Oleh: mirarahayu | Juni 18, 2009

Tafakur Ku,….

Sodaraku,df Kita pernah bersimpuh dihadapan-Nya, menyusun sujud pada debu-Nya yang gelap . Kita sulam kata pinta, kita rangkai kalimat doa, memohon agar dalam hidup ini kita diberikan segalanya yang terbaik, agar Ia tunjuki kita jalan yang lurus, istiqomah di tengah fitnah, sabar di tengah makar, ikhlas menghadapi hidup yang keras. Kemudian air mata kitapun mengalir membasahi malam, sunyi, sepi… Sodaraku, Namun hari ini kita lupa lagi dengan sebait pinta Yang pernah meluncur deras dari lisan kita yang penuh dosa. Lupa akan arti kehidupan, lupa akan perjumpaan dengan-Nya, lupa akan azzam yang sudah lama tertanam, lupa akan suatu hari dimana kelak tak sebaitpun doa akan didengarkan-Nya, tak sejuruspun sujud ada artinya, tak ada arti setiap tangis yang meringis. Kita kembali lupa, entah apa penyebabnya, Tanyakanlah pada hati kita yang paling dalam, apa yang terjadi dalam diri kita, kenapa kita senantiasa mengingkarinya. Sodaraku, Beberapa waktu yang lalu aku habis kembali dari takziah, ayah temanku meninggal dunia karena sebuah kecelakaan. Ia seorang dokter, kerjanya sehari-hari adalah memberikan proteksi medis kepada manusia, minimal memberikan saran preventif terhadap berbagai macam penyakit penyebab kematian. Namun akhirnya protektor itupun tak mampu memproteksi dirinya Atas suatu yang pasti akan terjadi pada diri setiap jiwa. Ia akan menyambar siapa saja, raja dunia atau makhluk papa, lalu bagaimana dengan diri kita ….!!! Orang lain punya bekal, sedangkan kita, kita punya apa?. Menangislah memikirkan ini sodaraku… Sodaraku, Kehidupan yang kita lalui ini, sangatlah tidak berarti, masihkah kita tak mengerti, masihkah pura-pura tuli, ada kehidupan setelah ini !!! Bila wajah pucat kaku itu adalah wajah kita, bila tubuh lemah yang terbujur itu adalah tubuh kita, bila tangis itu adalah tangis melepas kita, apa yang dapat kita lakukan? kepada siapa kita kembali kalau bukan kepada Rabb yang jiwa kita ada dalam genggaman-Nya. Sodaraku, Kini, masihkah kita pantas menengadahkan tangan, setelah sekian banyak mungkir kita lakukan, setelah seribu dusta kita ucapkan. Masihkah kita berani mengangkat wajah yang kelam ini di hadapan-Nya Setelah olok-olok ayat-Nya kita pertontonkan, masihkah kita berani sodaraku? Sodaraku, Kemana kaki lemah ini hendak melangkah, kemana jiwa yang resah ini kita papah, kemana hati yang sombong ini kita gotong, kemana dosa-dosa ini kita bawa, kemana lagi kita bawa sodaraku, jika Rabb telah murka. Kepada penguasa duniakah kita mengadu, atau kita kembali lagi kepada-Nya, Mengeja lagi sebait doa yang mungkin lidah kita sudah kelu mengulangnya, mari kita coba lagi melantunkannya, mudah-mudahan Rabbi berkenan menerima pengampunan kita. Sodaraku, Kembalilah pada-Nya, kepada Rabbi yang telah memberi kita rezeki. Sebelum kita benar-benar mengakhiri dunia ini. Titipkanlah kerinduan pada malam, sampaikan padanya jangan pernah merenggang, agar senantiasa bisa kita menikmati sepertiga malam, untuk sampaikan pesan, agar hidup kita berlimpah iman. Sodaraku, Tiada guna penyesalan, masih ada waktu, mari kita sama-sama perbaiki diri, benahi hati, sucikan jiwa. Tuailah ibrah dalam setiap kejadiaan. Mari melangkah kedepan, kita sambut hari esok penuh ceria, lukislah prestasi, gapai kemajuan, detik ini, besok ataupun nanti, hari-hari kita harus penuh prestasi. Kelak nanti akan kita temui kehidupan yang indah, diridhoi, diberkahi, tidak saja di dunia tapi juga di akhirat nanti. Sodaraku, Kita adalah mata pena yang tajam, yang siap menuliskan kebenaran Kita adalah panah-panah terbujur, yang siap dilepaskan dari busur Allah, Aku hadapkan wajah kuyu ku kehadapan-Mu. Aku mohon ampun atas segala khilaf. Aku menyadari betapa aku sangat lemah dan senantiasa tergantung pada-Mu. Rabbi, Anugerahilah aku ketaatan kepada-Mu sepanjang hayatku. Tunjukilah aku kepada sesuatu yang membuat Engkau ridho kepada ku, dan lindungilah aku dari segala sesuatu yang menyebabkan terbitnya murka-Mu pada ku. Rabb, Aku ketuk pintu taubatmu, ampuni karat-karat dosa ku. Leraikan aku dari tamak dunia dan dominasi ambisi Lepaskan aku dari sesak durjana dan nafsu amarah Yang hanya akan mengurangi kemuliaan ku di hadapan-Mu. Rabbi, tiada Tuhan selain Engkau, terangilah hati ku dengan cahaya-Mu yang tiada pernah pudar, lapangkanlah dada-dada ku dengan limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan bertawaqal pada-Mu. Rabbana, Jangan jadikan tafakur ku ini hanya sebatas rangkaian kata dan penghias lisan ku. Jadikanlah ia hijab yang tangguh dan kaca yang bening Di tengah pertarungan yang haq dan batil dalam hidupku Yang senantiasa aku hadapi dalam setiap tarikan nafasku Sulit ku bertahan, kalau tidak aku perbaharui terus perjanjian ku dengan-Mu Sulit aku tenang, kalau tidak selalu ku sebut nama-Mu dalam muhasabah harian ku Rabbi, cukuplah Engkau saja pelindung dan penolong ku


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: