Oleh: mirarahayu | Juni 20, 2009

Ibrahim Bapak Tauhid (1)

Ibrahim Bapak Tauhid

MENGAPA ADA PEMUJAAN KEPADA MAKHLUK

Faktor-faktor yang menimbulkan penyembahan manusia kepada ciptaan adalah ketidaktahuannya dan tuntutan alami yang mutlak dalam dirinya yang pada umumnya mempercayai adanya suatu penyebab bagi setiap fenomena. Di satu sisi, manusia, yang dikuasai oleh kodrat alami, merasa harus mencari perlindungan di suatu tempat, pada suatu pewenang kuat yang mampu menciptakan sistem yang unik ini. Namun, di sisi lain, ketika ia bermaksud menempuh jalan ini tanpa tuntunan para nabi -pemandu Ilahi dan telah ditunjuk untuk menjamin kesempurnaan perjalanan rohani manusia- ia mencari perlindungan pada makhluk-makhluk tak-bernyawa, hewan, ataupun sesama manusia sebelum ia dapat mencapai tujuannya yang sesungguhnya, yakni Tuhan Yang Esa, dan mendapatkan jejak-jejak-Nya dengan mengamati tanda-tanda penciptaan dan mencari perlindungan pada-Nya. Oleh karena itu, ia membayangkan bahwa inilah obyek yang dicari-carinya. Melihat ini, para ilmuwan mengakui, setelah mengkaji kitab-kitab Ilahi dan cara bagaimana dakwah disampaikan kepada manusia oleh para nabi serta argumentasi mereka, bahwa tujuan para nabi bukanlah untuk meyakinkan manusia tentang adanya pencipta alam semesta. Sesungguhnya, peran mereka yang mendasar ialah membebaskan manusia dan cengkeraman syirik (politeisme) dan penyembahan berhala. Dengan kata lain, mereka datang untuk mengatakan kepada manusia, “Hai manusia! Allah yang kita semua percaya akan keberadaan-Nya adalah ini, bukan itu. Ia esa, bukan berbilang. Jangan memberikan status Allah kepada makhluk. Terimalah Allah sebagai Yang Esa. Jangan menerima mitra atau sekutu apa pun bagi-Nya.” Kalimat “tiada Tuhan selain Allah,” membuktikan apa yang kami katakan di atas. Inilah titik mula dakwah Nabi Muhammad. Maksud kalimat ini ialah, tak ada sesuatu yang patut disembah selain Allah, dan ini berarti bahwa adanya Pencipta telah merupakan fakta yang diakui, sehingga manusia dapat diajak untuk menerima kemaha-esaan-Nya. Kalimat ini menunjukkan bahwa di mata manusia zaman itu, bagian pertama -adanya Tuhan yang menguasai alam semesta- bukanlah hal yang perlu dipertengkarkan. Disamping itu, kajian terhadap kisah-kisah Qur’ani dan percakapan para nabi dengan umat zamannya memperjelas masalah ini. [Catatan kaki: Tetapi, bagaimana konsepsi mereka tentang berhala? Apakah mereka memandangnya patut disembah dan hanya untuk menjadi perantara, ataukah mereka berpikir bahwa berhala-berhala itu pun mempunyai kekuasaan seperti Allah? Masalah ini berada di luar bahasan kita sekarang, walaupun pandangan pertama itu kuat dan terbukti.] TEMPAT KELAHIRAN NABI IBRAHIM Jawara Tauhid ini dilahirkan di lingkungan gelap penyembahan berhala dan penyembahan manusia. Manusia menundukkan kerendahan hati kepada berhala yang dibuat dengan tangannya sendiri, atau kepada bintang-bintang. Dalam situasi ini, hal yang mengangkat kedudukan Ibrahim dan menyukseskan usahanya adalah kesabaran dan ketabahannya. Tempat kelahiran pembawa panji tauhid ini adalah Babilon. Para sejarawan telah menyatakan negeri itu sebagai salah satu dari tujuh keajaiban dunia. Mereka telah mencatat banyak riwayat tentang keagungan dan kehebatan peradaban wilayah itu. Sejarawan Yunani kenamaan, Herodotus (483-425 SM), menulis, “Babilon dibangun di sebuah lapangan persegi-panjang setiap sisinya 480 km (120 league), sehingga kelilingnya 1.920 km. Pernyataan ini, betapapun dibesar-besarkan, mengungkapkan realitas yang tak terbantah-apabila dibaca bersama tulisan-tulisan lainnya. Namun, dari pemandangannya yang menarik dan istana-istananya yang tinggi, tak ada lagi yang dapat dilihat sekarang selain tumpukan lempung, di antara sungai Tigris dan Efrat, yang diliputi kebungkaman maut. Kebungkaman itu kadang-kadang dipecahkan oleh para orientalis yang melakukan penggalian untuk mendapatkan informasi tentang peradaban Babilonia. Nabi Ibrahim, pelopor tauhid, dilahirkan di masa pemerintahan Namrud putra Kan’an. Walaupun Namrud menyembah berhala, ia juga mengaku sebagai tuhan (dewa). Dengan memanfaatkan kejahilan rakyat yang mudah percaya, ia memaksakan kepercayaannya kepada mereka. Mungkin nampak agak ganjil bahwa seorang penyembah berhala mengaku pula sebagai dewa. Namun, Al-Qur’an memberikan kepada kita suatu contoh lain tentang kepercayaan ini. Ketika Musa mengguncang kekuasaan Fir’aun dengan logikanya yang kuat dan menguak kebohongannya dalam suatu pertemuan umum, para pendukung Fir’aun berkata kepadanya, “Apakah kamu membiarkan Musa dan kaumnya membuat kerusakan di negeri ini (Mesir) dan meninggalkan kamu serta tuhan-tuhanmu?” (QS, Surah al-A’raf, 7:127). Telah termasyhur bahwa Fir’aun mengaku sebagai tuhan dan biasa menyerukan, “Aku adalah tuhanmu yang tertinggi.” Namun ayat ini menunjukkan bahwa ia juga seorang penyembah berhala. Dukungan terbesar yang diperoleh Namrud datang dari para astrolog dan penenung yang dipandang sebagai orang-orang pintar di zaman itu. Ketundukan mereka ini membuka jalan bagi Namrud untuk memanfaatkan kaum tertindas dan kalangan bodoh. Selain itu, sebagian famili Ibrahim, misalnya Azar yang membuat berhala dan juga memahami astrologi, termasuk pengikut Namrud. Ini saja sudah merupakan halangan besar bagi Ibrahim, karena di samping harus berjuang melawan kepercayaan umum itu, ia juga harus menghadapi perlawanan kaum kerabatnya sendiri. Namrud telah menerjunkan diri ke dalam laut kepercayaan takhayul. Ia telah membentangkan permadani untuk pesta dan minum-minum ketika para astrolog membunyikan lonceng bahaya pertama seraya mengatakan, “Pemerintahan Anda akan runtuh melalui seorang putra negeri ini.” Ketakutan laten Namrud bangkit. Ia bertanya, “Apakah ia telah lahir atau belum?” Para astrolog itu menjawab bahwa ia belum lahir. Ia kemudian memerintahkan supaya diadakan pemisahan antara perempuan dan laki-laki-di malam yang, menurut ramalan para astrolog, kehamilan musuh mautnya itu akan terjadi. Walaupun demikian, para algojonya membunuh anak-anak laki-laki. Para bidan diperintahkan untuk melaporkan rincian tentang anak-anak yang baru lahir ke suatu kantor khusus. Pada malam itu juga terjadi kehamilan Ibrahim. Ibunya hamil dan, seperti ibu Musa putra ‘Imran, ia merahasiakan kehamilan itu. Setelah melahirkan, ia menyelamatkan diri ke suatu gua yang terletak di dekat kota itu, untuk melindungi nyawa anaknya tersayang. Ia meninggalkan anaknya di suatu sudut gua, dan mengunjunginya di waktu siang atau malam, tergantung situasi. Dengan berlalunya waktu, Namrud merasa aman. Ia percaya bahwa musuh tahta dan pemerintahannya telah dibunuh. Ibrahim menjalani tiga belas tahun kehidupannya dalam sebuah gua dengan lorong masuk yang sempit, sebelum ibunya membawanya keluar. Ketika muncul di tengah masyarakat, para pendukung Namrud merasa bahwa ia orang asing. Terhadap hal itu, ibunya berkata, “Ini anak saya. Ia lahir sebelum ramalan para astrolog.” (Tafsir al-Burhan, I, h. 535). Ketika keluar dari gua, Ibrahim memperkuat keyakinan batinnya dalam tauhid dengan mengamati bumi dan langit, bintang-bintang yang bersinar, dan pohon-pohonan yang hijau. Ia menyaksikan masyarakat yang aneh. Dilihatnya sekelompok orang yang memperlakukan sinar bintang dengan sangat tolol. Ia juga melihat beberapa orang dengan tingkat kecerdasan yang bahkan lebih rendah. Mereka membuat berhala dengan tangan sendiri, kemudian menyembahnya. Yang terburuk dari semuanya ialah bahwa seorang manusia, dengan mengambil keuntungan secara tak semestinya dari kejahilan dan kebodohan rakyat, mengaku sebagai tuhan mereka dan menyatakan diri sebagai pemberi hidup kepada semua makhluk dan penakdir semua peristiwa. Nabi Ibrahim merasa harus mempersiapkan diri untuk memerangi tiga kelompok yang berbeda ini. IBRAHIM BERJUANG MELAWAN PENYEMBAHAN BERHALA Kegelapan penyembahan berhala telah meliputi seluruh Babilon, tempat lahir Nabi Ibrahim, Banyak tuhan dunia dan langit telah merenggut hak menalar dan berpikir dari berbagai lapisan masyarakat. Sebagiannya memandang tuhan-tuhan itu memiliki kekuasaan sendiri, sedang yang lainnya memperlakukan mereka sebagai perantara untuk memperoleh nikmat dari Tuhan Yang Mahakuasa. RAHASIA POLITEISME Orang Arab sebelum datangnya Islam percaya bahwa setiap makhluk dan setiap gejala tentulah mempunyai penyebab tersendiri, dan bahwa Tuhan Yang Esa tidak mampu menciptakan semuanya. Pada masa itu, ilmu pengetahuan memang belum menemukan hubungan antara makhluk dan fenomena alami serta berbagai kejadian. Sebagai akibatnya, orang-orang itu mengkhayalkan bahwa semua mahluk dan berbagai fenomena alami berdiri sendiri-sendiri dan tidak ada kaitan satu sama lain. Karena itu, mereka menganggap bahwa untuk setiap fenomena seperti hujan dan salju, gempa bumi dan kematian, paceklik dan kesukaran, perdamaian dan ketentraman, kekejaman dan pertumpahan darah, dan sebagainya, ada tuhannya masing-masing. Mereka tak menyadari bahwa seluruh alam semesta adalah suatu kesatuan, di mana bagiannya saling terkait dan masing-masingnya mempunyai efek timbal balik. Pikiran bersahaja manusia masa itu belum mengetahui rahasia penyembahan kepada Allah Yang Esa dan tidak menyadari bahwa Allah yang menguasai alam semesta adalah Tuhan Yang Mahakuasa dan Mahatahu, Pencipta yang bebas dari segala kelemahan dan cacat. Kekuasaan, kesempurnaan, pengetahuan, dan kebijaksanaanNya tiada berbatas. Ia di atas segala sesuatu yang dianggapkan kepada-Nya. Tak ada kesempurnaan yang tidak Ia miliki. Tak ada kemungkinan yang tak dapat diciptakan-Nya. Ia adalah Allah Yang Esa yang mampu menciptakan segala makhluk dan fenomena tanpa bantuan dan dukungan siapa pun. Ia dapat menciptakan makhluk lain dengan cara yang sama sebagaimana Ia menciptakan makhluk-makhluk yang ada sekarang. Karena itu, secara nalar, adanya perantaraan dari suatu wewenang yang dapat mengurangi kemandirian kehendak Allah yang tidak bersekutu, tidak dapat diterima. Kepercayaan bahwa alam semesta mempunyai dua pencipta, yang satu merupakan sumber kebaikan dan cahaya sedang yang satu lagi merupakan sumber kejahatan dan kegelapan, juga tak dapat diterima. Kepercayaan bahwa ada perantaraan oleh seseorang, seperti Maryam dan ‘Isa, dalam hal penciptaan alam semesta, atau bahwa pengaturan tatanan dunia fisik telah dikuasakan pada seorang manusia, merupakan manifestasi syirik dan kelebih-lebihan. Penganut tauhid, dengan rasa hormat yang sewajarnya kepada para nabi dan orang suci, memelihara keyakinan pada Pencipta Alam Semesta, dan tidak menyekutukan-Nya dengan yang lain. Metode yang digunakan para nabi untuk memberi pelajaran dan tuntutan kepada manusia ialah metode logika dan penalaran, karena mereka berurusan dengan pikiran manusia. Mereka berhasrat mendirikan pemerintahan yang didasarkan pada keimanan, pengetahuan, dan keadilan, dan pemerintahan semacam itu tak dapat didirikan melalui kekerasan, peperangan, dan pertumpahan darah. Oleh karena itu, kita harus membedakan pemerintahan para nabi dengan pemerintahan Fir’aun dan Namrud. Tujuan dari kelompok yang kedua ini ialah amannya kekuasaan dan pemerintahan mereka dengan segala cara yang mungkin, sekalipun negara akan runtuh setelah mereka mati. Sebaliknya, orang-orang suci bermaksud mendirikan pemerintahan yang membawa maslahat pada individu maupun masyarakat, baik penguasa itu kuat atau lemah pada suatu waktu tertentu, sementara ia hidup maupun sesudah ia mati. Tujuan semacam itu tentu saja tak dapat dicapai dengan kekerasan dan tekanan. Ibrahim pertama-tama berjuang melawan kepercayaan kaum kerabatnya yang menyembah berhala, di mana Azar merupakan pentolannya. Sebelum mencapai keberhasilan penuh dalam bidang ini, ia sudah harus berjuang pada bidang operasi lainnya. Taraf pemikiran kelompok yang kedua ini agak lebih tinggi dan lebih jelas dari yang pertama. Berlawanan dengan agama para famili Ibrahim, mereka ini telah membuang makhluk-makhluk duniawi yang hina dan tak berharga, lalu memuja bintang di langit. Ketika melawan pemujaan bintang, Ibrahim menyatakan dengan kata-kata sederhana sejumlah kebenaran filosofis dan ilmiah yang belum dipahami oleh manusia di zaman itu, bahkan sekarang pun argumennya menimbulkan kekaguman para sarjana yang sangat mengenal seni logika dan perdebatan. Di atas semua ini, Al-Qur’an juga telah mengutip argumen-argumen Ibrahim, dan kami mendapat kehormatan untuk mengutipnya dengan penjelasan singkat. Untuk dapat menuntun masyarakatnya, suatu malam Ibrahim menatap ke langit di saat terbenamnya matahari dan terus terjaga hingga ia terbenam lagi di hari berikutnya. Selama 24 jam ini ia berdebat dan berdiskusi dengan tiga kelompok, dan menyalahkan kepercayaan mereka dengan argumen-argumennya yang kuat. Kegelapan malam mendekat dan menyembunyikan segala tanda kehidupan. Bintang Venus yang cemerlang muncul dari suatu sudut cakrawala. Untuk merebut hati para pemuja Venus, Ibrahim menyesuaikan diri dengan mereka dan mengikuti garis pikiran mereka seraya mengatakan, “Itu adalah pemeliharaku.” Namun, ketika bintang itu tenggelam dan menghilang di suatu sudut, ia berkata, “Saya tak dapat menerima tuhan yang tenggelam.” Dengan penalarannya yang alami, ia menolak kepercayaan para pemuja Venus dan membuktikan kebatilannya. Pada tahap berikutnya, matanya tertuju pada bundaran bulan yang bercahaya terang dengan keindahannya yang memukau. Dengan maksud merebut hati pemuja bulan, secara lahiriah ia bersikap seakan bulan itu tuhan, tapi kemudian ia merontokkan kepercayaan itu dengan logikanya yang kuat. Demikianlah, ketika Yang Mahakuasa membenamkan bulan itu di balik cakrawala, dan cahaya serta keindahannya lenyap dari muka bumi, maka tanpa menyinggung perasaan para pemuja bulan itu, Ibrahim berkata, “Apabila Tuhanku yang sesungguhnya tidak membimbing aku, tentulah aku tersesat, karena tuhan ini terbenam seperti bintang dan tunduk pada suatu tatanan dan sistem yang pasti yang dibentuk oleh sesuatu yang lain.” Kegelapan malam berakhir dan matahari pun muncul, membuka cakrawala, dan menyebarkan sinar keemasannya ke muka bumi. Para pemuja matahari memalingkan wajah mereka kepada tuhannya. Untuk menaati aturan perdebatan, Ibrahim juga bersikap seolah mengakui ketuhanan matahari. Namun, terbenamnya matahari mengukuhkan bahwa ia tunduk pada suatu sistem alam semesta yang umum, dan Ibrahim secara terbuka menolaknya sebagai yang patut disembah.(lihat QS, al-An’am, 6:75-79) Tak diragukan bahwa saat tinggal di gua, melalui anugerah Ilahi yang luar biasa, Ibrahim mendapatkan dari sumber yang gaib pengetahuan batin tentang tauhid, yang merupakan kekhususan para nabi. Namun, setelah memperhatikan dan mengkaji benda-benda langit, ia juga memberikan bentuk argumentasi pada pengetahuan itu. Dengan demikian, di samping menunjukkan jalan yang benar kepada manusia dan memberikan kepada mereka sarana bimbingan, Ibrahim telah meninggalkan pengetahuan yang tak ternilai untuk digunakan oleh orang-orang yang mencan kebenaran dan realitas. (Bagian 1, Bagian 2, Bagian 3) ——————————— oleh Ja’far Subhani, hal. 50 – 69 Judul buku: AR-RISALAH Sejarah Kehidupan Rasulullah SAW Indeks Islam | Indeks Artikel ——————————————————————————– ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: