui bagaimana sebuah perusahaan dapat meningkatkan performansi supply chain management dengan tujuan responsivness dan efficiency, maka dapat terukur dari 4 paramater performansi supply chain, yaitu :
Facilities; merupakan jaringan supply chain dimana produk disimpan, di rakit atau di buat, dimana fungsi dari falitas mempunyai peranan yang cukup besar dalam performansi supply chain.
Inventory; persediaan yang dimaksud adalah raw material, barang setengah jadi ataupun barang jadi. Jika kebijakan inventory berubah maka hal ini akan merubah keseluruhan performansi efficiency dan effectiveness dari supply chain
Transportation; transportasi dibutuhkan untuk menghantarkan barang dari point of origin ke point of destination
Information; informasi ini terdiri dari data dan analisis dari fasilitas, inventory, transportasi dan konsumen yang ada para supply chain.
Goal dari supply chain merupakan customer service goal, ada 3 strategi dalam mencapai customer service yaitu inventory strategy, transport strategy dan location strategy :
1. Location strategy
Strategi penentuan lokasi menjadi salah satu faktor yang menentukan struktur dari sebuah supply chain. Dasar keputusan pemilihan lokasi ditujukan untuk memilih lokasi yang cocok untuk mengukur skala ekonomis atau untuk decentralize untuk lebih merespon terhadap keinginan konsumen.
2. Inventory strategy
Inventory di perlukan dalam supply chain karena adanya ketidak samaan antara supply dan demand.
3. Transport strategy
Transportasi memindahkan produk dari stage satu ke stage yang lainnya dalam supply chain. Transportasi mempunyai pengaruh yang besar baik terhadap responsiveness maupun efficiency
Gambar 7 Supply chain strategy
Konstribusi Supply Chain Terhadap Strategi bisnis
Gambar 8 Konstribusi Supply Chain Terhadap Strategi bisnis
(sumber : www.prtm.com)