Oleh: mirarahayu | Juni 18, 2016

Definisi Ergonomi

Secara singkat ergonomi adalah ilmu kerja. Lalu apa pengertian atau definisi detail dari ilmu yang multidisipliner ini? 

Ada berbagai macam pengertian atau definisi dari ergonomi atau sebenarnya lebih tepatnya ergonomika (dalam bahasa inggris disebut ergonomics) diantaranya:
Ergonomi merupakan istilah yang berasal dari Bahasa Yunani. Ergonomi terdiri dari dua suku kata, yaitu: ‘ergon‘ yang berarti ‘kerja‘ dan ‘nomos‘ yang berarti ‘hukum‘ atau ‘aturan‘. Dari kedua suku kata tersebut, dapat ditarik kesimpulan bawa ergonomi adalah hukum atau aturan tentang kerja atau yang berhubungan dengan kerja.
Ergonomi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dengan dan elemen-elemen lain dalam suatu sistem dan pekerjaan yang mengaplikasikan teori, prinsip, data dan metode untuk merancang suatu sistem yang optimal, dilihat dari sisi manusia dan kinerjanya. Ergonomi memberikan sumbangan untuk rancangan dan evaluasi tugas, pekerjaan, produk, lingkungan dan sistem kerja, agar dapat digunakan secara harmonis sesuai dengan kebutuhan, kempuan dan keterbatasan manusia (International Ergonomics Association / IEA, 2002).
Definisi ergonomi dapat dilakukan dengan cara menjabarkannya dalam fokus, tujuan dan pendekatan mengenai ergonomi (Mc Coinick 1993) dimana dalam penjelasannya disebutkan sebagai berikut: (1) Secara fokus, ergonomi menfokuskan diri pada manusia dan interaksinya dengan produk, peralatan, fasilitas, prosedur dan lingkungan dimana sehari-hari manusia hidup dan bekerja. (2) Secara tujuan, tujuan ergonomi ada dua hal, yaitu peningkatan efektifitas dan efisiensi kerja serta peningkatan nilai-nilai kemanusiaan, seperti peningkatan keselamatan kerja, pengurangan rasa lelah dan sebagainya. (3) Secara pendekatan, pendekatan ergonomi adalah aplikasi informasi mengenai keterbatasan-keterbatasan manusia, kemampuan, karakteristik tingkah laku dan motivasi untuk merancang prosedur dan lingkungan tempat aktivitas manusia tersebut sehari-hari.
Ergonomi adalah ilmu untuk menggali dan mengaplikasikan informasi-informasi mengenai perilaku manusia, kemampuan, keterbatasan dan karakteristik manusia lainnya untuk merancang peralatan, mesin, sistem, pekerjaan dan lingkungan untuk meningkatkan produktivitas, keselamatan, kenyamanan dan efektifitas pekerjaan manusia (Chapanis, 1985).
Ergonomi merupakan disiplin keilmuan yang mempelajari manusia dalam kaitannya dengan pekerjaannya (Wignjosoebroto, 2003).
Ergonomi merupakan studi tentang aspek-aspek manusia dalam lingkungan kerjanya yang ditinjau secara anatomi, fisiologi, psikologi, engineering, manajemen dan desain atau perancangan (Nurmianto, 2003).
Ergonomi yaitu ilmu yang mempelajari perilaku manusia dalam kaitannya dengan pekerjaan mereka. Sasaran penelitian ergonomi ialah manusia pada saat bekerja dalam lingkungan. Secara singkat dapat dikatakan bahwa ergonomi ialah penyesuaian tugas pekerjaan dengan kondisi tubuh manusia ialah untuk menurunkan stress yang akan dihadapi. Upayanya antara lain berupa menyesuaikan ukuran tempat kerja dengan dimensi tubuh agar tidak melelahkan, pengaturan suhu, cahaya dan kelembaban bertujuan agar sesuai dengan kebutuhan tubuh manusia (Departemen Kesehatan RI, 2007).
Ergonomi adalah merupakan suatu cabang ilmu yang mempelajari sifat, kemampuan, dan keterbatasan manusia (Sutalaksana, 2006).
Ergonomi adalah ilmu terapan yang menjelaskan interaksi antara manusia dengan tempat kerjanya. Ergonomi antara lain memeriksa kemampuan fisik para pekerja, lingkungan tempat kerja, dan tugas yang dilengkapi dan mengaplikasikan informasi ini dengan desain model alat, perlengkapan, metode-metode kerja yang dibutuhkan tugas menyeluruh dengan aman. (Etchison, 2007).
International Labour Organization (ILO) mendefinisikan ergonomi sebagai berikut: Ergonomi ialah penerapan ilmu biologi manusia sejalan dengan ilmu rekayasa untuk mencapai penyesuaian bersama antara pekerjaan dan manusia secara optimum dengan tujuan agar bermanfaat demi efisiensi dan kesejahteraan.
Ergonomi adalah ilmu yang menemukan dan mengumpulkan informasi tentang tingkah laku, kemampuan, keterbatasan, dan karakteristik manusia untuk perancangan mesin, peralatan, sistem kerja, dan lingkungan yang produktif, aman, nyaman dan efektif bagi manusia. Ergonomi merupakan suatu cabang ilmu yang sistematis untuk memanfaatkan informasi mengenai sifat manusia, kemampuan manusia dan keterbatasannya untuk merancang suatu sistem kerja yang baik agar tujuan dapat dicapai dengan efektif, aman dan nyaman (Sutalaksana, 1979).
Ergonomi adalah studi mengenai interaksi antara manusia dengan objek/peralatan yang digunakan dan lingkungan tempat mereka berada. Ergonomi juga dapat didefinisikan secara praktis sebagai perancangan untuk digunakan oleh manusia (Pulat, 1992).
Kohar Sulistiadi dan Sri Lisa Susanti (2003) menyatakan bahwa fokus ilmu ergonomi adalah manusia itu sendiri dalam arti dengan kaca mata ergonomi, sistem kerja yang terdiri atas mesin, peralatan, lingkungan dan bahan harus disesuaikan dengan sifat, kemampuan dan keterbatasan manusia tetapi bukan manusia yang harus menyesuaikan dengan mesin, alat dan lingkungan dan bahan.
Ilmu ergonomi adalah mempelajari beberapa hal yang  meliputi (Menurut Sulistiadi, 2003): (1) Lingkungan kerja meliputi kebersihan, tata letak, suhu, pencahayaan, sirkulasi udara, desain peralatan dan lainnya. (2) Persyaratan fisik dan psikologis (mental) pekerja untuk melakukan sebuah pekerjaan: pendidikan, postur badan, pengalaman kerja, umur dan lainnya. (3) Bahan-bahan/peralatan kerja  yang berisiko menimbulkan kecelakaan kerja: pisau, palu, barang pecah belah, zat kimia dan lainnya. (4) Interaksi antara pekerja dengan peralatan kerja: kenyamanan kerja, kesehatan dan keselamatan kerja, kesesuaian ukuran alat kerja dengan pekerja, standar operasional prosedur dan lainnya
Ergonomi adalah pemanfaatan informasi kemampuan, kebolehan dan batasan manusia untuk mendisain alat, mesin, sistem, tugas dan lingkungan demi berfungsinya manusia secara efektif, aman, nyaman dan produktif.
Ergonomi adalah suatu cabang ilmu yang memanfaatkan informasi-informasi mengenai sifat, kemampuan dan keterbatasan manusia dalam rangka membuat sistem kerja yang unggul yakni kerja yang aman sehingga sehat dan berujung pada produktivitas optimal.
Ergonomi adalah suatu cabang ilmu yang memanfaatkan informasi-informasi mengenai sifat, kemampuan dan keterbatasan manusia dalam rangka membuat sistem kerja yang ENASE (Efektif, Nyaman, Aman, Sehat, dan Efisien).
Ergonomi adalah ilmu, seni dan penerapan teknologi untuk menyelaraskan antara segala fasilitas yang digunakan dalam beraktivitas atau bekerja dengan kemampuan dan keterbatasan manusia baik secara fisik maupun non fisik sehingga kualitas hidup secara keseluruhan lebih baik. Oleh karena itu ergonomi mempunyai prinsip fit the job to the man.
Ergonomi adalah suatu kajian yang membahas tentang hubungan antara manusia dengan pekerjaan yang dilakukannya melalui suatu aturan kerja tertentu.
Ergonomi adalah ilmu yang mempelajari manusia dalam kaitannya dengan pekerjaan mereka.
Ergonomi adalah satu ilmu yang peduli akan adanya keserasian manusia dan pekerjaannya.
Ergonomi adalah ilmu yang mempelajari manusia dalam bekerja.
Ergonomi adalah tentang fitrahnya manusia bekerja.
Ergonomi adalah pemanfaatan informasi kemampuan, kebolehan dan batasan manusia untuk mendisain alat, mesin, sistem, tugas dan lingkungan demi berfungsinya manusia secara efektif, aman, nyaman dan produktif.
Ergonomi adalah ilmu yang membahas perancangan sistem kerja agar sesuai dengan kapasitas, batasan, atau kebutuhan manusia.
Ergonomi adalah ilmu atau kaidah yang mempelajari manusia sebagai komponen dari suatu sistem kerja mencakup karakteristik fisik maupun nirfisik, keterbatasan manusia, dan kemampuannya dalam rangka merancang suatu sistem yang efektif, aman, sehat, nyaman, dan efisien.
Ergonomi adalah working according to nature‘ atau bekerja berdasarkan kondisi alami dan bukan melakukan kerja yang sulit bagi tubuh.
Ergonomi ialah penyesuaian tugas pekerjaan dengan kapasitas manusia (fit the job to the man).
Ergonomi didefenisikan sebagai studi tentang aspek-aspek manusia dalam lingkungan kerjanya yang ditinjau secara anatomi, fisiologi, psikologi, engineering, manajemen dan perancangan/desain.
Ergonomi adalah ilmu secara khusus mempelajari keterbatasan dan kemampuan manusia dalam berinteraksi dengan teknologi dan produk-produk buatannya.
Ergonomi adalah studi tentang prinsip-prinsip kerja.
(sumber : http://ergonomi-fit.blogspot.co.id/2011/12/ergonomi-adalah.html?m=1)

Oleh: mirarahayu | Juni 29, 2009

Mengenal SCM

Pengertian SCM

1. Definisi Supply Chain
Beberapa definisi supply chain menurut beberapa penulis, antara lain:
Menurut Chopra dan Meindl (2001):
Suatu supply chain mencakup semua tahap, yang secara langsung atau tak langsung, dalam memenuhi permintaan pelanggan. Supply chain itu tidak hanya mencakup perusahaan manufaktur dan pemasok, tetapi juga pihak-pihak yang terlibat dalam kegiatan transportasi, pergudangan, pengecer, dan para pelanggan itu sendiri. Dalam setiap organisasi, supply chain tersebut mencakup semua fungsi yang terlibat dalam pemenuhan permintaan pelanggan. Fungsi-fungsi ini meliputi – tetapi tidak terbatas pada, pengembangan produk baru, pemasaran, operasi, distribusi, keuangan, dan pelayanan pelanggan.
 Suatu supply chain merupakan suatu rangkaian proses-proses dan aliran-aliran yang terjadi di dalam dan di antara tahapan rantai pasok yang berbeda dan berkombinasi untuk memenuhi kebutuhan pelanggan atas suatu produk.
Menurut Stevens dalam Towill (1996:41):
Supply chain didefinisikan sebagai suatu sistem yang mempunyai bagian-bagian pokok yang mencakup pemasok material, fasilitas produksi, jasa distribusi, dan pelanggan, yang terhubungkan bersama melalui aliran arus-maju (feedforward) material dan arus-balik (feedback) informasi.

2. Definisi Supply Chain Management
Sejak tahun 1980-an, telah dikembangkan istilah supply chain management (SCM). Istilah ini banyak digunakan, walaupun dengan beberapa kerancuan pengertian. Sejumlah pihak menggunakannya sebagai sinonim untuk “logistik” (Lambert,1998). Beberapa pihak memberikan definisi/pengertian supply chain management sbb.:
Menurut Fortune Magazine (artikel Henkoff, 1994):
Proses dimana perusahaan memindahkan material, komponen dan produk ke pelanggan.
Menurut Ross (1998) :
SCM adalah filosofi manajemen yang secara terus –menerus mencari sumber-sumber fungsi bisnis yang kompeten untuk digabungkan baik dalam perusahaan maupun luar perusahaan seperti mitra bisnis yang berada dalam supply chain untuk memasuki sistem supply yang berkompetitif tinggi dan memperhatikan kebutuhan pelanggan, yang berfokus pada pengembangan solusi inovatif dan sinkronisasi aliran produk, jasa dan informasi untuk menciptakan sumber nilai pelanggan (customer value) yang bersifat unik.
Menurut Martin (1998) :
SCM adalah jaringan organisasi yang melibatkan hubungan upstream dan downstream dalam proses dan aktivitas yang berbeda yang memberi nilai dalam bentuk produk dan jasa pada pelanggan.
Menurut Simchi-Levi (2000) :
Suatu kumpulan pendekatan yang digunakan untuk mengintegrasikan secara efisien antara pemasok, perusahaan manufaktur, pergudangan, dan toko, sehingga barang diproduksi dan didistribusikan dengan kuantitas yang tepat, lokasi tepat, dan waktu yang tepat, untuk meminimumkan biaya-biaya pada kondisi yang memuaskan kebutuhan tingkat pelayanan.
Menurut Lambert (1998) :
 Integrasi atas proses-proses bisnis dari pengguna akhir melalui pemasok awal yang menyediakan produk, jasa, dan informasi yang memberikan nilai tambah bagi pelanggan.
 Supply chain management merupakan manajemen atas semua proses-proses bisnis kunci di antara anggota-anggota rantai pasok. Proses-proses itu mencakup: manajemen hubungan pelanggan, manajemen pelayanan pelanggan, manajemen permintaan, pemenuhan pesanan, manajemen aliran manufaktur, pembelian, dan pengembangan dan komersialisasi produk (untuk beberapa perusahaan termasuk saluran pengembalian [returns channel].
Menurut Handfield (1999) :
Integrasi atas kegiatan-kegiatan dalam suatu rantai pasok dengan hubungan yang diperbaiki, untuk mencapai suatu keunggulan bersaing yang berkelanjutan.
Menurut Chopra & Meindl (2001) :
Mencakup manajemen atas aliran-aliran di antara tingkatan dalam suatu supply chain untuk memaksimumkan keuntungan total.

Menurut Christopher, M., (1998).
Supply Chain merupakan jaringan dari sebuah organisasi yang melibatkan, upstream dan downstream pada process dan aktivitas yang berbeda yang berbeda yang hasilkan nilai tambah dalam bentuk produk maupun pelayanan terhadap konsumen. Dimana tujuan dari aktivitas supply chain dirancang menurut kebutuhan konsumen. Fokus utama dari aktivitas supply chain adalah untuk pemenuhan pemesanan, dan merespon aliran material, uang dan informasi. Definisi yng tepat untuk menggambarkan supply chain dapat dilihat pada gambar 1

Gambar 1 House of SCM

3. Definisi Manajemen Logistik

Menurut Ballau (1999)
Sekumpulan aktivitas fungsional yang berkelanjutan melalui sebuah saluran dimana bahan baku dirubah menjadi bahan jadi dan menjadi nilai tambah di depan konsumen. Karena sumber bahan baku, plants, dan selling point tidak berada dalam satu lokasi dan saluran merepresentasikan urutan tahapan manufakturing, aktivitas logistik membutuhkan banyak waktu sebelum produk sampai di tempat pemasaran.

Menurut Bowersox (2002)
Logistik merupakan sekumpulan subset yang berada dalam framework supply chain. Logistik adalah proses pertambahan nilai dengan mengatur posisi dan waktu inventory, dimana ada kombinasi antara firm’s order management, inventory, transportation, warehousing, material handling, dan packaging sebagai sesuatu yang terintegrasi dalam sebuah jaringan fasilitas.

4. Perbedaan Manajemen Logistik dan SCM
Tidak ada perbedaan yang menyolok antara SCM dan Manajemen Logistik, hanya saja SCM dipandang sebagai logistik bagian luar perusahaan yang meliputi pelanggan dan supplier. Manajemen logistik lebih memfokuskan pada pengoptimalan rencana orientasi dan kerangka kerja berupa pembuatan rencana tunggal untuk aliran produk dan informasi di dalam perusahaan, sedangkan SCM merasa tidak cukup hanya integrasi bagian dalam. Tujuan utama SCM adalah mengurangi atau bahkan menghilangkan persediaan buffer yang terlibat antara beberapa departemen dalam satu rantai dengan cara saling membagi informasi mengenai demand dan persediaan yang ada sekarang.

II. Mengapa SCM

Konsep supply chain pada hakekatnya mempunyai daya tarik karena rencana bisnis baru yang ditawarkan berpotensi untuk meningkatkan pelayanan pelanggan. Konsep tersebut juga menyebabkan efisiensi dan efektifitas jaringan bisnis yang dapat meningkatkan efisiensi dengan mengurangi duplikasi dan pekerjaan yang tidak produktif.

1. Symptom dari tidak baiknya Supply Chain

Supply chain menjadikan satu sama lain menjadi tergantung karena adanya kontrak-kontrak yang harus dipatuhi bersama. Tiap perusahaan yang berada dalam satu rantai dan terintegrasi tidak dapat memutuskan segala sesuatu secara sepihak, segala sesuatunya harus dibicarakan bersama. Hal ini dapat menyebabkan sulit mengembangkan perusahaan dengan maksimal sesuai dengan keinginan.

Penerapan strategi bisnis ini sangat sulit karena ada beberapa hal yang harus dimiliki sebagai modal utama melakukan bisnis dengan strategi ini, yaitu
1. Leadership
Untuk mencapai keberhasilan dalam suatu supply chain diperlukaan leadership. Hal ini diperlukan karena kolaborasi akan terlaksana apabila ada peran leadership.
2. Loyal/ sejajar
Hampir pada setiap keadaan perusahaan yang berpartisipasi dalam suatu supply chain juga secara simultan terikat dalam segala rencana.
3. Pengukuran
Dalam bisnis individu, balance sheet dan income statement harus dibuat dalam keseragaman prinsip akuntansi. Dalam supply chain tidak ada keseragaman dalam performansi.
4. Resiko/ Berbagi keuntungan
Dalam hal ini kerugian atau keuntungan tidak hanya jatuh pada satu perusahaan saja, akan tetapi seluruh perusahaan yang terlibat ikut menanggung resikonya baik rugi maupun untung.
5. Kesuksesan yang terbatas
Supply chain tidak mematok kesuksesan untuk jangka waktu yang panjang.
6. Anti trust
Antitrust menentang kerjasama supply chain atas dasar doktrin kompetisi perdagangan bebas.
7. Consumer value concern
Hasil efisiensi supply chain tidak menguntungkan semua orang.
Ada 2 kritik mengenai supply chain, yang pertamamelaksanakan efisiensi tidak tidak ada garansi untuk harga eceran yang rendah. Yang kedua, pelaksanaan efisiensi tidak selalu pantas dimasyarakat.

2. Indikator Kinerja yang dapat diperbaiki dengan mengembangkan system SCM

Dengan mengembangkan sistem supply chain maka kinerja yang dapat diperbaiki dapat melalui fasilitas, inventori, transportasi dan informasi. Sehingga performansi sistem SCM dianggap sukses tidaknya dapat dilihat dari harga, mutu barang serta layanan (kecepatan, kemudahan, dsb.)

Berikut ini adalah supply chain decision – making frameworknya,

Gambar 2. Supply chain decision-making framework

Dengan terbukanya pasar bebas yang mendunia (globalisasi) maka terjadi begitu banyak dan begitu ketat persaingan antar perusahaan dan antar produk. Sehingga perusahaan dituntut untuk merancang, mengelola dan mengoptimalkan supply chain. Terdapat beberapa permasalahan yang terjadi bila perusahaan tidak mengelola dan mengoptimalkan supply chain, dan permasalahan ini tentunya akan berakibat tidak baik terhadap konsumen yaitu :
• Harga barang menjadi tidak kompetitif dan sulit ditemukan oleh konsumen
• Pilihan sumber pembelian tidak banyak
• Mutu barang tidak dapat dijamin dengan baik
• Penyediaan barang menjadi tidak cepat

Dengan mengembangkan dan mengoptimalkan SCM, maka permasalahan-permasalahan yang disebutkan diatas dapat diperbaiki. Bagi para konsumen, ini merupakan keuntungan karena konsumen mendapatkan :
• Harga barang yang lebih kompetitif dan mudah ditemukan
• Pilihan sumber pembelian yang lebih banyak
• Mutu barang yang lebih baik
• Penyediaan barang yang lebih cepat

III. Model umum Supply Chain

Secara umum, model supply chain digambarkan seperti pada gambar berikut ini :

Gambar 3 Model Umum Supply Chain

Berdasarkan gambar diatas, dapat dilihat bahwa dalam supply chain tersebut terdapat beberapa pemain utama yang merupakan perusahaan-perusahaan yang mempunyai kepentingan yang sama, yaitu :
• Suppliers
• Manufacturer
• Distributors
• Retailer outlets
• customer
IV. Kajian Pull-Based VS Push-Based Supply Chain

Jaringan rantai pasok dikategorikan menjadi dua, yaitu:
Push-based Supply Chain
Dalam Push-based Supply Chain, keputusan produksi berdasarkan peramalan jangka panjang. Manufaktur menggunakan penerimaan pesanan dari gudang pengecer untuk meramalkan permintaan konsumen. Hal ini berarti memakan banyak waktu bagi Push-based Supply Chain untuk bereaksi dalam perubahan pasar. Ini dapat berperan pada :
• Ketidakmampuan menemukan perubahan pola permintaan
• Keusangan pada inventori rantai pasok sebagai permintaan pada produk yang pasti hilang.

Peningkatan variabilitas dalam permintaan pelanggan berperan untuk :
• Kelebihan inventori karena kebutuhan stok penyimpanan yang besar
• Perluasan dan variabel produksi yang lebih
• Penolakan tingkat pelayanan
• Keusangan produk

Gambar 4 kajian push – based strategy

Pull-based Supply Chain
Dalam Pull-based Supply Chain, produksi dikirimkan karena permintaan sehingga dikoordinasikan dengan permintaan pelanggan yang aktual dari pada peramalan. Untuk tujuan ini, rantai pasok menggunakan mekanisme arus informasi yang cepat untuk mengirimkan informasi tentang permintaan pelanggan ke fasilitas manufaktur. Ini berperan untuk :
 Pengurangan dalam peran waktu yang dicapai melalui kemampuan mengantisipasi dengan baik datangnya pesanan dari pengecer.
 Pengurangan dalam inventori pada pengecer sejak tingkat inventori pada fasilitas-fasilitas ini meningkat dengan peran waktu.
 Pengurangan dalam variabilitas sistem dan variabilitas yang dihadapi manufaktur karena reduksi lead time.
 Pengurangan inventori pada manufaktur karena reduksi variabilitas.

Pull-based Supply Chain sering kali sulit untuk diimplementasikan ketika lead time sangat lama, ini berarti tidak praktis untuk bereaksi pada informasi permintaan. Selain itu, sistem ini juga sulit diperoleh keuntungan skala ekonomi dalam manufaktur dan transportasi karena sistem tidak direncanakan lebih jauh dalam waktu.

V. Strategi SCM

Strategi competitive dari sebuah perusahaan tergantung dari kebutuhan konsumen yang bertujuan untuk memberikan kepuasan terhadap konsumen melalui produk dan pelayanan. Hubungan antara competitive dan supply chain strategy dapat dilihat dari perubahan nilai tambah. Pertambahan nilai dimulai dari pengembangan produk baru. Marketing dan sales menghasilkan demand. Marketing juga menghasilkan input balik ke new produk development.

Gambar 5 the Value Chain in a company

Strategi dari supply chain termasuk didalamnya supplier strategy, operation strategy dan logistic strategy. Keputusan termasuk didalamnya inventory, transportation, operations facilities dan aliran informasi dalam suplly chain merupakan bagian dari strategi supply chain.

Gambar 6 Fit competitive and Functional Strategies

Untuk mengetahui bagaimana sebuah perusahaan dapat meningkatkan performansi supply chain management dengan tujuan responsivness dan efficiency, maka dapat terukur dari 4 paramater performansi supply chain, yaitu :
Facilities; merupakan jaringan supply chain dimana produk disimpan, di rakit atau di buat, dimana fungsi dari falitas mempunyai peranan yang cukup besar dalam performansi supply chain.
Inventory; persediaan yang dimaksud adalah raw material, barang setengah jadi ataupun barang jadi. Jika kebijakan inventory berubah maka hal ini akan merubah keseluruhan performansi efficiency dan effectiveness dari supply chain
Transportation; transportasi dibutuhkan untuk menghantarkan barang dari point of origin ke point of destination
Information; informasi ini terdiri dari data dan analisis dari fasilitas, inventory, transportasi dan konsumen yang ada para supply chain.

Goal dari supply chain merupakan customer service goal, ada 3 strategi dalam mencapai customer service yaitu inventory strategy, transport strategy dan location strategy :
1. Location strategy
Strategi penentuan lokasi menjadi salah satu faktor yang menentukan struktur dari sebuah supply chain. Dasar keputusan pemilihan lokasi ditujukan untuk memilih lokasi yang cocok untuk mengukur skala ekonomis atau untuk decentralize untuk lebih merespon terhadap keinginan konsumen.
2. Inventory strategy
Inventory di perlukan dalam supply chain karena adanya ketidak samaan antara supply dan demand.

3. Transport strategy
Transportasi memindahkan produk dari stage satu ke stage yang lainnya dalam supply chain. Transportasi mempunyai pengaruh yang besar baik terhadap responsiveness maupun efficiency

Gambar 7 Supply chain strategy

Konstribusi Supply Chain Terhadap Strategi bisnis

Gambar 8 Konstribusi Supply Chain Terhadap Strategi bisnis
(sumber : http://www.prtm.com)

Oleh: mirarahayu | Juni 29, 2009

SOLVING THE MULTI-DEPOT LOCATION-ROUTING

SOLVING THE MULTI-DEPOT LOCATIONROUTING
PROBLEM WITH LAGRANGIAN
RELAXATION
Zeynep Özyurt1 and Deniz Aksen2
1Industrial Engineering Deparment, Koç University; 2College of Administrative Sciences
and Economics, Koç University, Rumelifeneri yolu 34450 Sariyer, İstanbul, Türkiye
Abstract: Multi-depot Location-Routing Problem (MDLRP) is about finding the optimal
number and locations of depots while allocating customers to depots and
determining vehicle routes to visit all customers. In this study we propose a
nested Lagrangian relaxation-based method for the discrete uncapacitated
MDLRP. An outer Lagrangian relaxation embedded in subgradient
optimization decomposes the parent problem into two subproblems. The first
subproblem is a facility location-like problem. It is solved to optimality with
Cplex 9.0. The second one resembles a capacitated and degree constrained
minimum spanning forest problem, which is tackled with an augmented
Lagrangian relaxation. The solution of the first subproblem reveals a depot
location plan. As soon as a new distinct location plan is found in the course of
the subgradient iterations, a tabu search algorithm is triggered to solve the
multi-depot vehicle routing problem associated with that plan, and a feasible
solution to the parent problem is obtained. Its objective value is checked
against the current upper bound on the parent problem’s true optimal objective
value. The performance of the proposed method has been observed on a
number of test problems, and the results have been tabulated.
Key words: location routing; Lagrangian relaxation; heuristics; tabu search.

Oleh: mirarahayu | Juni 29, 2009

Lowongan !!!!!

Kesempatan ini akan diberikan kepada Semua orang tanpa pengecualian.
Anda hanya perlu membaca dan mengerti.

LOWONGAN UNTUK POSISI;

a. Anggota Syurga Dari Awal.
b. Anggota Neraka Dari Awal.
c. Anggota Neraka temporer Kemudian ditransfer ke Syurga.

I. EMPAT KEUNTUNGAN LUMAYAN (untuk posisi a ):
a. Nikmat kubur.
b. Perlindungan di Padang Mahsyar.
c. Keselamatan Meniti Sirath-al mustaqim.
d. Syurga yang kekal abadi.

WAKTU WAWANCARA/INTERVIEW
Kapan saja secara adhoc mulai dari saat membaca iklan ini.

LOKASI WAWANCARA/INTERVIEW:
Dalam kubur (alam barzakh).

SYARAT:

– Tidak diperlukan ijazah
– Tidak diperlukan pangkat atau sertifikat.
– Tidak perlu bawa harta(yang banyak)
– Tidak perlu berwajah cantik,ganteng,berbadan tegap atau seksi’

Hanya diperlukan bawa dokumen asli Iman dan Amal.

Yang melakukan interview;
Mungkar dan Nangkir.

INI …NIH BOCORAN PERTANYAAN INTERVIEW (6 Soal)
1. Siapa Tuhan engkau?
2. Apa Agama engkau?
3. Siapa nabi engkau?
4. Apa Kitab engkau?
5. Dimana Kiblat engkau?
6. Siapa Saudara engkau?

CARA MELAMAR:
Tak perlu kemana-mana dan bersusah payah, Anda hanya menunggu jemputan yang
berkaliber untuk menjemput anda. Ia akan menjemput anda kapan dan dimana
saja (mungkin sebentar lagi), namanya Izrail.

TIPS UNTUK BERHASIL DALAM WAWANCARA TERTUTUP INI:
Hadist Hasan yang diriwayatkan oleh Ahmad Hanbal, yang bermaksud;

Sabda Rasululloh SAW:

“Sesungguhnya bila jenazah seseorang diletakkan di dalam kubur, sesungguhnya jenazah itu mendengar suara sandal orang-orang yang mengantarnya ke kuburan pada saat mereka meninggalkan tempat itu. Jika mayat itu seorang muslim, maka sholat yang dilakukannya ketika beliau masih hidup akan diletakkan di kepalanya, puasanya diletakkan di sebelah kanannya, zakatnya diletakkan di sebelah kirinya dan amalan kebajikan sedekah, silaturrohim, masalah kebajikan dan ihsan diletakkan di ujung kedua kakinya. Ia akan didatangi malaikat dari bagian kepala, maka sholat itu berkata kepada malaikat: dari bagianku tidak ada jalan masuk. Kemudian malaikat berpindah ke sebelah kanan, maka puasa berkata kepadanya: dari bagianku tidak ada jalan masuk. Kemudian malaikat berpindah ke sebelah kiri, maka zakat berkata kepadanya: dari bagianku tidak ada jalan masuk. Kemudian dia didatangi dari arah ujung kakinya dan berkatalah amal kebajikan: di bahagianku tidak ada jalan masuk.Maka malaikat berkata kepadanya: Duduklah kamu. Kepadanya (mayat) diperlihatkan matahari yang sudah mulai terbenam, lalu malaikat bertanya kepada mayat itu: Apakah pandangan kamu tentang seorang laki-laki (Muhammad) yang kamu dahulu sentiasa berbicara tentang dia, dan Dan bagaimana kesaksian kamu kepanya? Maka mayat itu berkata: Tinggalkan aku sebentar, aku hendak sembahyang. Malaikat berkata: sesungguhnya engkau akan mengerjakan sholat (boleh saja) tetapi jawab dahulu apa yang kami tanyakan ini. Apakah pandangan kamu tentang seorang laki-laki (Muhammad) yang dahulu kamu selalu berbicara tentang dia; dan bagaimana kesaksian kamu kepadanya? Maka berkata mayat itu: Laki-laki itu Nabi Muhammad saw dan aku bersaksi
bahwa nabi Muhammad saw itu ialah utusan Alloh yang membawa kebenaran dari Alloh SWT. Maka malaikat berkata kepada mayat itu; Demikianlah kamu
dihidupkan dan begitu juga kamu dimatikan dan dengan demikian juga kamu dibangkitkan semula di akhirat, Insya Alloh. Kemudian dibukakan baginya satu pintu disyurga, maka dikatakan kepadanya itulah tempat kamu dan itulah janji Alloh pada kamu dan kamu akan berada di dalamnya. Maka bertambah
gembiralah mayat itu. Kemudian dilapangkan kuburnya seluas 70 hasta dan disinari cahaya baginya”

Wah……Nampaknya pertahanan kita perlu kuat nich………dari semua penjuru (kepala, kanan, kiri dan ujung kaki). !

II. Untuk posisi (b) tidak diperlukan belajar, gak usah berpikir, hiduplah sesuka anda…..Wallahu- a’lam.

III. Untuk posisi (c) hanya diperlukan ibadah ala kadarnya (asal ucapin kalimat Tauhit), dan hidup sesuka anda…..Wallahu-a’lam

Oleh: mirarahayu | Juni 29, 2009

Ghuzhul Fikri

“Perang pemikiran”, pernah denger istilah itu ngga???, yang pastinya sih, kalo denger kata perang,identik ma gencatan senjata kaya gitu. Iya sih,, tapi yang satu ini tuh bukan perang yang biasa kita kenal selama ini or perang secara fisik man !!!, tapi yang diperanginya tuh pikiran qta. kerennya sih cuci otak kali ye. Yang jadi pertanyaan, napa mesti ada perang pemikiran segala?, emang itu tuh tujuannya buat ngapain sih?. Ngga ada kerjaan amat, sampe pikiran juga mesti di perangi segala.

Em…m..m.. iya sih, kalo dipikir sekilas, aneh aja ada istilah perang pemikiran segala. Tapi tau ngga, sebetulnya ini tuh salah satu cara yang digencarkan kaum nasrani dan yahudi, buat nyerang islam. Wuih… serem amat, lagian kok mereka sampe bisa mikir segitunya ya, buat nyerang umat islam. Wah, gimana ceritanya tuh bisa jadi kaya gitu?. Mo tau, gini ceritanya :

Dulu tuh ada seorang anak Yahudi yang namanya Golzier. Dia tu disekolahin ma ortunya di sekolah Islam Mesir, yang paling terkenal. Tau kan nama sekolah itu??, yup bener banget, namanya Al-Azhar. Golzier di sekolahin disana 19 tahun. Kebayang ya?, qta aja yang nota bene Islam, ngga sekolah di pesantren segitu lamanya. Jangankan ampe belasan taun, ikutan kajian Islam yang ada di sekolah, di kampus or di mesjid aja, bawaannya BT mulu. Iya man, bener banget tuh!!!, kuatan nonton sepak bola ampe pagi, or ngerumpi kali ye, kalo buat CW, dari pada ngedengerin ceramah seputar Islam gitu. Baru 5 menit aja, dah 5 watt, alias teler. Wah kalo generasi penerus Islam nya, kaya gini nih, gimana ntar nya???. Padahal tau ngga dulu Rosululloh pernah nanya ma para sahabat, “Taukah siapa umat yang aku banggakan?”. Para sahabat menjawab “kami ya Rosululloh”. (wajarlah mereka pada PD, soalnya pengorbanan mereka tuh emang keren abis, beda banget ama qta, ya ngga sih??? Hehehe…). ternyata, jawaban Rosululloh, “Umat yang aku banggakan itu adalah umat akhir jaman”. Wuih siapa yang ngga bangga gitu lho, umat yang dibanggakan ma Rosululoh itu adalah umat akhir jaman man!!!. Wong para sahabat aja sampe pada iri ma umat akhir jaman. Tapi kalo kita ngaca, emm.. pantes ngga sih kalo umat akhir jaman yang di banggain ma Rosululloh tuh, kualitasnya kaya gini. Hm..m…m…, sangat diragagukan sekali man!!!. Ya, itu sih sedikit renungan buat kita, biar kita nyadar dikit. Hehehe..nyadar gede juga ngga papa.
Eh sorry, jadi ngelantur kemana-mana, qta lanjutin lagi ok!!!. Nah Golzier itu, napa disekolahin di Al-Azhar, tujuannya buat nyari titik kelemahan umat Islam. Soalnya, kalo umat Islam di serang secara fisik, umat islam masih tetep bisa menang, sekalipun kaga ada senjata. Kok bisa???, iya, soalnya umat Islam tuh punya satu doktrin tentang jihad. Salah satu buktinya adalah hancurnya negara Unisoviet. Waktu itu gara2 nyerang Aljazair, yang seharinya digempur ma 40.000 bom (wuih, gila bener). Sekalipun di gempur ama segitu banyaknya bom, Aljazair ampe sekarang masih tetep ada. Sedangkan Unisoviet sendiri, jadi pecah menjadi benerapa negara. Soalnya kaga ada yang mo tanggung jawab buat ngebayarin utang bekas bom, yang dipake nyerang ke Al-jazair (hehehe…, kacian de lo).

Akhirnya Golzier nemuin kalo kekuatan Islam tuh ada di Al-Quran. Cuman ngga mungkin banget kalo semua Al-quran tuh dimusnahin. Lagian sekalinya musnah, masih ada orang2 penghafal al-quran (Hafidz). Dan Golzier sendiri yakin kalo kelestarian Al-Quran tuh, dijaga ama Alloh. Nah kalo Al-Quran nya kaga bisa dimusnahin, mereka mikir, gimana caranya, biar umat Islam sendiri emang jauh dari Al-quran.

Dari sini, golzier membuat suatu strategi untuk menjauhkan Al-Quran dari umat islam. Tapi kalo dipikir-pikir, napa ngga di murtad-in sekalian aja???, wah kalo langsung di murtad-in sih keliatan banget ma umat islamnya, dan pasti rencana untuk menghancurkan umat islam pasti ketauan deh. Makanya Golzier bikin strategi, gimana caranya nyerang umat Islam, tapi umat Islamnya ngga nyadar, dan bahkan umat Islamnya sendiri tanpa sadar, seneng di perangin ma strategi mereka, alias enjoy aja. (hm..m..m.. napa kita sebagai umat Islam bisa dibodohin kaya gitu ya???)

Nah ini yang disebut ma perang pemikiran or gozwul fikri tea. Jadi output dari perang ini adalah, gimana cara nya :
 umat Islam sendiri jauh dengan Al-quran,
 ngerasa bt kalo ada seputar kajian2 islam ,
 aneh or alergi or night mare banget ma istilah2 islam (contohnya kaya kata2 jamaah, baiat, jihad, hijrah, de el el),
 ngerasa berat buat ngejalanin ajaran islam,
 terkesan ngga gaul kalo ngikutin Islam,
 pengen bebas semau gue alias ngga diatur ma Al-Quran
 de el el.

Sebenernya man!!!, ada beberapa program Gozwul fikri, yang terkenal ma 4F plus 5S (jadi inget ma 4 sehat 5 sempurna, hehehe…), yaitu Food, Fun, Fashion, ama Film. Yang S nya yaitu Sex, Smoke, Sains, Sport, ama Song.
 Food
Lewat makanan, apa hubungannya?. Gini, kadang tanpa sadar qta ngerasa bangga kalo makan makanan yang berlabel luar negeri. Contohnya kaya Mc D, KFC, Pizza Hut, de el el. Padahal tau ngga sebagian keuntungan yang mereka dapet tuh sebenernya di gunain buat nyerang Islam. Lagian makanan yang mereka saji-in juga, sebenernya tuh junk food (sampah), alias ngga baik buat kesehatan, dan katanya bisa nurunin IQ secara drastis. Ngga percaya, coba deh searching di google.
 Fun
Nah kalo yang ini, siapa sih yang ngga pengen kalo masa remajanya tuh dihabisin sama hal2 yang fun, ngga mau terikat ma aturan2. Ya kan?. Makanya lebih ramean bioskop jalan2 di mall, n’ chatting yang ngga karuan, dari pada tempat kajian Islam. Kalo di bioskop, qta tahan ampe 2-3 jam, coba masuk mesjid, wuih dah ngga karuan tuh, BT mulu. Udah gitu bawaannya ngantuk, saking BT, garing, plus boring. Wah, lengkap sudah penderitaan.
 Fashion
kalo masalah ini, biasanya nyerang kaum hawa. Gimana engga, biasanya mereka ngga PD, kalo bajunya tuh sesuai ma syariat Islam, alias kudu pake Jilbab. Senengnya tuh pengen keliatan seksi, biar ada yang naksir kali ye??? (wah parah banget tuh !!!). Padahal sebenernya napa di Islam mewajiibkan pake Jilbab itu, biar kaum hawa itu lebih terjaga dari mata-mata buaya (maaf, yang ngerasa buaya, jangan kesinggung ya!!! Hehehe… Emang bener kan?). kalo sekarang, sekalinya banyak yang pake kerudung, tapi yang di cekek tea, terus bajunya yang ngetat abis (bikin orang yang ngeliat, jadi sesek nafas), dah gitu kalo turun dari angkot, baju belakangnya tuh ditarik-tarik (aneh !!!). padahal dihadapan Alloh itu mereka, berpakaian tetapi telanjang. WeY, kaum hawa sadar dong!!!, ngga malu tuh ma Alloh, dibilangin telanjang?.

 Film
Ini nih yang segaja nyuci otak kita. Napa bisa man? iya, biasanya tingkah laku or gaya hidup anak sekarang tuh, nyontonya dari film2. Jadi kalo orang yang komitmen ma Islam, pasti di bilangiin ketinggalan jaman, kuper, culun, soalnya emang ngga ngikutin tren yang ada saat itu. Makanya wajar aja kalo film “Buruan Cium Gue” langsung di berantas (emang hama, sampe diberantas segala). Dari judulnya aja sebenernya dah keliatan ngarah2 ke zina. Dah gitu ada film “Virgin” de el el , wah pokoknya ancur deh dunia.
Itu tadi ngebahas tentang yang 4F. Sekarang qta ngebahas, apa yang 5S nya. Ok, masih siap, ato dah teler (hehehe…, sabar man dikit lagi kok)
 Sex
yang ini nih dah gawat banget man. Kalo dulu pas taun 90-an. Ngedenger orang yang zina or kumpul kebo tuh, tabu banget. Tapi kalo jaman sekarang, kayanya orang yang MBA (Married By Accident) tuh dah ngga aneh lagi, bahkan mungkin dah di bilang wajar (wah, Na’udzubillahi min dzalik, banget!!!). Tau kan seleb yang sekarang gi naek daun (emang ulet?), pas ketauan ngehamilin seseorang tuh, gampang, tinggal nikahin aja, beres deh (coba kalo aturannya pake syareat islam, orang yang zina tu diapaincoba???). Padahal kan kalo di islam, jangan kan nyampe zina, perbuatan2 yang menjurus kearah sana aja, dilarang (coba deh buka QS. Al-Israa, 17 : 32). Berarti kalo sebuah larangan, terus ma qta di kerjain, hukumnya apa?
 Smoke
Ngerokok, jangan kan laki2, yang namanya wanita sekarang tuh bayak banget yang biasa ngerokok, dengan alasan gaul. Padahal kalo di pikir2, bener gitu kalo yang gitu tuh gaul. Padahal jelas2 di bungkus rokoknya itu di tulis-in “Merokok dapat merusak kesehatan”, terus dah gitu bisa nimbulin banyak penyakit, dan katanya bisa bikin seseorang impoten, nah lho!!!.
 Sains
Gozwul fikri juga nyerang orang2 yang seneng pake akal or ber-bau2 sains gitu. Contohnya kaya teori Darwin, yang bilang kalo manusia itu berasal dari monyet. Enak aja mereka bilang gitu. Padahal kalo secara islam pembentukan manusia itu sangat mulia, coba deh di buka di QS. Al Mu’minun, 23: 12-14.
 Sport
Siapa sih yang ngga suka sepakbola, ato basket misalnya. Kadang orang rela b’gadang, cuman buat nonton sepak bola. Padahal coba kalo b’gadangnnya tuh di pake buat tahajud (tapi jarang kali ye?). terus buat nonton pertandingannya langsung tuh, sampe rela ngelarin uang yang ngga kecil jumlahnya.
 Song
banyak banget lagu2 romantis gitu, yang ngebuat orang yang ngedengerinnya melayang2. Serasa dilagu itu adalah kisahnya dia. Pokoknya penghayatan ma lagunya itu bisa bikin seseorang meneteskan air mata, cie… Padahal kalo baca Al-Quran, tentang neraka, kayanya biasa aja tuh ngga sampei gimana gitu, penghayatannya. Beda banget ma lagu tadi. Lagian sekarang tuh banyak banget acara reality show, yang lagi nyari pemusik. Dan mereka tuh sampe rela antri daripagi, cuman buat ikutan audisi. Keren banget pengorbannya, tapi sayang pengorabanan mereka itu sia-sia di hadapan Alloh.

Itu beberapa program yang dilancarkan oleh kaum nasrani dan yahudi, dalam rangka menjauhkan umat Islam dari Al-Quran. Dan terbukti, strategi mereka berhasil. Dan kita sebagai objeknya pun merasa nyaman, dengan serangan yang mereka lancarkan kepada kita. Coba renungkan firman Alloh yang berbunyi :

“Orang-orang Yahudi dan nasrani tidak akan senang kepada kamu, hingga kamu mengikuti agama mereka, “sesungguhnya petunjuk Alloh, itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka, setelah pengetahuan itu datang kepadamu, maka Alloh tidak akan lagi menjadi Pelindung dan penolong mu”
(Q.S. Al-Baqoroh,2 : 120)

“Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan Ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan hawa nafsu yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing. Jikakamu menghalaunya dijuulurkan lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpaman orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berpikir ”
(Q.S. Al-A’faaf, 7 :176)
Wahai diriku dan sodaraku, ayat itu adalah salah satu teguran buat kita, apakah memang diri kita seperti itu atau tidak?. Karena sebetulnya Al-quran itu ibaratnya sebagai cermin. Ketika kita bercermin, maka itulah diri kita, bukan orang lain. Ayat tadi adalah salah satu wujud kasih sayang Alloh kepada kita, bukan berarti Alloh benci kepada kita. Di ayat itu Alloh hendak menyadarkan kita agar kita kembali kepada Alloh. Siap untuk taat pada Aturan Alloh (Al-Quran). Karena dengan al-quran lah kita bisa menjadi seorang yang mulia dihadapan Alloh.
Wahai diriku dan sodaraku, kalo kita tidak ingin menjadi sasaran kaum yahudi dan nasrani, maka jadikanlah Al-Quran sebagai pedoman hidup kita, bukan hawa nafsu. Karena sebetulnya ketika kita bilang, “tidak ingin terikat”, maka sebetulnya secara tidak langsung, kita terikat dengan hawa nafsu.Wahai diriku dan sodaraku, jihad yang terbesar itu adalah melawan hawa nafsu. Dan orang yang terkuat itu adalah orang yang bisa mengalahkan hawa nafsu.
Wahai diriku dan sodaraku, memang hawa nafsu itu tidak bisa di hilangkan, tapi bisa di kendalikan. Hawa nafsu itu ibaratnya seperti kuda. Ketika kuda bisa dikendalikan, maka kuda bisa kita manfaatkan sebagai salah satu alat trasportasi. Tapi ketika kuda yang liar (tidak bisa dikendalikan), seperti kuda rodeo, maka, justru kuda itu malah ingin mencelakakan orang yang menungganginya. Hawa nafsu yang baik akan menghantarkan kita pada ridhonya Alloh, sedangkan hawa nafsu yang mengajak kita kepada kemaksiatan, akan menjerumuskan kita kedalam lembah kenistaan, yaitu neraka. Naudzubillahi min dzalik.
“Alloh tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala(dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa dari kejahatan yang dikerjakannya. (mereka berdoa), “Ya Robb kami,janganlah Engkau hukum kami jika kami tersalah,. Ya, Robb kami, janganlah Engkau beban kan kepada kami beban yang berat, sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Robb kami , janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Berimaaflah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah pemolong kami. Maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir””
(Q.S. Al-Baqoroh, 2 : 286)

Oleh: mirarahayu | Juni 20, 2009

Urutan Lengkap Khalifah dalam Lintasan Sejarah

Urutan Lengkap Khalifah dalam Lintasan Sejarah

Katagori : Kajian Siyasah/Khilafah
Oleh : Redaksi 21 Dec 2004 – 1:20 am

Rasulullah SAW telah memerintahkan kepada kaum muslimin agar mereka mengangkat seorang khalifah setelah beliau SAW wafat, yang dibai’at dengan bai’at syar’iy untuk memerintahkan kaum muslimin berdasarkan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah SAW. Menegakkan syari’at Allah, dan berjihad bersama kaum muslimin melawan musuh-musuh Allah.

Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya tidak ada Nabi setelah aku, dan akan ada para khalifah, dan banyak (jumlahnya).” para sahabat bertanya, “Apa yang engkau perintahkan kepada kami? Nabi SAW menjawab, “penuhilah bai’at yang pertama, dan yang pertama. Dan Allah akan bertanya kepada mereka apa-apa yang mereka pimpin.” (HR. MUSLIM) Rasulullah SAW berwasiat kepada kaum muslimin, agar jangan sampai ada masa tanpa adanya khalifah (yang memimpin kaum muslimin). Jika hal ini terjadi, dengan tiadanya seorang khalifah, maka wajib bagi kaum muslimin berupaya mengangkat khalifah yang baru, meskipun hal itu berakibat pada kematian.

Sabda Rasulullah SAW : “Barang siapa mati dan dipundaknya tidak membai’at Seorang imam (khalifah), maka matinya (seperti) mati (dalam keadaan) jahiliyyah.”

Rasulullah SAW juga bersabda : “Jika kalian menyaksikan seorang khalifah, hendaklah kalian taat, walaupun (ia) memukul punggungmu. Sesungguhnya jika tidak ada khalifah, maka akan terjadi Kekacauan.” (HR. THABARANI)

sesungguhnya Allah SWT telah memerintahkan (kepada kita) untuk taat kepada khalifah. Allah berfirman : “Hai orang-orang yang berfirman, taatilah Allah dan taatilah Rasul(Nya), dan ulil amri diantara kamu.” (AN NISA :59)

Kaum muslimin telah menjaga wasiat Rasulullah SAW tersebut sepanjang 13 abad. Selama interval waktu itu, kaum muslimin tidak pernah menyaksikan suatu kehidupan tanpa ada (dipimpin) seorang khalifah yang mengatur urusan-urusan mereka. Ketika seorang khalifah meninggal atau diganti, ahlul halli wal ‘aqdi segera mencari, memilih, dan menentukan pengganti khalifah terdahulu. Hal ini terus berlangsung pada masa-masa islam (saat itu). Setiap masa, kaum muslimin senantiasa menyaksikan bai’at kepada khalifah atas dasar taat. Ini dimulai sejak masa Khulafaur Rasyidin hingga periode para Khalifah dari Dinasti ‘Utsmaniyyah.

Kaum muslimin mengetahui bahwa khalifah pertama dalam sejarah Islam adalah Abu Bakar ra, akan tetapi mayoritas kaum muslimin saat ini, tidak mengetaui bahwa Sultan ‘Abdul Majid II adalah khalifah terakhir yang dimiliki oleh umat Islam, pada masa lenyapnya Daulah Khilafah Islamiyyah akibat ulah Musthafa Kamal yang menghancurkan sistem kilafah dan meruntuhnya Dinasti ‘Utsmaniyyah. Fenomena initerjadi pada tanggal 27 Rajab 1342 H.

Dalam sejarah kaum muslimin hingga hari ini, pemerintah Islam di bawah institusi Khilafah Islamiah pernah dipimpin oleh 104 khalifah. Mereka (para khalifah) terdiri dari 5 orang khalifah dari khulafaur raasyidin, 14 khalifah dari dinasti Umayyah, 18 khalifah dari dinasti ‘Abbasiyyah, diikuti dari Bani Buwaih 8 orang khalifah, dan dari Bani Saljuk 11 orang khalifah. Dari sini pusat pemerintahan dipindahkan ke kairo, yang dilanjutkan oleh 18 orang khalifah. Setelah itu khalifah berpindah kepada Bani ‘Utsman. Dari Bani ini terdapat 30 orang khalifah. Umat masih mengetahui nama-nama para khulafaur rasyidin dibandingkan dengan yang lain. Walaupun mereka juga tidak lupa dengan Khalifah ‘Umar bin ‘Abd al-‘Aziz, Harun al-rasyid, Sultan ‘Abdul Majid, serta khalifah-khalifah yang masyur dikenal dalam sejarah.

Adapun nama-nama para khalifah pada masa khulafaur Rasyidin sebagai berikut:

1.Abu Bakar ash-Shiddiq ra (tahun 11-13 H/632-634 M)
2.’Umar bin khaththab ra (tahun 13-23 H/634-644 M)
3.’Utsman bin ‘Affan ra (tahun 23-35 H/644-656 M)
4.Ali bin Abi Thalib ra (tahun 35-40 H/656-661 M)
5.Al-Hasan bin Ali ra (tahun 40 H/661 M)

Setelah mereka, khalifah berpindah ke tangan Bani Umayyah yang berlangsung lebih dari 89 tahun. Khalifah pertama adalah Mu’awiyyah. Sedangkan khalifah terakhir adalah Marwan bin Muhammad bin Marwan bin Hakam. Masa kekuasaan mereka sebagai berikut:

1.Mu’awiyah bin Abi Sufyan (tahun 40-64 H/661-680 M)
2.Yazid bin Mu’awiyah (tahun 61-64 H/680-683 M)
3.Mu’awiyah bin Yazid (tahun 64-68 H/683-684 M)
4.Marwan bin Hakam (tahun 65-66 H/684-685 M)
5.’Abdul Malik bin Marwan (tahun 66-68 H/685-705 M)
6.Walid bin ‘Abdul Malik (tahun 86-97 H/705-715 M)
7.Sulaiman bin ‘Abdul Malik (tahun 97-99 H/715-717 M)
8.’Umar bin ‘Abdul ‘Aziz (tahun 99-102 H/717-720 M)
9.Yazid bin ‘Abdul Malik (tahun 102-106 H/720-724 M)
10.Hisyam bin Abdul Malik (tahun 106-126 H/724-743 M)
11.Walid bin Yazid (tahun 126 H/744 M)
12.Yazid bin Walid (tahun 127 H/744 M)
13.Ibrahim bin Walid (tahun 127 H/744 M)
14.Marwan bin Muhammad (tahun 127-133 H/744-750 M)

Setelah mereka, khalifah berpindah ke tangan Bani Umayyah yang berlangsung lebih dari 89 tahun. Khalifah pertama adalah Mu’awiyyah. Sedangkan khalifah terakhir adalah Marwan bin Muhammad bin Marwan bin Hakam. Masa kekuasaan mereka sebagai berikut:

I. Dari Bani ‘Abbas 1.Abul ‘Abbas al-Safaah (tahun 133-137 H/750-754 M)
2.Abu Ja’far al-Mansyur (tahun 137-159 H/754-775 M)
3.Al-Mahdi (tahun 159-169 H/775-785 M)
4.Al-Hadi (tahun 169-170 H/785-786 M)
5.Harun al-Rasyid (tahun 170-194 H/786-809 M)
6.Al-Amiin (tahun 194-198 H/809-813 M)
7.Al-Ma’mun (tahun 198-217 H/813-833 M)
8.Al-Mu’tashim Billah (tahun 218-228 H/833-842 M)
9.Al-Watsiq Billah (tahun 228-232 H/842-847 M)
10.Al-Mutawakil ‘Ala al-Allah (tahun 232-247 H/847-861 M)
11.Al-Muntashir Billah (tahun 247-248 H/861-862 M)
12.Al-Musta’in Billah (tahun 248-252 H/862-866 M)
13.Al-Mu’taz Billah (tahun 252-256 H/866-869 M)
14.Al-Muhtadi Billah (tahun 256-257 H/869-870 M)
15.Al-Mu’tamad ‘Ala al-Allah (tahun 257-279 H/870-892 M)
16.Al-Mu’tadla Billah (tahun 279-290 H/892-902 M)
17.Al-Muktafi Billah (tahun 290-296 H/902-908 M)
18.Al-Muqtadir Billah (tahun 296-320 H/908-932 M)

II. Dari Bani Buwaih 19.Al-Qahir Billah (tahun 320-323 H/932-934 M)
20.Al-Radli Billah (tahun 323-329 H/934-940 M)
21.Al-Muttaqi Lillah (tahun 329-333 H/940-944 M)
22.Al-Musaktafi al-Allah (tahun 333-335 H/944-946 M)
23.Al-Muthi’ Lillah (tahun 335-364 H/946-974 M)
24.Al-Thai’i Lillah (tahun 364-381 H/974-991 M)
25.Al-Qadir Billah (tahun 381-423 H/991-1031 M)
26.Al-Qa’im Bi Amrillah (tahun 423-468 H/1031-1075 M)

III. dari Bani Saljuk

27. Al Mu’tadi Biamrillah (tahun 468-487 H/1075-1094 M)
28. Al Mustadhhir Billah (tahun 487-512 H/1094-1118 M)
29. Al Mustarsyid Billah (tahun 512-530 H/1118-1135 M)
30. Al-Rasyid Billah (tahun 530-531 H/1135-1136 M)
31. Al Muqtafi Liamrillah (tahun 531-555 H/1136-1160)
32. Al Mustanjid Billah (tahun 555-566 H/1160-1170 M)
33. Al Mustadhi’u Biamrillah (tahun 566-576 H/1170-1180 M)
34. An Naashir Liddiinillah (tahun 576-622 H/1180-1225 M)
35. Adh Dhahir Biamrillah (tahun 622-623 H/1225-1226 M)
36. al Mustanshir Billah (tahun 623-640 H/1226-1242 M)
37. Al Mu’tashim Billah ( tahun 640-656 H/1242-1258 M)

Setelah itu kaum muslimin hidup selama 3,5 tahun tanpa seorang khalifah pun. Ini terjadi karena serangan orang-orang Tartar ke negeri-negeri Islam dan pusat kekhalifahan di Baghdad. Namun demikian, kaum muslimin di Mesir, pada masa dinasti Mamaluk tidak tinggal diam, dan berusaha mengembalikan kembali kekhilafahan. kemudian mereka membai’at Al Muntashir dari Bani Abbas. Ia adalah putra Khalifah al-Abbas al-Dhahir Biamrillah dan saudara laki-laki khalifah Al Mustanshir Billah, paman dari khalifah Al Mu’tashim Billah. Pusat pemerintahan dipindahkan lagi ke Mesir. Khalifah yang diangkat dari mereka ada 18 orang yaitu :

1. Al Mustanshir billah II (taun 660-661 H/1261-1262 M)
2. Al Haakim Biamrillah I ( tahun 661-701 H/1262-1302 M)
3. Al Mustakfi Billah I (tahun 701-732 H/1302-1334 M)
4. Al Watsiq Billah I (tahun 732-742 H/1334-1354 M)
5. Al Haakim Biamrillah II (tahun 742-753 H/1343-1354 M)
6. al Mu’tadlid Billah I (tahun 753-763 H/1354-1364 M)
7. Al Mutawakkil ‘Alallah I (tahun 763-785 H/1363-1386 M)
8. Al Watsir Billah II (tahun 785-788 H/1386-1389 M)
9. Al Mu’tashim (tahun 788-791 H/1389-1392 M)
10. Al Mutawakkil ‘Alallah II (tahun 791-808 H/1392-14-9 M)
11. Al Musta’in Billah (tahun 808-815 H/ 1409-1426 M)
12. Al Mu’tadlid Billah II (tahun 815-845 H/1416-1446 M)
13. Al Mustakfi Billah II (tahun 845-854 H/1446-1455 M)
14. Al Qa’im Biamrillah (tahun 754-859 H/1455-1460 M)
15. Al Mustanjid Billah (tahun 859-884 H/1460-1485 M)
16. Al Mutawakkil ‘Alallah (tahun 884-893 H/1485-1494 M)
17. al Mutamasik Billah (tahun 893-914 H/1494-1515 M)
18. Al Mutawakkil ‘Alallah OV (tahun 914-918 H/1515-1517 M)

Ketika daulah Islamiyah Bani Saljuk berakhir di anatolia, Kemudian muncul kekuasaan yang berasal dari Bani Utsman dengan pemimpinnya “Utsman bin Arthagherl sebagai khalifah pertama Bani Utsman, dan berakhir pada masa khalifah Bayazid II (918 H/1500 M) yang diganti oleh putranya Sultan Salim I. Kemuadian khalifah dinasti Abbasiyyah, yakni Al Mutawakkil “alallah diganti oleh Sultan Salim. Ia berhasil menyelamatkan kunci-kunci al-Haramain al-Syarifah. Dari dinasti Utsmaniyah ini telah berkuasa sebanyah 30 orang khalifah, yang berlangsung mulai dari abad keenam belas Masehi. nama-nama mereka adalah sebagai berikut:

1. Salim I (tahun 918-926 H/1517-1520 M)
2. Sulaiman al-Qanuni (tahun 916-974 H/1520-1566 M)
3. salim II (tahun 974-982 H/1566-1574 M)
4. Murad III (tahun 982-1003 H/1574-1595 M)
5. Muhammad III (tahun 1003-1012 H/1595-1603 M)
6. Ahmad I (tahun 1012-1026 H/1603-1617 M)
7. Musthafa I (tahun 1026-1027 H/1617-1618 M)
8. ‘Utsman II (tahun 1027-1031 H/1618-1622 M)
9. Musthafa I (tahun 1031-1032 H/1622-1623 M)
10. Murad IV (tahun 1032-1049 H/1623-1640 M)
11. Ibrahim I (tahun 1049-1058 H/1640-1648 M)
12. Mohammad IV (1058-1099 H/1648-1687 M)
13. Sulaiman II (tahun 1099-1102 H/1687-1691M)
14. Ahmad II (tahun 1102-1106 H/1691-1695 M)
15. Musthafa II (tahun 1106-1115 H/1695-1703 M)
16. Ahmad II (tahun 1115-1143 H/1703-1730 M)
17. Mahmud I (tahun 1143-1168/1730-1754 M)
18. “Utsman IlI (tahun 1168-1171 H/1754-1757 M)
19. Musthafa II (tahun 1171-1187H/1757-1774 M)
20. ‘Abdul Hamid (tahun 1187-1203 H/1774-1789 M)
21. Salim III (tahun 1203-1222 H/1789-1807 M)
22. Musthafa IV (tahun 1222-1223 H/1807-1808 M)
23. Mahmud II (tahun 1223-1255 H/1808-1839 M)
24. ‘Abdul Majid I (tahun 1255-1277 H/1839-1861 M)
25. “Abdul ‘Aziz I (tahun 1277-1293 H/1861-1876 M)
26. Murad V (tahun 1293-1293 H/1876-1876 M)
27. ‘Abdul Hamid II (tahun 1293-1328 H/1876-1909 M)
28. Muhammad Risyad V (tahun 1328-1339 H/1909-1918 M)
29. Muhammad Wahiddin II (tahun 1338-1340 H/1918-1922 M)
30. ‘Abdul Majid II (tahun 1340-1342 H/1922-1924 M)

Sekali lagi terjadi dalam sejarah kaum muslimin, hilangnya kekhalifahan. Sayangnya, kaum muslimin saat ini tidak terpengaruh, bahkan tidak peduli dengan runtuhnya kekhilafahan. Padahal menjaga kekhilafahan tergolong kewajiban yang sangat penting. Dengan lenyapnya institusi kekhilafahan, mengakibatkan goncangnya dunia Islam, dan memicu instabilitas di seluruh negeri Islam. Namun sangat disayangkan, tidak ada (pengaruh) apapun dalam diri umat, kecuali sebagian kecil saja.

Jika kaum muslimin pada saat terjadinya serangan pasukan Tartar ke negeri mereka, mereka sempat hidup selama 3,5 tahun tanpa ada khalifah, maka umat Islam saat ini, telah hidup selama lebih dari 75 tahun tanpa keberadaan seorang khalifah. Seandainya negara-negara Barat tidak menjajah dunia Islam, dan seandainya tidak ada penguasa-penguasa muslim bayaran, seandainya tidak ada pengaruh tsaqofah, peradaban, dan berbagai persepsi kehidupan yang dipaksakan oleh Barat terhadap kaum muslimin, sungguh kembalinya kekhilafahan itu akan jauh lebih mudah. Akan tetapi kehendak Allah berlaku bagi ciptaanNya dan menetapkan umat ini hidup pada masa yang cukup lama.

Umat Islam saat ini hendaknya mulai rindu dengan kehidupan mulia di bawah naungan Daulah Khilafah Islamiyah. Dan Insya Allah Daulah Khilafah itu akan berdiri. Sebagaimana sabda Rasulullah “…kemudian akan tegak Khilafah Rasyidah yang sesuai dengan manhaj Nabi”. Kami dalam hal ini tidak hanya yakin bahwa kekhilafahan akan tegak, lebih dari itu, kota Roma (sebagai pusat agama Nashrani) dapat ditaklukkan oleh kaum muslimin setelah dikalahkannya Konstantinopel yang sekarang menjadi Istambul. Begitu pula daratan Eropa, Amerika, dan Rusia akan dikalahkan. Kemudian Daulah Khilafah Islamiyah akan menguasai seluruh dunia setelah berdirinya pusat Daulah Khilafah. Sungguh hal ini dapat terwujud dengan Izin Allah. Kita akan menyaksikannya dalam waktu yang sangat dekat (Islamuda.com)

Oleh: mirarahayu | Juni 20, 2009

Ibrahim Bapak Tauhid (1)

Ibrahim Bapak Tauhid

MENGAPA ADA PEMUJAAN KEPADA MAKHLUK

Faktor-faktor yang menimbulkan penyembahan manusia kepada ciptaan adalah ketidaktahuannya dan tuntutan alami yang mutlak dalam dirinya yang pada umumnya mempercayai adanya suatu penyebab bagi setiap fenomena. Di satu sisi, manusia, yang dikuasai oleh kodrat alami, merasa harus mencari perlindungan di suatu tempat, pada suatu pewenang kuat yang mampu menciptakan sistem yang unik ini. Namun, di sisi lain, ketika ia bermaksud menempuh jalan ini tanpa tuntunan para nabi -pemandu Ilahi dan telah ditunjuk untuk menjamin kesempurnaan perjalanan rohani manusia- ia mencari perlindungan pada makhluk-makhluk tak-bernyawa, hewan, ataupun sesama manusia sebelum ia dapat mencapai tujuannya yang sesungguhnya, yakni Tuhan Yang Esa, dan mendapatkan jejak-jejak-Nya dengan mengamati tanda-tanda penciptaan dan mencari perlindungan pada-Nya. Oleh karena itu, ia membayangkan bahwa inilah obyek yang dicari-carinya. Melihat ini, para ilmuwan mengakui, setelah mengkaji kitab-kitab Ilahi dan cara bagaimana dakwah disampaikan kepada manusia oleh para nabi serta argumentasi mereka, bahwa tujuan para nabi bukanlah untuk meyakinkan manusia tentang adanya pencipta alam semesta. Sesungguhnya, peran mereka yang mendasar ialah membebaskan manusia dan cengkeraman syirik (politeisme) dan penyembahan berhala. Dengan kata lain, mereka datang untuk mengatakan kepada manusia, “Hai manusia! Allah yang kita semua percaya akan keberadaan-Nya adalah ini, bukan itu. Ia esa, bukan berbilang. Jangan memberikan status Allah kepada makhluk. Terimalah Allah sebagai Yang Esa. Jangan menerima mitra atau sekutu apa pun bagi-Nya.” Kalimat “tiada Tuhan selain Allah,” membuktikan apa yang kami katakan di atas. Inilah titik mula dakwah Nabi Muhammad. Maksud kalimat ini ialah, tak ada sesuatu yang patut disembah selain Allah, dan ini berarti bahwa adanya Pencipta telah merupakan fakta yang diakui, sehingga manusia dapat diajak untuk menerima kemaha-esaan-Nya. Kalimat ini menunjukkan bahwa di mata manusia zaman itu, bagian pertama -adanya Tuhan yang menguasai alam semesta- bukanlah hal yang perlu dipertengkarkan. Disamping itu, kajian terhadap kisah-kisah Qur’ani dan percakapan para nabi dengan umat zamannya memperjelas masalah ini. [Catatan kaki: Tetapi, bagaimana konsepsi mereka tentang berhala? Apakah mereka memandangnya patut disembah dan hanya untuk menjadi perantara, ataukah mereka berpikir bahwa berhala-berhala itu pun mempunyai kekuasaan seperti Allah? Masalah ini berada di luar bahasan kita sekarang, walaupun pandangan pertama itu kuat dan terbukti.] TEMPAT KELAHIRAN NABI IBRAHIM Jawara Tauhid ini dilahirkan di lingkungan gelap penyembahan berhala dan penyembahan manusia. Manusia menundukkan kerendahan hati kepada berhala yang dibuat dengan tangannya sendiri, atau kepada bintang-bintang. Dalam situasi ini, hal yang mengangkat kedudukan Ibrahim dan menyukseskan usahanya adalah kesabaran dan ketabahannya. Tempat kelahiran pembawa panji tauhid ini adalah Babilon. Para sejarawan telah menyatakan negeri itu sebagai salah satu dari tujuh keajaiban dunia. Mereka telah mencatat banyak riwayat tentang keagungan dan kehebatan peradaban wilayah itu. Sejarawan Yunani kenamaan, Herodotus (483-425 SM), menulis, “Babilon dibangun di sebuah lapangan persegi-panjang setiap sisinya 480 km (120 league), sehingga kelilingnya 1.920 km. Pernyataan ini, betapapun dibesar-besarkan, mengungkapkan realitas yang tak terbantah-apabila dibaca bersama tulisan-tulisan lainnya. Namun, dari pemandangannya yang menarik dan istana-istananya yang tinggi, tak ada lagi yang dapat dilihat sekarang selain tumpukan lempung, di antara sungai Tigris dan Efrat, yang diliputi kebungkaman maut. Kebungkaman itu kadang-kadang dipecahkan oleh para orientalis yang melakukan penggalian untuk mendapatkan informasi tentang peradaban Babilonia. Nabi Ibrahim, pelopor tauhid, dilahirkan di masa pemerintahan Namrud putra Kan’an. Walaupun Namrud menyembah berhala, ia juga mengaku sebagai tuhan (dewa). Dengan memanfaatkan kejahilan rakyat yang mudah percaya, ia memaksakan kepercayaannya kepada mereka. Mungkin nampak agak ganjil bahwa seorang penyembah berhala mengaku pula sebagai dewa. Namun, Al-Qur’an memberikan kepada kita suatu contoh lain tentang kepercayaan ini. Ketika Musa mengguncang kekuasaan Fir’aun dengan logikanya yang kuat dan menguak kebohongannya dalam suatu pertemuan umum, para pendukung Fir’aun berkata kepadanya, “Apakah kamu membiarkan Musa dan kaumnya membuat kerusakan di negeri ini (Mesir) dan meninggalkan kamu serta tuhan-tuhanmu?” (QS, Surah al-A’raf, 7:127). Telah termasyhur bahwa Fir’aun mengaku sebagai tuhan dan biasa menyerukan, “Aku adalah tuhanmu yang tertinggi.” Namun ayat ini menunjukkan bahwa ia juga seorang penyembah berhala. Dukungan terbesar yang diperoleh Namrud datang dari para astrolog dan penenung yang dipandang sebagai orang-orang pintar di zaman itu. Ketundukan mereka ini membuka jalan bagi Namrud untuk memanfaatkan kaum tertindas dan kalangan bodoh. Selain itu, sebagian famili Ibrahim, misalnya Azar yang membuat berhala dan juga memahami astrologi, termasuk pengikut Namrud. Ini saja sudah merupakan halangan besar bagi Ibrahim, karena di samping harus berjuang melawan kepercayaan umum itu, ia juga harus menghadapi perlawanan kaum kerabatnya sendiri. Namrud telah menerjunkan diri ke dalam laut kepercayaan takhayul. Ia telah membentangkan permadani untuk pesta dan minum-minum ketika para astrolog membunyikan lonceng bahaya pertama seraya mengatakan, “Pemerintahan Anda akan runtuh melalui seorang putra negeri ini.” Ketakutan laten Namrud bangkit. Ia bertanya, “Apakah ia telah lahir atau belum?” Para astrolog itu menjawab bahwa ia belum lahir. Ia kemudian memerintahkan supaya diadakan pemisahan antara perempuan dan laki-laki-di malam yang, menurut ramalan para astrolog, kehamilan musuh mautnya itu akan terjadi. Walaupun demikian, para algojonya membunuh anak-anak laki-laki. Para bidan diperintahkan untuk melaporkan rincian tentang anak-anak yang baru lahir ke suatu kantor khusus. Pada malam itu juga terjadi kehamilan Ibrahim. Ibunya hamil dan, seperti ibu Musa putra ‘Imran, ia merahasiakan kehamilan itu. Setelah melahirkan, ia menyelamatkan diri ke suatu gua yang terletak di dekat kota itu, untuk melindungi nyawa anaknya tersayang. Ia meninggalkan anaknya di suatu sudut gua, dan mengunjunginya di waktu siang atau malam, tergantung situasi. Dengan berlalunya waktu, Namrud merasa aman. Ia percaya bahwa musuh tahta dan pemerintahannya telah dibunuh. Ibrahim menjalani tiga belas tahun kehidupannya dalam sebuah gua dengan lorong masuk yang sempit, sebelum ibunya membawanya keluar. Ketika muncul di tengah masyarakat, para pendukung Namrud merasa bahwa ia orang asing. Terhadap hal itu, ibunya berkata, “Ini anak saya. Ia lahir sebelum ramalan para astrolog.” (Tafsir al-Burhan, I, h. 535). Ketika keluar dari gua, Ibrahim memperkuat keyakinan batinnya dalam tauhid dengan mengamati bumi dan langit, bintang-bintang yang bersinar, dan pohon-pohonan yang hijau. Ia menyaksikan masyarakat yang aneh. Dilihatnya sekelompok orang yang memperlakukan sinar bintang dengan sangat tolol. Ia juga melihat beberapa orang dengan tingkat kecerdasan yang bahkan lebih rendah. Mereka membuat berhala dengan tangan sendiri, kemudian menyembahnya. Yang terburuk dari semuanya ialah bahwa seorang manusia, dengan mengambil keuntungan secara tak semestinya dari kejahilan dan kebodohan rakyat, mengaku sebagai tuhan mereka dan menyatakan diri sebagai pemberi hidup kepada semua makhluk dan penakdir semua peristiwa. Nabi Ibrahim merasa harus mempersiapkan diri untuk memerangi tiga kelompok yang berbeda ini. IBRAHIM BERJUANG MELAWAN PENYEMBAHAN BERHALA Kegelapan penyembahan berhala telah meliputi seluruh Babilon, tempat lahir Nabi Ibrahim, Banyak tuhan dunia dan langit telah merenggut hak menalar dan berpikir dari berbagai lapisan masyarakat. Sebagiannya memandang tuhan-tuhan itu memiliki kekuasaan sendiri, sedang yang lainnya memperlakukan mereka sebagai perantara untuk memperoleh nikmat dari Tuhan Yang Mahakuasa. RAHASIA POLITEISME Orang Arab sebelum datangnya Islam percaya bahwa setiap makhluk dan setiap gejala tentulah mempunyai penyebab tersendiri, dan bahwa Tuhan Yang Esa tidak mampu menciptakan semuanya. Pada masa itu, ilmu pengetahuan memang belum menemukan hubungan antara makhluk dan fenomena alami serta berbagai kejadian. Sebagai akibatnya, orang-orang itu mengkhayalkan bahwa semua mahluk dan berbagai fenomena alami berdiri sendiri-sendiri dan tidak ada kaitan satu sama lain. Karena itu, mereka menganggap bahwa untuk setiap fenomena seperti hujan dan salju, gempa bumi dan kematian, paceklik dan kesukaran, perdamaian dan ketentraman, kekejaman dan pertumpahan darah, dan sebagainya, ada tuhannya masing-masing. Mereka tak menyadari bahwa seluruh alam semesta adalah suatu kesatuan, di mana bagiannya saling terkait dan masing-masingnya mempunyai efek timbal balik. Pikiran bersahaja manusia masa itu belum mengetahui rahasia penyembahan kepada Allah Yang Esa dan tidak menyadari bahwa Allah yang menguasai alam semesta adalah Tuhan Yang Mahakuasa dan Mahatahu, Pencipta yang bebas dari segala kelemahan dan cacat. Kekuasaan, kesempurnaan, pengetahuan, dan kebijaksanaanNya tiada berbatas. Ia di atas segala sesuatu yang dianggapkan kepada-Nya. Tak ada kesempurnaan yang tidak Ia miliki. Tak ada kemungkinan yang tak dapat diciptakan-Nya. Ia adalah Allah Yang Esa yang mampu menciptakan segala makhluk dan fenomena tanpa bantuan dan dukungan siapa pun. Ia dapat menciptakan makhluk lain dengan cara yang sama sebagaimana Ia menciptakan makhluk-makhluk yang ada sekarang. Karena itu, secara nalar, adanya perantaraan dari suatu wewenang yang dapat mengurangi kemandirian kehendak Allah yang tidak bersekutu, tidak dapat diterima. Kepercayaan bahwa alam semesta mempunyai dua pencipta, yang satu merupakan sumber kebaikan dan cahaya sedang yang satu lagi merupakan sumber kejahatan dan kegelapan, juga tak dapat diterima. Kepercayaan bahwa ada perantaraan oleh seseorang, seperti Maryam dan ‘Isa, dalam hal penciptaan alam semesta, atau bahwa pengaturan tatanan dunia fisik telah dikuasakan pada seorang manusia, merupakan manifestasi syirik dan kelebih-lebihan. Penganut tauhid, dengan rasa hormat yang sewajarnya kepada para nabi dan orang suci, memelihara keyakinan pada Pencipta Alam Semesta, dan tidak menyekutukan-Nya dengan yang lain. Metode yang digunakan para nabi untuk memberi pelajaran dan tuntutan kepada manusia ialah metode logika dan penalaran, karena mereka berurusan dengan pikiran manusia. Mereka berhasrat mendirikan pemerintahan yang didasarkan pada keimanan, pengetahuan, dan keadilan, dan pemerintahan semacam itu tak dapat didirikan melalui kekerasan, peperangan, dan pertumpahan darah. Oleh karena itu, kita harus membedakan pemerintahan para nabi dengan pemerintahan Fir’aun dan Namrud. Tujuan dari kelompok yang kedua ini ialah amannya kekuasaan dan pemerintahan mereka dengan segala cara yang mungkin, sekalipun negara akan runtuh setelah mereka mati. Sebaliknya, orang-orang suci bermaksud mendirikan pemerintahan yang membawa maslahat pada individu maupun masyarakat, baik penguasa itu kuat atau lemah pada suatu waktu tertentu, sementara ia hidup maupun sesudah ia mati. Tujuan semacam itu tentu saja tak dapat dicapai dengan kekerasan dan tekanan. Ibrahim pertama-tama berjuang melawan kepercayaan kaum kerabatnya yang menyembah berhala, di mana Azar merupakan pentolannya. Sebelum mencapai keberhasilan penuh dalam bidang ini, ia sudah harus berjuang pada bidang operasi lainnya. Taraf pemikiran kelompok yang kedua ini agak lebih tinggi dan lebih jelas dari yang pertama. Berlawanan dengan agama para famili Ibrahim, mereka ini telah membuang makhluk-makhluk duniawi yang hina dan tak berharga, lalu memuja bintang di langit. Ketika melawan pemujaan bintang, Ibrahim menyatakan dengan kata-kata sederhana sejumlah kebenaran filosofis dan ilmiah yang belum dipahami oleh manusia di zaman itu, bahkan sekarang pun argumennya menimbulkan kekaguman para sarjana yang sangat mengenal seni logika dan perdebatan. Di atas semua ini, Al-Qur’an juga telah mengutip argumen-argumen Ibrahim, dan kami mendapat kehormatan untuk mengutipnya dengan penjelasan singkat. Untuk dapat menuntun masyarakatnya, suatu malam Ibrahim menatap ke langit di saat terbenamnya matahari dan terus terjaga hingga ia terbenam lagi di hari berikutnya. Selama 24 jam ini ia berdebat dan berdiskusi dengan tiga kelompok, dan menyalahkan kepercayaan mereka dengan argumen-argumennya yang kuat. Kegelapan malam mendekat dan menyembunyikan segala tanda kehidupan. Bintang Venus yang cemerlang muncul dari suatu sudut cakrawala. Untuk merebut hati para pemuja Venus, Ibrahim menyesuaikan diri dengan mereka dan mengikuti garis pikiran mereka seraya mengatakan, “Itu adalah pemeliharaku.” Namun, ketika bintang itu tenggelam dan menghilang di suatu sudut, ia berkata, “Saya tak dapat menerima tuhan yang tenggelam.” Dengan penalarannya yang alami, ia menolak kepercayaan para pemuja Venus dan membuktikan kebatilannya. Pada tahap berikutnya, matanya tertuju pada bundaran bulan yang bercahaya terang dengan keindahannya yang memukau. Dengan maksud merebut hati pemuja bulan, secara lahiriah ia bersikap seakan bulan itu tuhan, tapi kemudian ia merontokkan kepercayaan itu dengan logikanya yang kuat. Demikianlah, ketika Yang Mahakuasa membenamkan bulan itu di balik cakrawala, dan cahaya serta keindahannya lenyap dari muka bumi, maka tanpa menyinggung perasaan para pemuja bulan itu, Ibrahim berkata, “Apabila Tuhanku yang sesungguhnya tidak membimbing aku, tentulah aku tersesat, karena tuhan ini terbenam seperti bintang dan tunduk pada suatu tatanan dan sistem yang pasti yang dibentuk oleh sesuatu yang lain.” Kegelapan malam berakhir dan matahari pun muncul, membuka cakrawala, dan menyebarkan sinar keemasannya ke muka bumi. Para pemuja matahari memalingkan wajah mereka kepada tuhannya. Untuk menaati aturan perdebatan, Ibrahim juga bersikap seolah mengakui ketuhanan matahari. Namun, terbenamnya matahari mengukuhkan bahwa ia tunduk pada suatu sistem alam semesta yang umum, dan Ibrahim secara terbuka menolaknya sebagai yang patut disembah.(lihat QS, al-An’am, 6:75-79) Tak diragukan bahwa saat tinggal di gua, melalui anugerah Ilahi yang luar biasa, Ibrahim mendapatkan dari sumber yang gaib pengetahuan batin tentang tauhid, yang merupakan kekhususan para nabi. Namun, setelah memperhatikan dan mengkaji benda-benda langit, ia juga memberikan bentuk argumentasi pada pengetahuan itu. Dengan demikian, di samping menunjukkan jalan yang benar kepada manusia dan memberikan kepada mereka sarana bimbingan, Ibrahim telah meninggalkan pengetahuan yang tak ternilai untuk digunakan oleh orang-orang yang mencan kebenaran dan realitas. (Bagian 1, Bagian 2, Bagian 3) ——————————— oleh Ja’far Subhani, hal. 50 – 69 Judul buku: AR-RISALAH Sejarah Kehidupan Rasulullah SAW Indeks Islam | Indeks Artikel ——————————————————————————– ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team

Oleh: mirarahayu | Juni 20, 2009

Generasi Qur’ani Yang Istimewa

Generasi Qur’ani yang Istimewa

Sayyid Quthb

 

  Ada fenomena sejarah yang harus diperhatikan oleh pembawa dakwah Islam di seluruh penjuru bumi dan di seluruh masa. Untuk kemudian merenungkannya dengan mendalam. Karena ia memiliki pengaruh yang besar dalam manhaj dan arah dakwah.

Dakwah Islam pada generasi pertama telah menghasilkan generasi yang istimewa –yaitu generasi sahabat– dalam sejarah Islam seluruhnya, dan sejarah manusia seluruhnya. Kemudian generasi semacam itu tidak lagi dihasilkan dalam sejarah Islam. Benar ada beberapa gelintir orang dengan karakteristik seperti generasi pertama itu yang dihasilkan oleh dakwah Islam sepanjang sejarah setelah generasi pertama. Namun belum pernah terjadi dalam sejarah Islam, terkumpulnya tokoh-tokoh besar semacam itu, dalam satu tempat, seperti yang terjadi pada masa pertama dari kehidupan dakwah ini. Ini adalah fenomena yang amat jelas. Yang mengandung makna yang harus kita renungkan dengan saksama, dengan harapan kita dapat menyingkap rahasia keberhasilannya.

Al Qur’an yang menjadi jantung dakwah itu ada di tangan kita, demikian juga dengan hadits Rasulullah Saw, petunjuk praktis beliau, dan sirah beliau yang mulia, semuanya ada di tangan kita. Seperti pernah ada pada generasi yang pertama itu, yang belum pernah terulang keberadaan generasi semacam itu dalam sejarah. Yang tidak ada hanyalah pribadi Rasulullah Saw; apakah ini rahasianya?

Jika keberadaan Rasulullah Saw secara fisik adalah suatu keniscayaan bagi pelaksanaan dan keberhasilan dakwah ini, niscaya Allah SWT tidak menjadikannya sebagai dakwah bagi seluruh umat manusia, tidak menjadikannya sebagai risalah terakhir, dan tidak menyerahkan tanggungjawab memberikan tuntunan petunjuk kepada umat manusia di muka bumi kepada dakwah ini, hingga akhir zaman.

Namun Allah SWT telah menjamin untuk memelihara Adz Dzikr. Serta memberitahukan bahwa dakwah ini dapat terus berjalan setelah wafatnya Rasulullah Saw, dan dapat memetik keberhasilan. Allah SWT telah menyerahkan dakwah agama ini kepada Rasulullah Saw selama dua puluh tiga tahun, hingga akhir hayat beliau, dan tetap memelihara agama ini setelah wafatnya beliau hingga akhir zaman. Dengan demikian, ketidakberadaan Rasulullah Saw secara fisik tidak menjelaskan fenomena itu, juga tidak menjadi faktor penentunya.

 

* * *Oleh karena itu, marilah kita cari faktor yang lain. Kita teliti sumber yang menjadi rujukan generasi pertama itu, apakah ada yang berubah darinya? Juga kita teliti manhaj yang menghasilkan tokoh-tokoh semacam mereka itu, apakah ada yang berubah?

Sumber rujukan utama generasi pertama itu adalah Al Quran. Al Quran semata. Sedangkan hadits Rasulullah Sawn petunjuknya hanyalah satu bentuk penjelas dari sumber tersebut. Oleh karena itu, ketika A’isyah r.a. ditanya tentang akhlaq Rasulullah Saw, ia menjawab:

“Akhlaq beliau adalah Al Qur’an.” [Hadits diriwayatkan oleh An Nasai]

Dengan demikian, adalah Al Qur’an semata yang menjadi sumber mereka; darinya mereka memetik pelajaran dan dengannya pula mereka diubah menjadi tokoh-tokoh besar. Hal itu terjadi bukan karena umat manusia saat itu tidak memiliki peradaban, budaya, ilmu pengetahuan, buku-buku rujukan atau kajian-kajian ilmiah; sama sekali bukan begitu! Karena saat itu ada peradaban Romawi dan budayanya, serta buku-buku dan undang-undangnya yang sampai saat ini dijadikan pedoman hidup Eropa, atau setidaknya perpanjangan darinya. Ada warisan peradaban Yunani, logikanya, filsafatnya serta seninya, yang tetap menjadi sumber pemikiran Barat hingga saat ini. Juga ada peradaban Persia, seninya, syairnya, legenda-legendanya, kepercayaan-kepercayaannya, dan sistem kekuasaannya. Demikian juga peradaban-peradaban lain, yang jauh maupun dekat: seperti peradaban India, Cina dan lainnya. Peradaban Romawi dan Parsi mengelilingi Jazirah Ara, dari bagian Timur dan Barat, juga Yahudi dan Nashrani yang hidup di jantung Jazirah Arab. Dengan demikian, mereka sama sekali tidak kekurangan peradaban dan budaya internasional, yang membuat generasi ini hanya mengambil rujukan dari Kitab Allah semata, selama masa pembentukannya. Namun sterilisasi mereka dari pengaruh peradaban dan budaya luar itu dilakukan dengan ‘planning’ yang matang, dan dengan strategi yang terencana. Bukti hal ini marahnya Rasulullah Saw saat melihat Umar bin Khath-thab sedang memegang lembaran Taurat, dan beliau bersabda:

“Demi Allah, seandainya Musa hidup saat ini bersama kalian, niscaya ia hanya diperbolehkan oleh Allah SWT untuk menjadi pengikutku.” [Hadits diriwayatkan oleh hafizh Abu Ya’la dari Hammad, dari Sya’bi dari Jabir]

Dengan demikian, ada planning dari Rasulullah Saw untuk mensterilkan generasi ini dari sumber lain, selama masa pembentukan mereka, dan hanya mencukupkan mereka dengan sumber rujukan Kitab Allah semata, sehingga jiwa mereka secara utuh hanya terisi dengan ajaran tersebut, dan mereka berjalan hanya dengan manhajnya semata. Oleh karena itu beliau marah saat melihat Umar bin Khath-thab r.a. ingin mengambil rujukan dari sumber yang lain.

Rasulullah Saw ingin membentuk generasi yang bersih hatinya, akalnya, gambaran hidupnya, dan jiwanya dari segala pengaruh lain, selain manhaj Ilahi, yang dikandung oleh Al Quran al Karim.

Dengan begitu, generasi tersebut hanya mengambil rujukan mereka dari sumber itu semata. Dan hasilnya adalah, tercetaknya generasi istimewa dalam sejarah, yang belum pernah terulang lagi. Kemudian apa yang terjadi pada generasi berikutnya? Ternyata sumber-sumber rujukan mereka telah berubah menjadi beragam dan bermacam-macam! Sumber rujukan generasi-generasi berikutnya telah tercampur oleh filsafat Yunani dan Logika mereka, legenda Parsi dan pola pandang mereka, israiliat Yahudi dan teologi Nashrani, dan pengaruh peradaban serta budaya lainnya. Semua itu tercampur dalam menafsirkan Al Qur’an, bangunan ilmu Kalam, juga dalam fiqh dan ushul. Dari racikan sumber-sumber itu, tercetaklah seluruh generasi berikutnya, sehingga keberhasilan generasi pertama tidak pernah terulang lagi.

Diyakini dengan pasti, bahwa percampuran sumber yang utama dengan sumber-sumber yang lain itulah yang menjadi faktor utama perbedaan keberhasilan generasi pertama dengan seluruh generasi berikutnya. Yaitu generasi pertama Islam yang istimewa itu.

 

* * *Ada faktor utama lain, selain perbedaan sumber rujukan itu. Yaitu perbedaan dalam menerima dakwah, dibandingkan dengan generasi pertama yang istimewa itu.

Mereka (generasi pertama) membaca Al Qur’an bukan untuk sekadar ingin tahu dan sekadar membaca, juga bukan sekadar untuk merasakan dan menikmatinya. Tidak ada seorangpun dari mereka yang mempelajari Al Quran untuk sekadar menambah pengetahuan, atau untuk menambah bobot ilmiah dan kepintaran dalam ilmu fiqh.

Mereka mempelajari Al Qur’an untuk menerima perintah Allah SWT berkenaan dengan masalah pribadi mereka, masyarakat tempat mereka hidup, dan kehidupan yang dijalaninya bersama jama’ahnya. Dan mereka menerima perintah Allah SWT itu untuk segera diamalkan setelah mendengarnya. Seperti seorang tentara dalam medan perang menerima “perintah harian”, yang langsung ia kerjakan setelah menerimanya! Oleh karena itu, tidak ada dari mereka yang memperbanyak mempelajari Al Qur’an dalam sekali duduk, karena ia merasa bahwa dengan memperbanyak membaca perintah Allah SWT itu berarti memperbanyak pula kewajiban dan tugas yang harus ia emban. Mereka cukup membaca dan mempelajari sepuluh ayat, setiap kesempatan menelaah Al Qur’an, hingga ia menghapal dan melaksanakan isinya. Seperti diterangkan dalam hadits Ibnu Mas’ud r.a.[Seperti ditulis oleh Ibnu Katsir dalam muqaddimah kitab tafsirnya.]

Perasaan seperti dan sikap ini; yakni sikap menerima ajaran Al Quran untuk dilaksanakan perintahnya, membuat mereka, dengan membaca Al Qur’an, terbukakan gerbang kenikmatan dan ilmu pengetahuan. Hal itu tidak terjadi jika mereka membaca Al Qur’an hanya sekadar untuk meneliti, mengkaji dan membacanya. Dengan cara membaca seperti itu, mereka menjadi termudahkan untuk mengamalkan isinya, teringankan beban tugas mereka, Al Qur’an merasuk dalam diri mereka, dan setelah itu mereka ejawantahkan dalam manhaj yang realistis dan praksis, yang tidak semata berada dalam otak atau kalimat-kalimat yang tersimpan dalam kertas. Namun menjadi wujud perubahan dan peristiwa yang merubah perjalanan hidup.

Al Qur’an tidak memberikan khazanahnya kecuali bagi orang yang menerimanya dengan semangat ini: semangat untuk mengetahui, dan kemudian menjalankannya. Al Qur’an tidak datang untuk sekadar menjadi hiburan otak, ia bukan kitab sastra atau seni, dan bukan pula sebuah kitab kisah atau sejarah –meskipun semua itu terkandung dalam isinya– namun ia datang agar menjadi manhaj kehidupan. Manhaj Ilahi yang murni. Allah SWT menurunkan manhaj ini secara terpisah-pisah dan berangsur-angsur. Yang datang secara beriringan:

“Dan Al Qur’an itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia, dan Kami menurunkannya bagian demi bagian.” Al Israa: 106.

Al Qur’an tidak diturunkan sekaligus. Namun diturunkan sesuai dengan kebutuhan manusia yang terus berubah, perkembangan yang terjadi dalam pemikiran dan pola pandang, perkembangan dalam masyarakat dan kehidupan, serta sesuai dengan problem-problem praksis yang dihadapi oleh masyarakat Islam dalam kehidupan sehari-harinya. Suatu ayat atau beberapa ayat dari Al Qur’an diturunkan dalam suatu momen tertentu atau suatu kejadian tertentu, yang menjadi masalah bagi manusia, untuk kemudian memberikan tuntunan bagi mereka dalam menghadapi masalah seperti itu, menggariskan bagi mereka manhaj tindakan yang harus mereka lakukan dalam keadaan seperti itu, meluruskan kesalahan sikap dan tindakan mereka, mengaitkan semua itu dengan Allah SWT, Rabb mereka, dan memperkenalkan Diri-Nya, kepada mereka, dengan sifat-sifat-Nya yang berkuasa di segenap alam. Dengan begitu, mereka merasakan bahwa mereka hidup bersama Allah SWT dan selalu berada dalam pengawasan-Nya secara langsung. Oleh karena itu, mereka segera merubah sikap dan tindakan mereka dalam kehidupan sesuai dengan tuntunan manhaj Ilahi yang sempurna itu.

Manhaj mempelajari Al Qur’an untuk dilaksanakan dan diamalkan isinya itulah yang telah menghasilkan generasi pertama Islam. Sementara manhaj mempelajari Al Qur’an semata untuk mengkaji dan menikmatinya itulah yang telah menghasilkan generasi-generasi berikutnya. Tentunya, faktor kedua ini adalah juga faktor utama yang membedakan seluruh generasi Islam dibandingkan dengan generasi pertama yang istimewa itu.

 

* * *Ada faktor ketiga yang patut kita perhatikan dan camkan. Seseorang, pada masa generasi pertama, jika ia masuk Islam, maka ia akan melepaskan seluruh masa lalu kejahiliahannya. Dan pada saat itu, ia merasakan bahwa ia sedang memulai suatu era baru dalam titian kehidupannya, yang terputus sama sekali dari perjalanan hidupnya yang telah ia lewati di masa jahiliah. Ia memandang segala sesuatu yang biasa ia temukan pada masa jahiliah dengan pandangan ragu, curiga, hati-hati dan takut. Karena ia merasakan bahwa segala kotoran tersebut tidak dapat diterima oleh Islam! Dengan sikap seperti itulah, mereka menerima petunjuk Islam. Jika suatu saat ia terperdaya oleh nafsunya, atau kembali melakukan kebiasaan lamanya, atau kurang sempurna dalam menjalankan kewajiban Islam, maka saat itu ia langsung merasa berdosa dan bersalah. Dan menyadari dalam dirinya bahwa ia memerlukan penyucian diri dari tindakannya itu. Untuk kemudian kembali berusaha berjalan sesuai dengan petunjuk Al Qur’an.

Ada pemutusan emosional secara total antara masa lalu kejahiliahan seorang Muslim dengan masa kini keislamannya. Hal itu tercerminkan dalam hubungannya dengan masyarakat jahiliah, dan ikatan-ikatan sosialnya. Ia telah terputus secara total dari lingkungan jahiliahnya dan bersatu secara total dengan lingkungan Islam. Meskipun ia masih tetap melakukan kontak dalam hubungan perdagangan dan keseharian. Karena pemutusan emosional adalah satu hal, sementara kontak mu’amalah sehari-hari adalah hal lain.

Mereka melepaskan kaitan mereka dari millieu jahiliah, tradisinya, pola pandangnya, kebiasaannya dan ikatan-ikatannya. Hal ini terlahir dari pemutusan ikatan dengan kemusyrikan kepada aqidah tauhid, dan dari pola pandang jahiliah kepada pola pandang Islam tentang kehidupan dan wujud. Serta dengan bergabung dengan masyarakat Islam yang baru, dengan kepemimpinan yang baru, dan memberikan seluruh loyalitasnya, keta’atannya dan keterikatannya dengan masyarakat dan kepemimpinan ini.

Inilah titik perpisahan mereka dengan masa lalu, dan awal perjalanan mereka dalam jalan yang baru, jalan yang terbebaskan dari seluruh tekanan budaya yang dianut oleh masyarakat jahiliah, dan seluruh pola pandang serta nilai-nilai yang berlaku di dalamnya. Pilihan mereka itu harus mereka tebus dengan aniaya dan fitnah yang menimpa mereka, namun mereka telah bersikap teguh dan memutuskan sama sekali ikatan mereka dengan kejahiliahan. Sehingga tekanan pola pandang jahiliah, dan adat-istiadat masyarakat jahiliah tidak mungkin lagi dapat menggoyahkan mereka.

Saat ini kita hidup dalam kejahiliahan seperti yang dialami oleh Islam pada era pertama itu, atau mungkin lebih kelam lagi. Seluruh yang ada di sekeliling kita adalah kejahiliahan. Pola pandang manusia, kepercayaan mereka, tradisi mereka, adat-istiadat mereka, sumber rujukan mereka, seni mereka, sastra mereka, hukum mereka serta undang-undang mereka. Hingga banyak yang kita sangka sebagai budaya Islam, referensi Islam, filsafat Islam, pemikiran Islam, ternyata juga merupakan produk dari kejahiliahan!

Oleh karena itulah, nilai-nilai Islam tidak dapat meresap dalam diri kita, weltanschauung Islam tidak dapat bersemayam dalam akal kita, dan kita tidak dapat menjadi genersi yang besar, dengan karakteristik seperti generasi yang dihasilkan oleh Islam pada era pertamanya.

Dengan demikian, dalam manhaj harakah Islam, kita harus membersihkan diri dalam masa pembentukan dan pengkaderan, dari seluruh pengaruh jahiliah yang kita sedang jalani ini. Kita harus kembali dari awal kepada sumber yang murni, yang dijadikan sumber oleh tokoh-tokoh generasi pertama itu. Sumber yang terjamin tidak tercermar dan tidak diragukan lagi. Kita kembali kepadanya, dan kita mengambil pola pandang kita darinya dalam melihat seluruh hakikat wujud, dan hakikat wujud manusia beserta seluruh ikatan antara dua wujud ini dengan Wujud Yang Sempurna dan Haqq; wujud Allah SWT. Dari sanalah kita mengambil pola pandang kita terhadap kehidupan, nilai-nilai, akhlak, sistem kekuasan, politik, ekonomi dan seluruh segi kehidupan kita.

Kita haru kembali kepadanya —saat kita benar-benar kembali– dengan sikap menerima ajaran Al Qur’an untuk dilaksanakan dan diamalkan. Bukan sekadar untuk belajar dan mencari kesenangan ruhani. Kita kembali kepadanya untuk mengetahui apa yang dituntut dari kita, dan seharusnya kita bagaimana. Dalam perjalanan itu, kita akan bertemu dengan keindahan seni dalam Al Qur’an, kisah-kisah yang agung dalam Al Qur’an, deskripsi tentang hari kiamat dalam Al Qur’an, logika emosi dalam Al Qur’an, dan seluruh hal yang dicari oleh orang yang mengkaji Al Qur’an untuk sekadar mengkaji dan mencari kesenangan. Namun kita akan menemukan hal itu dengan catatan bahwa itu bukanlah tujuan utama kita. Karena tujuan utama kita adalah untuk mengetahui: apa yang dikehendaki oleh Al Qur’an bagi kita untuk diamalkan dan diwujudkan? Apa pola pandang yang dikehendaki oleh Al Qur’an untuk kita miliki? Apa kehendak Al Qur’an tentang bagaimana seharusnya perasaan kita tehradap Allah SWT dan apa kehendak Al Qur’an tentang bagaimana seharusnya akhlak kita, kondisi kita, dan sistem praksis kehidupan kita?

Kemudian kita harus membersihkan diri kita dari tekanan masyarakat jahiliah, pola pandang jahiliah, tradisi jahiliah dan kepemimpinan jahiliah, dalam diri kita. Tugas kita bukan untuk ber co-eksistensi dengan realitas masyarakat jahiliah ini, juga bukan untuk memberikan loyalitas kita kepadanya. Karena dengan sifat seperti ini, sifat jahiliah, ia tidak boleh kita ajak berdamai. Tugas kita adalah, pertama merubah diri kita, kemudian merubah masyarakat kita.

Tugas utama kita adalah merubah realitas masayrakat kita. Dan tugas kita adalah merubah realitas jahiliah ini dari akarnya. Realitas yang bersebrangan secara diametral dengan manhaj Islami, dan pola pandang Islam, yang menghalangi kita dengan kekuatan dan tekanan untuk hidup sesuai dengan yang dikehendaki oleh manhaj Ilahi bagi kita.

Langkah pertama ddalam jalan kita ini adalah, menciptakan jarak dengan masyarakat jahiliah ini, besrta nilai-nilai dan pola pandangnya. Dan kita jangan sampai merubah nilai-nilai dan pola pandang kita sedikitpun agar bertemu dengannya di pertengahan jalan. Karena kita bersimpangan jalan dengannya, sehingga satu langkah saja kita mengikuti jalannya, niscaya kita akan kehilangan manhaj dan jalan kita!

Tentu kita akan menemukan kesulitan dan kepayahan dalam jalan ini, dan menuntut pengorbanan yang besar dari kita. Namun kita tidak memiliki pilihan lain, jika kita ingin mengikuti jalan generasi pertama Islam, yang telah Allah SWT letakkan mereka dalam manhaj Ilahi-Nya, dan telah diberikan kemenangan atas manhaj jahiliah.

Seharusnya kita selalu mengetahui sifat manhaj kita ini, sikap kita, dan sifat jalan yang harus kita lalui untuk keluar dari kejahiliahan, seperti keluarnya generasi istimewa itu.

 

* * *

  Judul Asli: Ma’alim fi Thariq
Penulis: Sayyid Quthb
Penerjemah: Abdul Hayyie al Kattani
Penerbit: Penerbit: Daar Syuruuq

Edisi lengkap terjemahan berbahasa Indonesia dari buku ini, yang saya selesaikan bersama al akh Yodi Indrayadi, insya Allah akan diterbitkan oleh Gema Insani Press, Jakarta.

 

  

Indeks Islam | Indeks Artikel | Tentang Penterjemah


ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota 

Please direct any suggestion to Media Team

Oleh: mirarahayu | Juni 20, 2009

JejAk-JeJAK BangSA2 TerDAhuLU

Jejak Bangsa-bangsa Terdahulu (2)

 

Katagori : Sirah Nabawiyah & Islam
Oleh : Redaksi 18 Aug 2006 – 3:09 pm

Ibrahim = Abraham?
Bangsa Yahudi percaya bahwa mereka adalah kaum yang dipilih Tuhan untuk selamanya dan diberi keuggulan.

Pada masa Nabi Ibrahim, agama politheisme menyebar di wilayah Mesopotamia. Sang dewa bulan, Sin, merupakan salah satu berhala yang paling penting. Ia digambarkan sebagai sesosok manusia berjenggot panjang, memakai pakaian panjang bergambar bulan sabit.

Mereka juga membuat gambar-gambar timbul dan patung-patung dari tuhan mereka dan menyembah-nya. Inilah sistem kepercayaan yang berkembang subur di Timur Dekat, dan keberadaannya terpelihara lama.

Penduduk wilayah ini terus menyembah tuhan-tuhan tersebut hingga sekitar tahun 600 M. Akibat-nya, di daerah yang membentang dari Mesopotamia hingga ke kedalaman Anatolia, banyak terdapat bangunan yang dikenal sebagai zigurat, yang digunakan sebagai pengamat bintang sekaligus kuil peribadatan, dan di sinilah beberapa tuhan, terutama Sin itu, disembah. Bentuk kepercayaan ini, sekarang hanya dapat ditemukan dalam penggalian arkeologis.

Dalam Alquran, tempat kelahiran Ibrahim dan tempat tinggalnya tidak disebutkan secara detail. Tetapi diisyaratkan bahwa Nabi Ibrahim dan Nabi Luth hidup berdekatan dan sezaman, dengan fakta bahwa malaikat yang diutus kepada kaum Luth mendatangi Ibrahim dan memberi kabar gembira kepada istrinya tentang kelahiran seorang bayi laki-laki, sebelum mereka melanjutkan perjalanan menuju Nabi Luth.

Ibrahim dalam Perjanjian Lama

Menurut penuturan Perjanjian Lama, Ibrahim lahir sekitar 1900 SM di kota Ur, salah satu kota terpenting saat itu, yang berlokasi di tenggara dataran Mesopotamia. Pada saat lahir, ia belum bernama Abraham, tetapi Abram. Namanya kemudian diubah oleh Tuhan (Yahweh).

Pada suatu hari, menurut Perjanjian Lama, Tuhan menyuruh Ibrahim mengadakan perjalanan meninggalkan negeri dan kaumnya, menuju suatu negeri yang tidak pasti dan memulai sebuah masyarakat baru di sana. Abram, saat itu berusia 75 tahun, mematuhi panggilan itu dan melaku-kan perjalanan bersama istrinya yang mandul yang bernama Sarai – kemudian dikenal sebagai Sara, yang berarti putri raja – dan Luth, putra saudaranya. Dalam perjalanan menuju ke “Tanah Terpilih” mereka singgah sebentar di Harran dan kemudian melanjutkan perjalanan.

Ketika sampai di tanah Kanaan yang dijanjikan Tuhan kepada mereka, mereka diberi tahu bahwa tempat tersebut dipilihkan khusus dan dianugerahkan buat mereka. Ketika mencapai usia 99 tahun, Abram membuat perjanjian dengan Tuhan dan namanya diubah menjadi Abraham. Dia meninggal pada usia 175 tahun dan dikebumikan dalam gua Machpelah dekat kota Hebron (Al Khalil) di Tepi Barat, yang saat ini berada di bawah pendudukan Israel.

Di mana Ibrahim dilahirkan senantiasa menjadi perdebatan. Sementara orang Nasrani dan Yahudi menyatakan bahwa Ibrahim dilahirkan di Selatan Mesopotamia, pemikiran yang lazim dalam dunia Islam adalah bahwa tempat kelahirannya berada di sekitar Urfa-Harran. Beberapa penemuan baru menunjukkan bahwa pendapat kaum Yahudi dan Nasrani tidaklah mencerminkan kebenaran yang seutuhnya.

Orang Yahudi dan Nasrani menyandarkan pendapat mereka pada Perjanjian Lama, karena di dalamnya Ibrahim dikatakan telah dilahirkan di kota Ur sebelah selatan Mesopotamia. Setelah lahir dan dibesarkan di kota ini, Ibrahim diceritakan menempuh perjalanan menuju Mesir, dan mencapainya setelah perjalanan panjang yang melewati wilayah Harran di Turki.

Namun, sebuah manuskrip Perjanjian Lama yang ditemukan baru-baru ini, telah memunculkan keraguan tentang kesahihan informasi di atas. Dalam manuskrip berbahasa Yunani dari sekitar abad ketiga SM ini, yang dianggap sebagai salinan tertua dari Perjanjian Lama yang pernah ditemukan, Ur tidak pernah disebutkan. Banyak peneliti Perjanjian Lama yang menyatakan bahwa kata Ur tidak akurat atau merupakan tambahan belakangan. Ini berarti Ibrahim tidak dilahirkan di kota Ur dan mungkin juga tidak pernah berada di wilayah Mesopotamia sepanjang hidupnya.

Di samping itu, nama-nama beberapa tempat, serta daerah yang ditunjukkannya, telah berubah karena perkembangan zaman. Saat ini, dataran Mesopotamia umumnya merujuk kepada tepi selatan daratan Irak, di antara sungai Eufrat dan Tigris. Namun, dua alaf silam, daerah Mesopotamia menunjuk sebuah daerah lebih ke utara, bahkan hingga sejauh Harran, dan membentang ke daerah Turki saat ini. Oleh karena itu, sekalipun kita menerima ungkapan dataran Mesopotamia” dalam Perjanjian Lama, tetap saja keliru jika menganggap Mesopotamia dua alaf yang lalu dan Mesopotamia hari ini sebagai tempat yang persis sama.

Dalam berbagai sumber Islam, terdapat bukti kuat bahwa tempat kelahiran Ibrahim adalah Harran dan Urfa. Di Urfa yang disebut dengan “kota para nabi” terdapat banyak cerita dan legenda tentang Ibrahim.

Dalam Alquran, Ibrahim diutus sebagai rasul bagi suatu kaum penyembah berhala. Kaum Ibrahim menyembah langit, bintang-bintang, dan bulan, serta berbagai berhala. Dia berjuang menyadarkan kaumnya itu. Dilemparkannya Ibrahim ke dalam api, penghancuran berhala-berhala kaumnya, juga tidak disebutkan dalam Perjanjian Lama. Secara umum Ibrahim hanya digambarkan sebagai nenek moyang bangsa Yahudi.

Nyatalah bahwa pandangan dalam Perjanjian Lama ini dibuat oleh para pemimpin bangsa Yahudi yang berusaha mengangkat konsep “ras” ke permukaan. Bangsa Yahudi percaya bahwa mereka adalah kaum yang dipilih Tuhan untuk selamanya dan diberi keunggulan. Mereka dengan sengaja dan penuh hasrat mengubah kitab suci mereka dan membuat berbagai penambahan serta pengurangan berdasarkan keyakinan ini.

Orang Nasrani yang mempercayai Perjanjian Lama, menganggap Ibrahim sebagai nenek moyang bangsa Yahudi, namun dengan satu perbedaan: Menurut mereka, Ibrahim bukanlah seorang Yahudi melainkan seorang Nasrani. Orang Nasrani yang tidak begitu memperhatikan konsep ras sebagaimana Yahudi, mempertahankan pandangan ini dan hal tersebut menjadi salah satu penyebab perbedaan dan pertentangan di antara kedua agama ini.

Allah memberi penjelasan atas perdebatan tersebut dalam Alquran sebagai berikut :
Ibrahim bukanlah seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi menyerahkan diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia dari golongan orang yang musyrik. Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim adalah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad) serta orang-orang yang beriman (kepada Muhammad), dan Allah adalah pelindung semua orang-orang yang beriman. (QS Ali Imran [3]: 67-68).

(www.harunyahya.com )

Oleh: mirarahayu | Juni 18, 2009

Tafakur Ku,….

Sodaraku,df Kita pernah bersimpuh dihadapan-Nya, menyusun sujud pada debu-Nya yang gelap . Kita sulam kata pinta, kita rangkai kalimat doa, memohon agar dalam hidup ini kita diberikan segalanya yang terbaik, agar Ia tunjuki kita jalan yang lurus, istiqomah di tengah fitnah, sabar di tengah makar, ikhlas menghadapi hidup yang keras. Kemudian air mata kitapun mengalir membasahi malam, sunyi, sepi… Sodaraku, Namun hari ini kita lupa lagi dengan sebait pinta Yang pernah meluncur deras dari lisan kita yang penuh dosa. Lupa akan arti kehidupan, lupa akan perjumpaan dengan-Nya, lupa akan azzam yang sudah lama tertanam, lupa akan suatu hari dimana kelak tak sebaitpun doa akan didengarkan-Nya, tak sejuruspun sujud ada artinya, tak ada arti setiap tangis yang meringis. Kita kembali lupa, entah apa penyebabnya, Tanyakanlah pada hati kita yang paling dalam, apa yang terjadi dalam diri kita, kenapa kita senantiasa mengingkarinya. Sodaraku, Beberapa waktu yang lalu aku habis kembali dari takziah, ayah temanku meninggal dunia karena sebuah kecelakaan. Ia seorang dokter, kerjanya sehari-hari adalah memberikan proteksi medis kepada manusia, minimal memberikan saran preventif terhadap berbagai macam penyakit penyebab kematian. Namun akhirnya protektor itupun tak mampu memproteksi dirinya Atas suatu yang pasti akan terjadi pada diri setiap jiwa. Ia akan menyambar siapa saja, raja dunia atau makhluk papa, lalu bagaimana dengan diri kita ….!!! Orang lain punya bekal, sedangkan kita, kita punya apa?. Menangislah memikirkan ini sodaraku… Sodaraku, Kehidupan yang kita lalui ini, sangatlah tidak berarti, masihkah kita tak mengerti, masihkah pura-pura tuli, ada kehidupan setelah ini !!! Bila wajah pucat kaku itu adalah wajah kita, bila tubuh lemah yang terbujur itu adalah tubuh kita, bila tangis itu adalah tangis melepas kita, apa yang dapat kita lakukan? kepada siapa kita kembali kalau bukan kepada Rabb yang jiwa kita ada dalam genggaman-Nya. Sodaraku, Kini, masihkah kita pantas menengadahkan tangan, setelah sekian banyak mungkir kita lakukan, setelah seribu dusta kita ucapkan. Masihkah kita berani mengangkat wajah yang kelam ini di hadapan-Nya Setelah olok-olok ayat-Nya kita pertontonkan, masihkah kita berani sodaraku? Sodaraku, Kemana kaki lemah ini hendak melangkah, kemana jiwa yang resah ini kita papah, kemana hati yang sombong ini kita gotong, kemana dosa-dosa ini kita bawa, kemana lagi kita bawa sodaraku, jika Rabb telah murka. Kepada penguasa duniakah kita mengadu, atau kita kembali lagi kepada-Nya, Mengeja lagi sebait doa yang mungkin lidah kita sudah kelu mengulangnya, mari kita coba lagi melantunkannya, mudah-mudahan Rabbi berkenan menerima pengampunan kita. Sodaraku, Kembalilah pada-Nya, kepada Rabbi yang telah memberi kita rezeki. Sebelum kita benar-benar mengakhiri dunia ini. Titipkanlah kerinduan pada malam, sampaikan padanya jangan pernah merenggang, agar senantiasa bisa kita menikmati sepertiga malam, untuk sampaikan pesan, agar hidup kita berlimpah iman. Sodaraku, Tiada guna penyesalan, masih ada waktu, mari kita sama-sama perbaiki diri, benahi hati, sucikan jiwa. Tuailah ibrah dalam setiap kejadiaan. Mari melangkah kedepan, kita sambut hari esok penuh ceria, lukislah prestasi, gapai kemajuan, detik ini, besok ataupun nanti, hari-hari kita harus penuh prestasi. Kelak nanti akan kita temui kehidupan yang indah, diridhoi, diberkahi, tidak saja di dunia tapi juga di akhirat nanti. Sodaraku, Kita adalah mata pena yang tajam, yang siap menuliskan kebenaran Kita adalah panah-panah terbujur, yang siap dilepaskan dari busur Allah, Aku hadapkan wajah kuyu ku kehadapan-Mu. Aku mohon ampun atas segala khilaf. Aku menyadari betapa aku sangat lemah dan senantiasa tergantung pada-Mu. Rabbi, Anugerahilah aku ketaatan kepada-Mu sepanjang hayatku. Tunjukilah aku kepada sesuatu yang membuat Engkau ridho kepada ku, dan lindungilah aku dari segala sesuatu yang menyebabkan terbitnya murka-Mu pada ku. Rabb, Aku ketuk pintu taubatmu, ampuni karat-karat dosa ku. Leraikan aku dari tamak dunia dan dominasi ambisi Lepaskan aku dari sesak durjana dan nafsu amarah Yang hanya akan mengurangi kemuliaan ku di hadapan-Mu. Rabbi, tiada Tuhan selain Engkau, terangilah hati ku dengan cahaya-Mu yang tiada pernah pudar, lapangkanlah dada-dada ku dengan limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan bertawaqal pada-Mu. Rabbana, Jangan jadikan tafakur ku ini hanya sebatas rangkaian kata dan penghias lisan ku. Jadikanlah ia hijab yang tangguh dan kaca yang bening Di tengah pertarungan yang haq dan batil dalam hidupku Yang senantiasa aku hadapi dalam setiap tarikan nafasku Sulit ku bertahan, kalau tidak aku perbaharui terus perjanjian ku dengan-Mu Sulit aku tenang, kalau tidak selalu ku sebut nama-Mu dalam muhasabah harian ku Rabbi, cukuplah Engkau saja pelindung dan penolong ku

Older Posts »

Kategori