Oleh: mirarahayu | Juni 20, 2009

JejAk-JeJAK BangSA2 TerDAhuLU

Jejak Bangsa-bangsa Terdahulu (2)

 

Katagori : Sirah Nabawiyah & Islam
Oleh : Redaksi 18 Aug 2006 – 3:09 pm

Ibrahim = Abraham?
Bangsa Yahudi percaya bahwa mereka adalah kaum yang dipilih Tuhan untuk selamanya dan diberi keuggulan.

Pada masa Nabi Ibrahim, agama politheisme menyebar di wilayah Mesopotamia. Sang dewa bulan, Sin, merupakan salah satu berhala yang paling penting. Ia digambarkan sebagai sesosok manusia berjenggot panjang, memakai pakaian panjang bergambar bulan sabit.

Mereka juga membuat gambar-gambar timbul dan patung-patung dari tuhan mereka dan menyembah-nya. Inilah sistem kepercayaan yang berkembang subur di Timur Dekat, dan keberadaannya terpelihara lama.

Penduduk wilayah ini terus menyembah tuhan-tuhan tersebut hingga sekitar tahun 600 M. Akibat-nya, di daerah yang membentang dari Mesopotamia hingga ke kedalaman Anatolia, banyak terdapat bangunan yang dikenal sebagai zigurat, yang digunakan sebagai pengamat bintang sekaligus kuil peribadatan, dan di sinilah beberapa tuhan, terutama Sin itu, disembah. Bentuk kepercayaan ini, sekarang hanya dapat ditemukan dalam penggalian arkeologis.

Dalam Alquran, tempat kelahiran Ibrahim dan tempat tinggalnya tidak disebutkan secara detail. Tetapi diisyaratkan bahwa Nabi Ibrahim dan Nabi Luth hidup berdekatan dan sezaman, dengan fakta bahwa malaikat yang diutus kepada kaum Luth mendatangi Ibrahim dan memberi kabar gembira kepada istrinya tentang kelahiran seorang bayi laki-laki, sebelum mereka melanjutkan perjalanan menuju Nabi Luth.

Ibrahim dalam Perjanjian Lama

Menurut penuturan Perjanjian Lama, Ibrahim lahir sekitar 1900 SM di kota Ur, salah satu kota terpenting saat itu, yang berlokasi di tenggara dataran Mesopotamia. Pada saat lahir, ia belum bernama Abraham, tetapi Abram. Namanya kemudian diubah oleh Tuhan (Yahweh).

Pada suatu hari, menurut Perjanjian Lama, Tuhan menyuruh Ibrahim mengadakan perjalanan meninggalkan negeri dan kaumnya, menuju suatu negeri yang tidak pasti dan memulai sebuah masyarakat baru di sana. Abram, saat itu berusia 75 tahun, mematuhi panggilan itu dan melaku-kan perjalanan bersama istrinya yang mandul yang bernama Sarai – kemudian dikenal sebagai Sara, yang berarti putri raja – dan Luth, putra saudaranya. Dalam perjalanan menuju ke “Tanah Terpilih” mereka singgah sebentar di Harran dan kemudian melanjutkan perjalanan.

Ketika sampai di tanah Kanaan yang dijanjikan Tuhan kepada mereka, mereka diberi tahu bahwa tempat tersebut dipilihkan khusus dan dianugerahkan buat mereka. Ketika mencapai usia 99 tahun, Abram membuat perjanjian dengan Tuhan dan namanya diubah menjadi Abraham. Dia meninggal pada usia 175 tahun dan dikebumikan dalam gua Machpelah dekat kota Hebron (Al Khalil) di Tepi Barat, yang saat ini berada di bawah pendudukan Israel.

Di mana Ibrahim dilahirkan senantiasa menjadi perdebatan. Sementara orang Nasrani dan Yahudi menyatakan bahwa Ibrahim dilahirkan di Selatan Mesopotamia, pemikiran yang lazim dalam dunia Islam adalah bahwa tempat kelahirannya berada di sekitar Urfa-Harran. Beberapa penemuan baru menunjukkan bahwa pendapat kaum Yahudi dan Nasrani tidaklah mencerminkan kebenaran yang seutuhnya.

Orang Yahudi dan Nasrani menyandarkan pendapat mereka pada Perjanjian Lama, karena di dalamnya Ibrahim dikatakan telah dilahirkan di kota Ur sebelah selatan Mesopotamia. Setelah lahir dan dibesarkan di kota ini, Ibrahim diceritakan menempuh perjalanan menuju Mesir, dan mencapainya setelah perjalanan panjang yang melewati wilayah Harran di Turki.

Namun, sebuah manuskrip Perjanjian Lama yang ditemukan baru-baru ini, telah memunculkan keraguan tentang kesahihan informasi di atas. Dalam manuskrip berbahasa Yunani dari sekitar abad ketiga SM ini, yang dianggap sebagai salinan tertua dari Perjanjian Lama yang pernah ditemukan, Ur tidak pernah disebutkan. Banyak peneliti Perjanjian Lama yang menyatakan bahwa kata Ur tidak akurat atau merupakan tambahan belakangan. Ini berarti Ibrahim tidak dilahirkan di kota Ur dan mungkin juga tidak pernah berada di wilayah Mesopotamia sepanjang hidupnya.

Di samping itu, nama-nama beberapa tempat, serta daerah yang ditunjukkannya, telah berubah karena perkembangan zaman. Saat ini, dataran Mesopotamia umumnya merujuk kepada tepi selatan daratan Irak, di antara sungai Eufrat dan Tigris. Namun, dua alaf silam, daerah Mesopotamia menunjuk sebuah daerah lebih ke utara, bahkan hingga sejauh Harran, dan membentang ke daerah Turki saat ini. Oleh karena itu, sekalipun kita menerima ungkapan dataran Mesopotamia” dalam Perjanjian Lama, tetap saja keliru jika menganggap Mesopotamia dua alaf yang lalu dan Mesopotamia hari ini sebagai tempat yang persis sama.

Dalam berbagai sumber Islam, terdapat bukti kuat bahwa tempat kelahiran Ibrahim adalah Harran dan Urfa. Di Urfa yang disebut dengan “kota para nabi” terdapat banyak cerita dan legenda tentang Ibrahim.

Dalam Alquran, Ibrahim diutus sebagai rasul bagi suatu kaum penyembah berhala. Kaum Ibrahim menyembah langit, bintang-bintang, dan bulan, serta berbagai berhala. Dia berjuang menyadarkan kaumnya itu. Dilemparkannya Ibrahim ke dalam api, penghancuran berhala-berhala kaumnya, juga tidak disebutkan dalam Perjanjian Lama. Secara umum Ibrahim hanya digambarkan sebagai nenek moyang bangsa Yahudi.

Nyatalah bahwa pandangan dalam Perjanjian Lama ini dibuat oleh para pemimpin bangsa Yahudi yang berusaha mengangkat konsep “ras” ke permukaan. Bangsa Yahudi percaya bahwa mereka adalah kaum yang dipilih Tuhan untuk selamanya dan diberi keunggulan. Mereka dengan sengaja dan penuh hasrat mengubah kitab suci mereka dan membuat berbagai penambahan serta pengurangan berdasarkan keyakinan ini.

Orang Nasrani yang mempercayai Perjanjian Lama, menganggap Ibrahim sebagai nenek moyang bangsa Yahudi, namun dengan satu perbedaan: Menurut mereka, Ibrahim bukanlah seorang Yahudi melainkan seorang Nasrani. Orang Nasrani yang tidak begitu memperhatikan konsep ras sebagaimana Yahudi, mempertahankan pandangan ini dan hal tersebut menjadi salah satu penyebab perbedaan dan pertentangan di antara kedua agama ini.

Allah memberi penjelasan atas perdebatan tersebut dalam Alquran sebagai berikut :
Ibrahim bukanlah seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi menyerahkan diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia dari golongan orang yang musyrik. Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim adalah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad) serta orang-orang yang beriman (kepada Muhammad), dan Allah adalah pelindung semua orang-orang yang beriman. (QS Ali Imran [3]: 67-68).

(www.harunyahya.com )


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: