Oleh: mirarahayu | Juni 29, 2009

Mengenal SCM

Pengertian SCM

1. Definisi Supply Chain
Beberapa definisi supply chain menurut beberapa penulis, antara lain:
Menurut Chopra dan Meindl (2001):
Suatu supply chain mencakup semua tahap, yang secara langsung atau tak langsung, dalam memenuhi permintaan pelanggan. Supply chain itu tidak hanya mencakup perusahaan manufaktur dan pemasok, tetapi juga pihak-pihak yang terlibat dalam kegiatan transportasi, pergudangan, pengecer, dan para pelanggan itu sendiri. Dalam setiap organisasi, supply chain tersebut mencakup semua fungsi yang terlibat dalam pemenuhan permintaan pelanggan. Fungsi-fungsi ini meliputi – tetapi tidak terbatas pada, pengembangan produk baru, pemasaran, operasi, distribusi, keuangan, dan pelayanan pelanggan.
 Suatu supply chain merupakan suatu rangkaian proses-proses dan aliran-aliran yang terjadi di dalam dan di antara tahapan rantai pasok yang berbeda dan berkombinasi untuk memenuhi kebutuhan pelanggan atas suatu produk.
Menurut Stevens dalam Towill (1996:41):
Supply chain didefinisikan sebagai suatu sistem yang mempunyai bagian-bagian pokok yang mencakup pemasok material, fasilitas produksi, jasa distribusi, dan pelanggan, yang terhubungkan bersama melalui aliran arus-maju (feedforward) material dan arus-balik (feedback) informasi.

2. Definisi Supply Chain Management
Sejak tahun 1980-an, telah dikembangkan istilah supply chain management (SCM). Istilah ini banyak digunakan, walaupun dengan beberapa kerancuan pengertian. Sejumlah pihak menggunakannya sebagai sinonim untuk “logistik” (Lambert,1998). Beberapa pihak memberikan definisi/pengertian supply chain management sbb.:
Menurut Fortune Magazine (artikel Henkoff, 1994):
Proses dimana perusahaan memindahkan material, komponen dan produk ke pelanggan.
Menurut Ross (1998) :
SCM adalah filosofi manajemen yang secara terus –menerus mencari sumber-sumber fungsi bisnis yang kompeten untuk digabungkan baik dalam perusahaan maupun luar perusahaan seperti mitra bisnis yang berada dalam supply chain untuk memasuki sistem supply yang berkompetitif tinggi dan memperhatikan kebutuhan pelanggan, yang berfokus pada pengembangan solusi inovatif dan sinkronisasi aliran produk, jasa dan informasi untuk menciptakan sumber nilai pelanggan (customer value) yang bersifat unik.
Menurut Martin (1998) :
SCM adalah jaringan organisasi yang melibatkan hubungan upstream dan downstream dalam proses dan aktivitas yang berbeda yang memberi nilai dalam bentuk produk dan jasa pada pelanggan.
Menurut Simchi-Levi (2000) :
Suatu kumpulan pendekatan yang digunakan untuk mengintegrasikan secara efisien antara pemasok, perusahaan manufaktur, pergudangan, dan toko, sehingga barang diproduksi dan didistribusikan dengan kuantitas yang tepat, lokasi tepat, dan waktu yang tepat, untuk meminimumkan biaya-biaya pada kondisi yang memuaskan kebutuhan tingkat pelayanan.
Menurut Lambert (1998) :
 Integrasi atas proses-proses bisnis dari pengguna akhir melalui pemasok awal yang menyediakan produk, jasa, dan informasi yang memberikan nilai tambah bagi pelanggan.
 Supply chain management merupakan manajemen atas semua proses-proses bisnis kunci di antara anggota-anggota rantai pasok. Proses-proses itu mencakup: manajemen hubungan pelanggan, manajemen pelayanan pelanggan, manajemen permintaan, pemenuhan pesanan, manajemen aliran manufaktur, pembelian, dan pengembangan dan komersialisasi produk (untuk beberapa perusahaan termasuk saluran pengembalian [returns channel].
Menurut Handfield (1999) :
Integrasi atas kegiatan-kegiatan dalam suatu rantai pasok dengan hubungan yang diperbaiki, untuk mencapai suatu keunggulan bersaing yang berkelanjutan.
Menurut Chopra & Meindl (2001) :
Mencakup manajemen atas aliran-aliran di antara tingkatan dalam suatu supply chain untuk memaksimumkan keuntungan total.

Menurut Christopher, M., (1998).
Supply Chain merupakan jaringan dari sebuah organisasi yang melibatkan, upstream dan downstream pada process dan aktivitas yang berbeda yang berbeda yang hasilkan nilai tambah dalam bentuk produk maupun pelayanan terhadap konsumen. Dimana tujuan dari aktivitas supply chain dirancang menurut kebutuhan konsumen. Fokus utama dari aktivitas supply chain adalah untuk pemenuhan pemesanan, dan merespon aliran material, uang dan informasi. Definisi yng tepat untuk menggambarkan supply chain dapat dilihat pada gambar 1

Gambar 1 House of SCM

3. Definisi Manajemen Logistik

Menurut Ballau (1999)
Sekumpulan aktivitas fungsional yang berkelanjutan melalui sebuah saluran dimana bahan baku dirubah menjadi bahan jadi dan menjadi nilai tambah di depan konsumen. Karena sumber bahan baku, plants, dan selling point tidak berada dalam satu lokasi dan saluran merepresentasikan urutan tahapan manufakturing, aktivitas logistik membutuhkan banyak waktu sebelum produk sampai di tempat pemasaran.

Menurut Bowersox (2002)
Logistik merupakan sekumpulan subset yang berada dalam framework supply chain. Logistik adalah proses pertambahan nilai dengan mengatur posisi dan waktu inventory, dimana ada kombinasi antara firm’s order management, inventory, transportation, warehousing, material handling, dan packaging sebagai sesuatu yang terintegrasi dalam sebuah jaringan fasilitas.

4. Perbedaan Manajemen Logistik dan SCM
Tidak ada perbedaan yang menyolok antara SCM dan Manajemen Logistik, hanya saja SCM dipandang sebagai logistik bagian luar perusahaan yang meliputi pelanggan dan supplier. Manajemen logistik lebih memfokuskan pada pengoptimalan rencana orientasi dan kerangka kerja berupa pembuatan rencana tunggal untuk aliran produk dan informasi di dalam perusahaan, sedangkan SCM merasa tidak cukup hanya integrasi bagian dalam. Tujuan utama SCM adalah mengurangi atau bahkan menghilangkan persediaan buffer yang terlibat antara beberapa departemen dalam satu rantai dengan cara saling membagi informasi mengenai demand dan persediaan yang ada sekarang.

II. Mengapa SCM

Konsep supply chain pada hakekatnya mempunyai daya tarik karena rencana bisnis baru yang ditawarkan berpotensi untuk meningkatkan pelayanan pelanggan. Konsep tersebut juga menyebabkan efisiensi dan efektifitas jaringan bisnis yang dapat meningkatkan efisiensi dengan mengurangi duplikasi dan pekerjaan yang tidak produktif.

1. Symptom dari tidak baiknya Supply Chain

Supply chain menjadikan satu sama lain menjadi tergantung karena adanya kontrak-kontrak yang harus dipatuhi bersama. Tiap perusahaan yang berada dalam satu rantai dan terintegrasi tidak dapat memutuskan segala sesuatu secara sepihak, segala sesuatunya harus dibicarakan bersama. Hal ini dapat menyebabkan sulit mengembangkan perusahaan dengan maksimal sesuai dengan keinginan.

Penerapan strategi bisnis ini sangat sulit karena ada beberapa hal yang harus dimiliki sebagai modal utama melakukan bisnis dengan strategi ini, yaitu
1. Leadership
Untuk mencapai keberhasilan dalam suatu supply chain diperlukaan leadership. Hal ini diperlukan karena kolaborasi akan terlaksana apabila ada peran leadership.
2. Loyal/ sejajar
Hampir pada setiap keadaan perusahaan yang berpartisipasi dalam suatu supply chain juga secara simultan terikat dalam segala rencana.
3. Pengukuran
Dalam bisnis individu, balance sheet dan income statement harus dibuat dalam keseragaman prinsip akuntansi. Dalam supply chain tidak ada keseragaman dalam performansi.
4. Resiko/ Berbagi keuntungan
Dalam hal ini kerugian atau keuntungan tidak hanya jatuh pada satu perusahaan saja, akan tetapi seluruh perusahaan yang terlibat ikut menanggung resikonya baik rugi maupun untung.
5. Kesuksesan yang terbatas
Supply chain tidak mematok kesuksesan untuk jangka waktu yang panjang.
6. Anti trust
Antitrust menentang kerjasama supply chain atas dasar doktrin kompetisi perdagangan bebas.
7. Consumer value concern
Hasil efisiensi supply chain tidak menguntungkan semua orang.
Ada 2 kritik mengenai supply chain, yang pertamamelaksanakan efisiensi tidak tidak ada garansi untuk harga eceran yang rendah. Yang kedua, pelaksanaan efisiensi tidak selalu pantas dimasyarakat.

2. Indikator Kinerja yang dapat diperbaiki dengan mengembangkan system SCM

Dengan mengembangkan sistem supply chain maka kinerja yang dapat diperbaiki dapat melalui fasilitas, inventori, transportasi dan informasi. Sehingga performansi sistem SCM dianggap sukses tidaknya dapat dilihat dari harga, mutu barang serta layanan (kecepatan, kemudahan, dsb.)

Berikut ini adalah supply chain decision – making frameworknya,

Gambar 2. Supply chain decision-making framework

Dengan terbukanya pasar bebas yang mendunia (globalisasi) maka terjadi begitu banyak dan begitu ketat persaingan antar perusahaan dan antar produk. Sehingga perusahaan dituntut untuk merancang, mengelola dan mengoptimalkan supply chain. Terdapat beberapa permasalahan yang terjadi bila perusahaan tidak mengelola dan mengoptimalkan supply chain, dan permasalahan ini tentunya akan berakibat tidak baik terhadap konsumen yaitu :
• Harga barang menjadi tidak kompetitif dan sulit ditemukan oleh konsumen
• Pilihan sumber pembelian tidak banyak
• Mutu barang tidak dapat dijamin dengan baik
• Penyediaan barang menjadi tidak cepat

Dengan mengembangkan dan mengoptimalkan SCM, maka permasalahan-permasalahan yang disebutkan diatas dapat diperbaiki. Bagi para konsumen, ini merupakan keuntungan karena konsumen mendapatkan :
• Harga barang yang lebih kompetitif dan mudah ditemukan
• Pilihan sumber pembelian yang lebih banyak
• Mutu barang yang lebih baik
• Penyediaan barang yang lebih cepat

III. Model umum Supply Chain

Secara umum, model supply chain digambarkan seperti pada gambar berikut ini :

Gambar 3 Model Umum Supply Chain

Berdasarkan gambar diatas, dapat dilihat bahwa dalam supply chain tersebut terdapat beberapa pemain utama yang merupakan perusahaan-perusahaan yang mempunyai kepentingan yang sama, yaitu :
• Suppliers
• Manufacturer
• Distributors
• Retailer outlets
• customer
IV. Kajian Pull-Based VS Push-Based Supply Chain

Jaringan rantai pasok dikategorikan menjadi dua, yaitu:
Push-based Supply Chain
Dalam Push-based Supply Chain, keputusan produksi berdasarkan peramalan jangka panjang. Manufaktur menggunakan penerimaan pesanan dari gudang pengecer untuk meramalkan permintaan konsumen. Hal ini berarti memakan banyak waktu bagi Push-based Supply Chain untuk bereaksi dalam perubahan pasar. Ini dapat berperan pada :
• Ketidakmampuan menemukan perubahan pola permintaan
• Keusangan pada inventori rantai pasok sebagai permintaan pada produk yang pasti hilang.

Peningkatan variabilitas dalam permintaan pelanggan berperan untuk :
• Kelebihan inventori karena kebutuhan stok penyimpanan yang besar
• Perluasan dan variabel produksi yang lebih
• Penolakan tingkat pelayanan
• Keusangan produk

Gambar 4 kajian push – based strategy

Pull-based Supply Chain
Dalam Pull-based Supply Chain, produksi dikirimkan karena permintaan sehingga dikoordinasikan dengan permintaan pelanggan yang aktual dari pada peramalan. Untuk tujuan ini, rantai pasok menggunakan mekanisme arus informasi yang cepat untuk mengirimkan informasi tentang permintaan pelanggan ke fasilitas manufaktur. Ini berperan untuk :
 Pengurangan dalam peran waktu yang dicapai melalui kemampuan mengantisipasi dengan baik datangnya pesanan dari pengecer.
 Pengurangan dalam inventori pada pengecer sejak tingkat inventori pada fasilitas-fasilitas ini meningkat dengan peran waktu.
 Pengurangan dalam variabilitas sistem dan variabilitas yang dihadapi manufaktur karena reduksi lead time.
 Pengurangan inventori pada manufaktur karena reduksi variabilitas.

Pull-based Supply Chain sering kali sulit untuk diimplementasikan ketika lead time sangat lama, ini berarti tidak praktis untuk bereaksi pada informasi permintaan. Selain itu, sistem ini juga sulit diperoleh keuntungan skala ekonomi dalam manufaktur dan transportasi karena sistem tidak direncanakan lebih jauh dalam waktu.

V. Strategi SCM

Strategi competitive dari sebuah perusahaan tergantung dari kebutuhan konsumen yang bertujuan untuk memberikan kepuasan terhadap konsumen melalui produk dan pelayanan. Hubungan antara competitive dan supply chain strategy dapat dilihat dari perubahan nilai tambah. Pertambahan nilai dimulai dari pengembangan produk baru. Marketing dan sales menghasilkan demand. Marketing juga menghasilkan input balik ke new produk development.

Gambar 5 the Value Chain in a company

Strategi dari supply chain termasuk didalamnya supplier strategy, operation strategy dan logistic strategy. Keputusan termasuk didalamnya inventory, transportation, operations facilities dan aliran informasi dalam suplly chain merupakan bagian dari strategi supply chain.

Gambar 6 Fit competitive and Functional Strategies

Untuk mengetahui bagaimana sebuah perusahaan dapat meningkatkan performansi supply chain management dengan tujuan responsivness dan efficiency, maka dapat terukur dari 4 paramater performansi supply chain, yaitu :
Facilities; merupakan jaringan supply chain dimana produk disimpan, di rakit atau di buat, dimana fungsi dari falitas mempunyai peranan yang cukup besar dalam performansi supply chain.
Inventory; persediaan yang dimaksud adalah raw material, barang setengah jadi ataupun barang jadi. Jika kebijakan inventory berubah maka hal ini akan merubah keseluruhan performansi efficiency dan effectiveness dari supply chain
Transportation; transportasi dibutuhkan untuk menghantarkan barang dari point of origin ke point of destination
Information; informasi ini terdiri dari data dan analisis dari fasilitas, inventory, transportasi dan konsumen yang ada para supply chain.

Goal dari supply chain merupakan customer service goal, ada 3 strategi dalam mencapai customer service yaitu inventory strategy, transport strategy dan location strategy :
1. Location strategy
Strategi penentuan lokasi menjadi salah satu faktor yang menentukan struktur dari sebuah supply chain. Dasar keputusan pemilihan lokasi ditujukan untuk memilih lokasi yang cocok untuk mengukur skala ekonomis atau untuk decentralize untuk lebih merespon terhadap keinginan konsumen.
2. Inventory strategy
Inventory di perlukan dalam supply chain karena adanya ketidak samaan antara supply dan demand.

3. Transport strategy
Transportasi memindahkan produk dari stage satu ke stage yang lainnya dalam supply chain. Transportasi mempunyai pengaruh yang besar baik terhadap responsiveness maupun efficiency

Gambar 7 Supply chain strategy

Konstribusi Supply Chain Terhadap Strategi bisnis

Gambar 8 Konstribusi Supply Chain Terhadap Strategi bisnis
(sumber : http://www.prtm.com)


Responses

  1. Kerangka dalam memutuskan perancangan jaringan Supply Chain
    Tujuan dari perancangan jaringan Supply Chain adalah untuk memaksimasi keuntungan perusahaan namun tetap memuaskan pelanggan. Secara global, memutuskan perancangan jaringan dapat dilakukan melalui empat tahap, yaitu:
    1. Fase 1: Menetapkan strategi atau desain Supply Chain
    Tujuan dari fase ini adalah menetapkan rancangan kasar Supply Chain perusahaan. Adapun yang harus dilakukan dalam fase ini adalah:
     Fase ini diawali dengan menyamakan persepsi bahwa strategi perusahaan merupakan serangkaian kebutuhan pelanggan yang harus dipenuhi dengan adanya supply chain.
     Menspesifikasikan kemampuan apa yang harus dimiliki oleh perusahaan untuk mendukung strategi.
     Meramalkan evolusi kompetisi dalam tiap pasarnya baik global maupun local.
     Mengidentifikasi halangan-halangan yang mungkin terjadi dalam modal yang tersedia saat ini maupun pertumbuhan yang terjadi dengan adanya fasilitas eksisting, membangun fasilitas baru, atau bergabung dengan perusahaan lain.

    2. Fase 2: Menetapkan konfigurasi fasilitas daerah
    Tujuan dari fase ini adalah menidentifikasi daerah yang akan dijadikan lokasi, potensial yang ada didalamnya, perkiraan kapasitasnya. Adapun yang harus dilakukan dalam fase ini adalah:
     Meramalkan permintaan tiap Negara yang terdiri dari jumlah, pertumbuhannya, macamnya, dan spesifikasi lokalnya.
     Mengidentifikasi seperti apakah tingkat ekonomi maupun jangkauannya. Hal ini dapat memberikan pengaruh yang signifikan dalam pengurangan biaya. Maksudnya adalah jika pada suatu daerah mempunyai tingkat ekonomi yang signifikan, maka lebih baik mendirikan sedikit fasilitas untuk melayani beberapa pasar dan sebaliknya.
     Mengidentifikasi resiko-resiko yang mungkin terjadi dari segi pajak, bunga, larangan-larangan eksport import dan semuanya yang berhubungan dengan financial.
     Mengidentifikasi competitor dalam tiap daerahnya dan membuat kemungkinan-kemungkinan apakah fasilitas yang akan didirikan akan dilokasikan dekat atau jauh dari fasilitas competitor.

    3. Fase 3: Memilih satu rangkaian lokasi potensial yang diinginkan
    Tujuan dari fase ini adalah memilih kumpulan-kumpulan potensial dalam daerah yang akan dijadikan lokasi.

    4. Fase 4: Pemilihan lokasi
    Tujuan dari fase ini adalah memilih lokasi yang tepat dan alokasi kapasitas untuk tiap fasilitasnya. Pada fase ini, perhatian ditujukan pada potensi yang diinginkan pada fase 3.

    Nama : Mitha Rizqyana Dewi
    NIM : 112060030

  2. The role of aggregat planning in a supply chain
    Didalam manufacturing,transportation ,rumah produksi dan banyaknya informasi adalah terbatas.
    Untuk membuat sebuah barang pasti mengeluarkan biaya,untuk itu maka sebuah perusahaan harus membuat keputusan yang berhubungan dengan berapa banyak yang harus di produksi,untuk menghindari kerugian,dan perusahaan tersebut harus mengantisipasi demand dari konsumen.

    Aggregat planning adalah suatu proses dimana suatu perusahaan memutuskan berapa banyak yang harus diproduksi,subcontracting,inventori,stokeout.tujuan dari agregat planning adalah untuk memenuhi demand dengan mengharapkan pendapatan lebih besar. metode aggregat planning menentukan jumlah produksi dalam satu bulan kedepan,hal tersebut bukan tidak melalui penfsiran berapa banyak setiap SKU (stock kepping unit) individual dapat diproduksi.

    Biasanya,kebanyakan dari agregat planning itu tidak dimasukkan sebagai bagian dari supply chain management.output dari aggregat planning adalah seberapa banyak yang kita produksi dan seberapa banayak yang diproduksi oleh patner kerja kita untuk menghasilkan profit yang besar.

    nama: yan harry m.manik
    nim : 112060110

  3. Dampak ketidakpastian pasokan dalam keamanan persediaan

    >Pada pembahasan ini, hanya focus pada situasi dimana ketidakpastian permintaan yang berupa kesalahan peramalan. Dalam banyak situasi, ketidakpastian persediaan juga memainkan peran penting.

    >contohnya kasus lembah pabrik perakitan di Austin, Texas. Dell merakit komputer untuk pesanan pelanggan. Ketika merancang tingkat persediaan komponen, Dell jelas harus mempertimbangkan permintaan. Pemasok, mungkin tidak dapat memberikan komponen yang diperlukan pada waktunya karena berbagai alasan. Dell juga harus memperhitungkan ketidakpastian pasokan ini ketika merencanakan persediaan keamanannya.

    >Dalam diskusi sebelumnya kita menganggap lead time pengisian harus diperbaiki. Dalam bagian ini kita mempertimbangkan kasus di mana lead time tidak pasti dan mengidentifikasi dampak ketidakpastian lead time pada keselamatan persediaan.

    >Mengasumsikan bahwa permintaan pelanggan per periode untuk Dell komputer dan pengisian lead time dari pemasok komponen terdistribusi secara normal.

    >kita memberikan masukan berikut :
    >D : rata-rata permintaan per periode
    δD : Standar deviasi permintaan per periode
    L : Rata-rata lead time dari pengisian
    ЅL : Standar deviasi lead time

    >Sebagai komponen yang digunakan dalam produk jadi lebih banyak, perlu lebih fleksibel. Sebagai akibatnya, biaya produksi komponen biasanya meningkat seiring dengan meningkatnya kesamaan. Mengingat bahwa keuntungan marjinal kesamaan komponen berkurang ketika kita meningkatkan kesamaan, kita perlu trade off kenaikan komponen biaya dan penurunan persediaan pengaman ketika memutuskan pada tingkat yang sesuai kesamaan komponen.

    >Dalam praktiknya, variabilitas persediaan lead time disebabkan oleh praktek-praktek baik pada pemasok serta pihak yang menerima perintah. Pemasok kadang-kadang mempunyai alat perencanaan yang buruk yang tidak memungkinkan mereka untuk jadwal produksi dengan cara yang dapat dieksekusi. Hari ini, sebagian besar perangkat lunak perencanaan rantai pasok memiliki alat perencanaan produksi yang baik yang memungkinkan pemasok untuk janji lead time yang dapat dicapai. Ini membantu mengurangi lead time variabilitas. contoh lain, perilaku partai sering menempatkan urutan waktu memimpin variabilitas meningkat.

    Nama : Andreas Josua Novan
    NIM : 112060107

  4. DAMPAK DARI ATURAN PENGISIAN PADA PERSEDIAAN KEAMANAN
    Aturan Pemeriksaan Secara Kontinu
    Ketika menggunakan aturan pemeriksaan secara kontinu, seorang manajer memerintah Q units ketika persediaann didrop ke ROP. Pengaturan ini memerlukan teknologi yang memonitor tingkat persediaan yang tersedia. Ini terjadi pada banyak perusahaan seperti Dell, dimana persediaan-persediaan nya dimonitor secara kontinu.
    ROP merupakan representasi dari persediaan yang ada untuk memenuhi permintaan selama lead time L. Stockout terjadi jika permintaan selama lead time lebih besar dari ROP. Jika permintaan seluruh periode bebas, permintaan selama lead time merupakan berdistribusi normal sebagai berikut :
    Rata-rata permintaan selama lead time (DL) = DL
    Standar deviasi dari permintaan selama lead time, L = LD
    Seorang manajer yang menggunakan aturan pemeriksaan secara kontinu harus meninjau perhitungan hanya untuk ketidakpastian dari permintaan selama lead time. Hal ini dikarenakan pemantauan yang terus-menerus memungkinkan manajer untuk menyesuaikan waktu dari pesanan pengisian ulang, tergantung dari permintaan. Jika permintaan sangat tinggi, Persediaan mencapai ROP secara cepat, pengisian ulang dilakukan cepat. Jika permintaan sangat rendah, maka persediaan turun secara perlahan ke ROP, pengisian ulang tertunda.
    Aturan Tinjauan Secara Berkala
    Pada aturan tinjauan secara bekala, tingkat persediaan dilihat setelah satu periode tertentu (T) dan sebuah pesanan ditempatkan sedemikian rupa sehingga tingkat persediaan saat ini ditambah dengan pengisian sama banyaknya, ini disebut order-up-to-level (OUL). Interval tinjauannya adalah waktu T anatara pesanan yang sukses. Dengan mengamati bahwa ukuran dari setiap pesanan itu beragam, tergantng pada permintaan yang lama antara pesanan yang sukses dan persediaan yang dihasilkan pada waktu memesan.
    Kita asusmsikan bahwa inputan – nya sebagai berikut :
    D : rata-rata permintaan per periode
    D : standar deviasi dari permintaan per periode
    L : rata-rata lead time utuk pengisian
    T : interval pengecekan
    CSL : tingkatan perputaran servis yang diinginkan
    Sekali sebuah pesanan ditempatkan, banyaknya pengisian dating setelah lead time L. Tinjauan periode berikutnya adalah T, ketika manajer menempatkan ke pesanan berikutnya, dimana waktunya menjadi T + L. OUL merepresentasikan persediaan yang ada untuk bertemu semua permintaan yang timbul antara periode 0 dan T + L. Berikut adalah identifikasi dari OUL :
    Probability(demand during L + T ≤ OUL ) = CSL
    Permintaan selama interval waktu T+L adalah berdistribusi normal dengan :
    Rata-rata permintaan selama periode T+L, DT+L= (T+L)D
    Standar deviasi permintaan selama periode T+L, T+L = T+LD
    Sekarang kita dapat membandingkan persediaan yang aman yang diperlukan ketikan menggunakan tinjauan kontinu atau berkala. Dengan tinjauan kontinu, safety inventory digunakan untuk mencapai permintaan yang tak pasti pada lead time L. Dengan tinjauan berkala, safety inventory digunakan untuk mencapai permintaan yang tak pasti pada lead time dan tingkatan tinjauan L+T.
    Dengan kata lain, pada tinjauan berkala membutuhkan safety inventory yang lebih banyak dibanding tinjauan kontinu untuk lead time yang sama dan tingkatan ketersediaan produk.

    Nama : Rahamwati
    NIM : 112060127

  5. 10.3. ECONOMIES OF SCALE MEMANFAATKAN QUANTITY DISCOUNTS

    Penetuan harga menunjukkan economies of scale, dimana saat ukuran lot meningkat, harga menurun
    Ada 2 macam diskon, antara lain :
    Lot size based discount
    Penentuan harga diskon berdasarkan jumlah yang dipesan tiap satu lot. Skema diskon yang sering dipakai berdasarkan metode diskon ini antara lain :
    All unit quantity discount
    Meginal unit quantity discount
    Volume based discount
    Penentuan diskon berdasarkan jumlah total pembelian pada suatu waktu tertentu tanpa menghiraukan jumlah lot yang dibeli pada periode tersebut
    All Unit Quantity Discount
    Pada metode ini terdapat spesifikasi break point harga dengan istilah q0, q1, …., qn. Selain itu, juga ditetapkan unit cost yang spesifik pula mengikuti break point tersebut.
    Tujuan para retailer adalah untuk memaksimalkan profit dan mengurangi biaya-biaya material,, order, dan holding cost. Untuk mengetahui berapa total biaya yang akan dikeluarkan ketika proses pengadaan barang dilakukan, dipakai formula sebagai berikut :
    Q_i=√(2DS/(hC_i ))
    Dengan : D = demand per tahun
    S = order cost per lot
    h = holding cost
    Ci = unit cost yang berlaku pada order quantity qi
    Dengan beberapa tipe kasus sebagai berikut :
    q_i≤Q_i<q_(i+1)
    Bila didapat keadaan seperti ini, maka total annual cost- nya :
    〖TC〗_i=(D/Q_i )S+Q_i/2 hC_i+DC_i
    Q_i<q_i
    Bila didapat keadaan seperti ini, maka total annual cost- nya :
    〖TC〗_i=(D/q_i )S+q_i/2 hC_i+DC_i

    Q_i≥q_(i+1)

    Dari total annual cost yang didapatkan, maka dipilih TC yang paling minimum, maka lot size pada TC tersebutlah yang optimum dipesan.
    Penentuan harga dengan metode ini mendorong retailer untuk memesan lot dalam julah yang besar sehingga didapatkan untung dari discount price.

    Marginal Unit Quantity Discount
    Sama seperti metode All Unit Quantity Discount, hanya saja dalam metode ini yang berperan adalah marginal cost per unit bukan unit cost. Solusi yang diinginkan adalah mengoptimalkan lot size untuk setiap marginal price dimana lot size tersebut juga dapat meminimaasi biaya keseluruhan dengan menggunakan formula di bawah ini :
    Q_i=√((2D(S+V_i-q_i C_i))/(hC_i ))

    Dengan : Vi = order cost per unit qi
    Ci = marginal cost yang berlaku pada order quantity qi
    Dengan beberapa tipe kasus sebagai berikut :
    q_i≤Q_i<q_(i+1)
    Bila didapat keadaan seperti ini, maka total annual cost- nya :
    〖TC〗_i=(D/Q_i )S+[V_i+(Q_i-q_i ) C_i ] h⁄2+D/Q_i [V_i+(Q_i-q_i ) C_i ]
    Q_i<q_i dan Q_i≥q_(i+1)
    Bila didapat keadaan seperti ini, maka total annual cost- nya :
    〖TC〗_i=Min[(D/q_i )S+(V_i h)/2+D/q_i V_i D/q_(1+1) S+(V_(i+1) h)/2+D/q_(i+1) V_(i+1) ]

    Quantity Discount berperan dalam supply chain Karen 2 alasan berikut :
    Mengembangkan koordinasi untuk meningkatkan profit dari supply chain tersebut
    Suatu supply chain dikatakan terkoordinasi jika retailer dan supplier memaksimalkan total keuntungan supply chain tersebut. Ada beberapa hal yang dapat mempengaruhi perolehan profit suatu supply chain :
    Untuk produk-produk komoditi dimana harga ditentukan oleh pasar, para produsen / supplier dengan fix cost per lot yang besar bisa menggunakan metode lot size-based quantity discount untuk memaksimasi totalprofit supply chain
    Keuntungan supply chain akan berkurang bila masing-masing bagian dari supply chain tersebut menentukan harganya sendiri secara independen dengan tujuan untuk meningkatkan keuntungannya sendiri
    Untuk produk-produk yang memiliki market power, two-part tariff atau volume based quantity discount dapat digunakan untuk mencapai supply chain yang terkoordinasi yang dapat meningkatkan keuntungan supply chain tersebut
    Untuk produk-produk yang memiliki market power, lot size-based discount tidak cukup optimal untuk supply chain yang mempunyai inventory cost
    Mengekstrak kelebihan barang dengan diskriminasi harga
    Diskriminasi harga yaitu suatu kebijakan suatu perusahaan untuk memberlakukan harga yang berbeda-beda tiap-tiap produknya demi tercapainya suatu keuntungan yang maksimal. Misalnya, tariff kursi pesawat yang dibedakan berdasarkan kelas-kelas tertentu.
    Para produsen dapat memperoleh seluruh area di bawah kurva pemintaan di atas marginal costnya melalui pemberlakuan pendeskriminasian harga produk-produknya berdasarkan evaluasi marginal dari para customernya untuk tiap-tiap kuantitas produk. Metode quantity discount merupakan salah satu cara yang cocok untuk diterapkan di system ini Karen para customer membayar dengan harga yang berbeda-beda sesuai dengan jumlah barang yang dibelinya.

    nama : Anindita A. P.
    NIM : 112060037
    kelas TI 30 G 1

  6. KERANGKA KERJA DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN PADA DESAIN NETWORK

    Tujuan dalam mendesain sebuah jaringan supply chain (supply chain network) adalah untuk memaksimalkan keuntungan perusahaan selagi proses pemenuhan kebutuhan pelanggan dilakukan.
    Untuk dapat mendesain suatu jaringan yang efektif, manajer harus dapat memahami faktor – faktor yang terdapat pada Global Network Design Decision, berikut adalah penjelasan dari tiap fase pada Global Network Design Decision :

    FASE I: Menentukan Strategi/Desain Supply Chain

    Fase ini merupakan fase pertama pada network design yang bertujuan untuk menentukan desain supply chain perusahaan secara luas, termasuk proses pembagian tahapan pada supply chain.
    Fase satu dimulai dengan memperjelas strategi kompetitif perusahaan sebagai dasar dari kebutuhan pelanggan yang harus dipenuhi oleh supply chain. Kemudian langkah selanjutnya manajer harus meramalkan evolusi yang terjadi pada kompetisi global, selain itu manajer juga harus mengidentifikasikan kendala – kendala yang terjadi pada fasilitas existing, atau kendala dalam memutuskan untuk membangun fasilitas baru ataupun bekerjasama.

    FASE II : Menentukan Konfigurasi fasilitas daerah

    Tujuan fase ini adalah mengidentifikasi daerah – daerah dimana fasilitas – fasilitas akan ditempatkan, kelebihan, dan perkiraan kapasitas.
    Fase ini dimulai dengan meramalkan jumlah permintaan dari suatu Negara termasuk ukuran permintaan,dll. Langkah selanjutnya, manajer mengidentifikasikan cakupan/skala ekonomi yang mana yg dapat bermain secara signifikan dalam mereduksi ongkos produksi. Apabila skala/cakupan ekonominya cukup signifikan maka akan lebih baik jika memiliki beberapa fasilitas yang melayani banyak pasar, namun apabila skala ekonominya tidak signifikan maka akan lebih baik jika tiap – tiap pasar memiliki fasilitasnya sendiri. Langkah selanjutnya adalah mengidentifikasikan resiko permintaan, resiko nilai tukar, dan resiko politik yang mempengaruhi pasar. Manajer juga harus dapat mengidentifikasi pesaing – pesaing diiap daerah.

    FASE III : Memilih Perangkat Posisi Potensial Yang diinginkan

    Tujuan fase ini adalah memilih perangkat dari posisi potensial yang diinginkan termasuk masing – masing daerah dimana fasiitas – fasilitas tersebut akan dilokasikan. Posisi harus dipilih berdasarkan suatu analisa kemampuan infrastruktur untuk mendukung metodelogis produksi yang diinginkan.

    FASE IV : Pemilihan Lokasi

    Fase ini bertujuan untuk menyeleksi lokasi yang tepat dan kapasitas alokasi untuk tiap – tiap fasilitas.

    Nama : WENNY DARLIS MAULIDA
    NIM : 112061027

  7. Faktor yang mempengaruhi tingkat keoptimalan dari ketersediaan suatu produk

    Untuk mengerti faktor yang berpengeruh terhadap tingkat keoptimalan dari ketersediaan suatu produk , kita dapat mengambi l contoh dari kasus LL Bean, suatu perusahaan yang menjual pakaian. L.L Bean membeli jaket sky dalam jumlah yang sangat besar untuk di jual kembali. Hal ini memiliki keuntungan dan juga resiko, keuntungannya adalah konsumen dari L.L Bean tidak akan pernah merasakan kecewa dikarenakan stok jaket sky yang disediakan habis terjual, sedangkan resikonya jika jaket skynya tidak habis terjual maka L.L Bean merugi cukup banyak. Hal ini bekebalikan jika L.L Bean membeli stok jaket sky dalam jumlah sedikit. Keuntunganya L.L bean membeli stok sedikit adalah peluang untuk tidak terjualnya jaket menjadi lebih kecil. Akan tetapi hal tesebut akan membuat keinginan konsumen untuk mebeli jaket menjadi berkurang, karena jaketnya telah terjual habis. Kesimpulannya ada dua faktor utama yang mempengaruhi tingakat keoptimalan dari ketersedian suatu produk adalah:
    1. Cost of overstoking the product
    Kerugian yang dialami oleh sebuah perusahaan untuk setiap unit yang tidak tejual pada akhir musim penjualan.
    2. Cost of understoking the product
    Selisih kerugian yang dialami oleh sebuah perusahaan untuk setiap penjualan yang gagal yang disebabkan karena tidak tersedianya barang dagangan lagi.
    Untuk menghitung jumlah ramalan permintaan dapat menggunakan rumus sebagai berikut
    Expeted demand = ΣDipi
    pi = probabilitas bahwa permintaan setara dengan Di
    Di = permintaan

    nama: m ikram riadi
    nim: 112060167

  8. TRADE PROMOTION
    Pengusaha menggunakan promosi dagang atau trade promotion untuk menawarkan potongan harga dan batas waktu pemotongan harga. Trade promotion sudah cukup biasa didengar oleh konsumen dari industri produk atau barang yang terbungkus (package-goods). Setiap produk tersebut dipromosikan oleh para pengusaha dengan potongan harga yang berbeda dan waktu yang berbeda pula. Tujuan atau goal dari trade promotion adalah mempengaruhi pengecer untuk melakukan tugasnya dengan cara yang dapat membantu para pengusaha untuk mencapai sasarannya.
    Kunci sukses para pengusaha adalah :
    1. Membujuk pengecer untuk memberikan potongan harga, menunjukkan (display) produk di toko mereka atau mengiklankan di cabang penjualan produk tsb.
    2. Mengubah inventory dari pengusaha kepada para pengecer dan kastemer.
    3. Mempertahankan kompetisi pertarungan brand atau merk.
    Kunci Sukses para pengecer adalah :
    1. Meneruskan beberapa atau semua promosi produk pada kastemer dan cabang penjualan produk tersebut.
    2. Meneruskan promosi ke tangan kastemer jika belanja dengan kuantitas yang banyak selama masa promosi untuk memanfaatkan pengurangan harga yang ada.
    Forward Buy adalah ketika seorang pengecer belanja produk pada masa promosi dan dijual kembali pada periode yang akan datang. Hal ini dapat membantu para pengecer untuk mengurangi Cost Of Good Sold produk setelah masa promosi berakhir. Dengan menggunakan system ini kita dapat mengetahui bagaimana respon optimal dari para pengecer ketika menghadapi trade promotion. Kita dapat mengilustrasikan pengaruh besar dari system ini dengan sebuah formula, yaitu :

    Dimana D adalah demand per tahun, C adalah harga produk per item dan h adalah holding cost atau biaya penyimpanan produk.
    Biaya yang dibebankan kepada pengecer harus mempertimbangkan beberapa hal, yaitu : harga bahan baku, biaya penyimpanan dan biaya pemesanan.
    Trade promotion mendorong ke arah bagaimana cara untuk meningkatkan ukuran permintaan dan perputaran inventory secara signifikan dengan cara forward buying. Hal ini dapat mengurangi profit Supply chain kecuali Trade Promotion mengurangi fluktuasi demand.
    Menghadapi diskon jangka pendek, seorang pengecer dapat melewatinya dengan sedikit diskon untuk kastemer, menyimpan sisa produk mereka. Secara serempak, para pengecer juga dapat meningkatkan ukuran permintaan belanja dan system forward buy untuk penjualan kedepannya. Seringkali trade promotion mendorong kearah bagaimana cara meningkatkan perputaran inventory dalam Supply chain tanpa peningkatan permintaan kastemer

    Nama : Rahma Ridwan
    NIM : 112061001

  9. 10.4 MANAGING MULTIECHELON CYCLE INVENTORY

    Multiechelon supply chain merupakan supply chain yang terdiri dari beberapa stage dimana setiap stage bisa terdiri dari beberapa pemain.

    Misalnya stage 2 terdiri dari beberapa retailer yang menerima supply dari distributor yang sama dengan interval reorder yang sama pula.
    oleh karena itu, dalam multiechelon supply chain koordinasi antar stage sangatlah penting agar tidak terjadi total cost yang tinggi serta produksi berlebih dari pihak penyuplai.

    Tujuan dari system multiechelon ini adalah untuk mengurangi total cost dalam supply chain.

    Pada system multiechelon sederhana satu manufacturer menyuplai satu retailer. Asumsi bahwa produksi dilakukan pada saat itu juga sehingga manufacturer dapat menyuplai jumlah yang besar ketika dibutuhkan. Atau ketika retailer melakukan reorder, maka bisa jadi manufacturer harus berproduksi lagi setelah menyuplai produksinya yang sebelumnya kepada retailer tersebut. Sehingga tidak ada sinkronisasi proses penyuplaian dari manufacturer kapada retailer. Hal ini yang menyebabkan tingginya total cost tadi. Oleh karena itu multiechelon supply chain harus di manage dengan baik.

    Misal ada 2 stage yaitu distributor dan retailer, dimana dalam stage retailer terdapat 2 retailer yang mendapat supply dari distributor tang sama. Oleh karena itu prinsip cross docked bisa diterapkan. yakni prinsip bahwa produksi yang akan di suply oleh distributor ke 2 retailer disimpan dulu dalam gudang yang sama, baru setelah itu akan didistribusikan kepada kedua retailer tersebut.

    Jika distributor memberi supply kepada beberapa retailer dalam supply chain, maka dapat dilihat retailer mana yang demand nya tinggi dan mana yang demandnya rendah. Dalam situasi ini Roundy (1985) menunjukkan bahwa kebijakan yang menghasilkan hasil yang optimal adalah mengelompokkan retailer menjadi 1 group dan melakukan pemesanan bersama – sama dengan frekuensi pemesanan berupa angka kelipatan.

    misal distributor menyuplai setiap 2 minggu kepada 2 retailer, yang masing – masing melakukan reorder, maka distributor akan menyuplai kedua retailer setiap 2 minggu, sedangkan dari pihak retailer masing – masing hanya memperopleh supply dari distributor tersebut setiap 2 minggu sekali. maka seminggu sisanya bisa meminta supply dari distributor lain.

    Metode pengisian kembali atau pensupplain inventory dapat antara masing – masing stage dalam supply chain dapat disesuaikan / di lakukan dengan strategi penyesuaian sehingga dapat menekan biaya yang seharusnya dikeluarkan.

  10. frida jayanti wirasati

    ti 30 01 / 112060058

  11. •Pentingnya tingkat ketersediaan suatu produk
    Tingkat ketersediaan produk diukur dengan menggunakan siklus tingkat layanan atau fill rate, yang merupakan metrik dari jumlah permintaan kepuasan pelanggan terhadapat ketersediaan inventory. Tingkat persediaan produk, juga disebut sebagai tingkat pelayanan konsumen, yang merupakan salah satu langkah-langkah utama dari supply chain yang responsif. Sebuah rantai pasok dapat menggunakan ketersediaan produk yang banyak untuk meningkatkan responsifnya dan menarik konsumen, sehingga meningkatkan pendapatan untuk supply chain tersebut. Namun, ketersediaan produk yang banyak memerlukan persediaan besar, yang meningkatkan biaya rantai pasok tersebut. Oleh karena itu, sebuah supply chain harus mencapai keseimbangan antara tingkat ketersediaan dan biaya persediaan.
    Bagaimanapun tingkat optimal ketersediaan yang besar dan kecil tergantung saat dimana perusahaan percaya bahwa ketersediaan produk dapat memaksimalkan pendapatan, misalnya nordstrom yang fokus pada penyediaan ketersediaan produk dan menggunakan reputasinya untuk menjadi sukses rantai departemen store.
    Setiap manajer supply chain harus menggunakan faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat optimal ketersediaan produk untuk menargetkan tingkat ketersediaan produk yang optimal dan mengidentifikasi tingkat pengelola yang dapat meningkatkan pendapatan supply chain .

    Phermadi N
    112061064

  12. Beberapa kendala pengaturan ketersediaan produk di bawah kapasitas

    Telah kita ketahui bersama,Dalam sebuah perusahaan dapat mengatur tingkat yang diinginkan ketersediaan produk dan tidak ada kendala yang mengganggu dengan pilihan ini. skenario umum di mana asumsi ini gagal adalah ketika tingkat yang diinginkan ketersediaan produk hasil dalam ukuran pesanan yang melebihi kapasitas yang tersedia pada pemasok. ketika memesan satu produk, itu adalah optimal bagi pembeli untuk memesan minimum yang tersedia kapasitas dan perintah opsional kuantitas. ketika memesan berbagai produk, Namun, pembeli perlu mempertimbangkan trade-off antara memesan lebih dari satu produk terhadap yang lain.
    ketika memesan beberapa produk di bawah kapasitas pasokan terbatas, alokasi kapasitas untuk produk harus didasarkan pada marjinal diharapkan kontribusi mereka terhadap laba.
    pendekatan ini relatif lebih tinggi mengalokasikan sebagian kapasitas untuk produk yang memiliki margin tinggi relatif terhadap biaya overstocking mereka.

    Adriyansyah
    112067004
    ti-30-01

  13. 10.2 Economies of Scale to Exploit Fixed Cost
    Lot Sizing
    merupakan penentuan besarnya pesanan yang akan dilakukan atau diproduksi berdasarkan kebutuhan bersih.
    ~ Economic Order Quantity (EOQ)
    Pendekatan yang bertujuan meminimumkan ongkos persediaan, yang biasanya digunakan untuk kebutuhan material yang bersifat kontinu dengan pola permintaan yang stabil. Lot pemesanan dibuat sama dengan Q.

    D = demand rata-rata
    S = ongkos set-up atau fixed cost (biaya tetap)
    h = holding cost (biaya simpan) per tahun
    C = biaya per unit produk

    Biaya Simpan, H = hC
    Biaya Material Tahunan = CD
    Banyaknya pemesanan per tahun = D/Q
    Biaya pemesanan Tahunan = (D/Q)S
    Biaya Simpan Tahunan = (Q/2)H = (Q/2)hC
    Total Biaya Tahunan, TC = CD + (D/Q)S + (Q/2)hC
    Optimal lot size, Q* = √(2DS/hC)

    Siklus inventory dalam system = Q^*/2

    Waktu yang dibutuhkan tiap unit dalam system = Q^*/((2D))

    Frekuensi pemesanan optimal, n* = D/Q^* = √(DhC/2S)

    nama : Milda Yuniarika
    nim : 112060035

  14. Dua metode pengungkit managerial yang jelas nyata untuk meningkatkan profitabilitas adalah:
    1. meningkatkan nilai sisa dari tiap unit meningkatkan profitabilitas
    2. mengurangi batasan kehilangan dari suatu persediaan yang habis untuk meningkatkan profitabilitas
    Strategi untuk meningkatkan nilai sisa dilakukan juga dengan melakukan penjualan ke took-toko outlet sehingga barang yang berlebih tidak semerta-merta dibuang saja. Sedangkan, strategi untuk mengurangi batas kehilangan dari suatu persediaan yang habis, termasuk dengan melakukan perencanaan pembuatan sumber bantuan lain, sehingga pelanggan tidak hilang selamanya.

    Metode pengungkit managerial penting yang lain untuk meningkatkan profitabilitas rantai persediaan adalah pengurangan permintaan yang tidak pasti. dengan ketidak-pastian permintaan dikurangi, suatu manajer rantai persediaan dapat dengan baik menggabungkan permintaan dan penawaran dengan lebih baik setelah mengurangi kelebihan dan kekurangan stock.
    seorang manajer dapat mengurangi ketidak-pastian permintaan via alat-alat berikut

    1. peramalan yang ditingkatkan
    2. tanggapan cepat
    3. penangguhan
    4. pengkhususan sumber

    Peningkatan ramalan dapat berdampak pada nilai keuntungan dan persediaan barang. Suatu peningkatan ketelitian dalam peramalan dapat mengurangi jumlah persediaan barang yang ditimbun lebih dan persediaan barang bawah, akan tetapi juga mengakibatkan peningkatan suatu laba perusahaan.

    Tanggapan yang terlalu cepat dapat berdampak pada keuntungan dan persediaan barang. Tanggapan cepat adalah tindakan yang dilakuakan suatu rantai persediaan untuk mengurangi waktu pesanan perlengkapan. jika tanggapan cepat mengijinkan berbagai order/pesanan di dalam satu musim, maka laba akan meningkat dan penimbun lstock berlebihakan berkurang.

    Penundaaan dapat berdampak pada keuntungan dan persediaan barang. Penundaan mengijinkan suatu perusahaan untuk meningkatkan perpaduan yang lebih baik dari permintaan dan penawaran baik jika perusahaan menghasilkan suatu variasi produk yang besar tidaklah secara positif dihubungkan dan menjadi ukuran yang sama. Penundaan dapat berakibat pengurangan total keuintungan perusahaan.

    Tailored sourcing berdampak pada keuntungan dan persediaan barang. Dalam tailored sourcing, perusahaan menggunakan 2 sumber persediaan, dimana sumber yang pertama fokus pada masalah biaya tetapi tidak dapat mengurusi ketidakpastiaan permintaan dengan baik, sedangkan sumber yang kedua focus kepada flexibilitas untuk mgurusi permintaan yang tidak pasti.

    nama : Mikhael Tri S
    nim : 112060179
    no absen : 19
    kelas : TI-30-01

  15. Trade Promotion
    Pabrik menggunakan promosi perdagangan untuk menawarkan diskon. Tujuan promosi perdagangan adalah untuk mempengaruhi pengecer untuk bertindak dengan cara membantu produsen mencapai tujuannya. Beberapa dari tujuan-tujuan penting dari promosi perdagangan adalah sebagai berikut:
    1. Mendorong pengecer untuk menggunakan harga diskon, atau iklan untuk memacu penjualan.
    2. jadwal persediaan dari produsen ke pengecer dan pelanggan.
    3. Membela suatu merek terhadap persaingan

    Dampak dari promosi perdagangan pada perilaku pengecer dan kinerja seluruh rantai pasok harus diselidiki. Sebagai dampak terhadap promosi perdagangan, pengecer memiliki pilihan berikut:
    1. Melewati beberapa atau semua promosi terhadap pelanggan untuk memacu penjualan.
    2. Melewati sangat sedikit promosi terhadap pelanggan tetapi membeli dalam jumlah besar selama masa promosi untuk memanfaatkan penurunan harga sementara.

    Promosi perdagangan menyebabkan peningkatan yang signifikan dalam ukuran banyak dan siklus persediaan karena maju membeli oleh pengecer. Hal ini biasanya menghasilkan keuntungan rantai persediaan berkurang kecuali promosi perdagangan mengurangi fluktuasi permintaan.

    Dihadapkan dengan diskon jangka pendek, itu adalah optimal untuk pengecer untuk berhasil walaupun hanya sebagian kecil dari diskon kepada pelanggan, sisanya untuk menjaga diri mereka sendiri. Secara bersamaan, itu adalah optimal untuk pengecer dalam meningkatkan pembelian ukuran dan banyak membeli untuk periode masa depan. Dengan demikian, promosi perdagangan sering mengarah pada peningkatan siklus persediaan dalam rantai suplai tanpa peningkatan yang signifikan pada permintaan pelanggan.

    Nama : Bayu Rima Aditya
    NIM : 112060190

  16. CHAPTER 4
    DESIGNING DISTRIBUTION NETWORKS AND APPLICATIONS TO E-BUSINESS

    4.2. FACTORS INFLUENCING DISTRIBUTION NETWORK DESIGN
    Pada level yang paling tinggi, hasil dari sebuah jaringan distribusi harus dievaluasi dari 2 dimensi :
    1. Kebutuhan pelanggan yang di bertemu.
    2. Biaya dari pertemuan keperluan pelanggan.
    Dengan demikian, sebuah perusahaan harus mengevaluasi dengan mempunyai pengaruh yang kuat di servis pelanggan dan biaya sebagai perbandingan berbeda pilihan jaringan distribusi. Kebutuhan pelanggan yang mempengaruhi penghasilan perusahaan, yang panjang dengan keputusan biaya keuntungan dari pengiriman jaringan.
    Meskipun servis pelanggan terdiri dari beberapa komponen, kita fokus ke pengukuran yang dipengaruhi oleh struktur dari jaringan distribusi. Ini termasuk :
    • Waktu balasan.
    • Variasi produk.
    • Ketersediaan produk.
    • Pengalaman pelanggan.
    • Waktu untuk pemasaran.
    • Order yang terlihat.
    • Pengembalian.
    Waktu balasan adalah jumlah dari waktu yang didapatkan dari seorang pelanggan untuk menerima sebuah pesanan. Variasi produk adalah bilangan dari perbedaan produk/konfigurasi-konfigurasi yang ditawarkan oleh jaringan distribusi. Ketersediaan produk adalah probabilitas dari kepemilikan sebuah dalam sebuah produk dalam stok ketika kiriman seorang pelanggan tiba. Pengalaman pelanggan termasuk kesenangan dengan pelanggan-pelanggan yang lain dapat menempati dan menerima kiriman seperti tingkatan untuk pengalaman ini yang telah dibuat. Itu juga termasuk aspek dari pengalaman. Seperti kesempatan dari mendapatkan sebuah cangkir kopi dan nilai bahwa menyediakan staff penjualan. Waktu pemasaran adalah waktu yang diterima untuk membawa sebuah produk baru ke pasar. Order yang terlihat adalah kemampuan dari pelanggan-pelanggan untuk menjalani pengiriman pereka dari penempatan hingga pengiriman. Pengembalian adalah kesenangan dengan seorang pelanggan yang dapat mengembalikan ketidakpuasan barang dan kemampuan dari jaringan untuk menghandel banyak pengembalian.
    Ini mungkin memperlihatkan pertama kali bahwa seorang pelanggan selalu menginginkan level tertinggi dari hasil panjang dari semua dimensi-dimensi ini. Dalam latihan, bagaimanapun juga ini bukan kasus. Pelanggan-pelanggan mengirimkan sebuah buku ke Amazon.com yang mau untuk menunggu lama untuk mengemudi dekat batas untuk mendaoatkan buku yang sama. Sebaliknya, pelanggan dapat mencari banyak variasi yang lebih besar dari buku-buku yang ada di Amazon dibandingkan dengan toko terbatas. Oleh karena itu pelanggan-pelanggan Amazon mendapat respon dengan waktu yang cepat dari level varietas yang tinggi.
    Pelanggan yang targetnya pelanggan, yang dapat ditoleransi dengan syarat sebuah respon yang panjang hanya sedikit lokasi-lokasi yang mungkin jauh dari pelanggan. Perusahaan ini dapat focus menaikkan kapasitas dari beberapa lokasi. Sebaliknya perusahaan yang targetnya pelanggan yang responnya memerlukan waktu untuk menempatkan fasilitas-fasilitas yang dekat ke mereka. Perusahaan ini harus mempunyai banyak fasilitas dengan kapasitas yang sedikit. Oleh karena itu, pengurangan dalam waktu merespon pelanggan menjadi hasrat menaikkan bilangan dari fasilitas-fasilitas yang diinginkan didalam jaringan.
    Sebagai contoh, batas penyediaan itu pelanggan-pelanggan dengan buku-buku yang sama harinya tetapi syarat 400 toko untuk mencapai tujuan ini agar lebih dari Amerika Serikat, Amazon. Sebaliknya, selama 1 minggu untuk mengirimkan sebuah buku untuk pelanggan-pelanggannya, tapi pengguna hanya 6 lokasi-lokasi untuk mempromosikan buku-buku itu.
    Pertukaran desain distribusi jaringan dapat mempengaruhi biaya rantai pasok (peringatan bahwa ini adalah 4 dari 6 rantai pasok kita kamudi untuk didiskusikan lebih awal) :
    • Persediaan/inventaris.
    • Transportasi.
    • Fasilitas dan penanganan.
    • Informasi.

    Oleh : Arvina Irkantini / 112061061

  17. THE ROLE OF AGGREGATE PLANNING IN SUPPLY CHAIN

    Di dunia ini dalam manufaktur, transportasi, penyimpanan stok memakan waktu dan biaya.
    Pilihan perusahaan apakah harus membuat pabrik dengan kapasitas besar agar dapat memenuhi permintaan berapapun dan kapanpun atau membuat pabrik kecil tapi menambah biaya penyimpanan untuk memenuhi permintaan di periode berikutnya?, dalam menjawab persoalan tersebut aggregate planning digunakan.

    Aggregate planning adalah proses sebuah perusahaan untuk menentukan besarnya kapasitas, jumlah produksi, subkontrak, inventaris, stok dan bahkan harga di tiap daerah waktu.

    Pada umumnya aggregate planning dipakai pada perusahaan saja dan tidak dipakai sebagai bagian dari rantai pasok. Padahal dalam proses manufaktur dibutuhkan perencanaan-perencanaan untuk memenuhi permintaan dan dalam proses itu diperlukan bahan-bahan yang ada di tiap bagian. Dengan aggregate planning kita dapat menentukan berapa bahan yang disimpan untuk memenuhi permintaan yang berubah-ubah sehingga dapat memaksimalkan profit dari supply chain itu sendiri.

    nama : andika prabowo
    nim : 112061043

  18. 12.3 Managerial Levers to Improve Supply Chain Profitability
    Pengantar
    Pada bagian ini, kita akan memfokuskan pada tindakan seorang manajer dalam meningkatkan keuntungan dari Supply Chain.
    Ada 2 kenyataan bahwa peningkatan pengelolaan dapat meningkatkan keuntungan, yaitu:
    Meningkatkan nilai barang yang diselamatkan dari tiap unit dapat meningkatkan profit (diikuti dengan pengoptimalan level siklus jasa).
    Menurunkan marjin kehilangan dari persediaan dapat meningkatkan profit (diikuti dengan pengoptimalan level siklus jasa).
    Selain itu, cara peningkatan pengelolaan untuk meningkatkan profit adalah dengan mereduksi dari ketidakstabilan demand. Seorang manajer dapat mereduksi hal tersebut dengan cara sebagai berikut:
    Meningkatkan hasil Peramalan  menggunakan intelijen pasar yang lebih baik dan berkolaborasi untuk mereduksi ketidakstabilan permintaan (demand).
    Respon yang cepat  mereduksi waktu menunggu penambahan perlengkapan sehingga permintaan yang banyak dapat dipasok saat musim penjualan.
    Penangguhan (Penundaan)  dalam multiproduk, menunda proses differensiasi produk sampai dekat dengan batas penjualan.
    Penyesuaian Supplier  Menggunakan waktu menunggu yang rendah. Terkadang Supplier yang mahal dapat membantu untuk pembiayaan yang rendah, tetapi terkadang, supplier yang waktu menunggunya yang lama.

    Peningkatan Peramalan : Berimbas pada profit dan Inventori
    Perusahaan telah berusaha lebih baik untuk memahami pelanggan mereka dan berkoordinasi antara SC dalam menimprovisasi keakuratan dari peramalan. Penggunaan dari perencanaan sistem informasi permintaan dapat juga membantu dalam hal ini. Kita akan menunjukkan bahwa peningkatan akurasi peramalan dapat membantu perusahaan meningkatkan secara signifikan profitnya ketika menurunkan inventori yang berlebihan dan kehilangan penjualan karena kekurangan inventori.
    Adapun terdapat beberapa rumus, diantaranya:
    Biaya Understocking = Cu = p –c
    Biaya Overstocking = Co = c – s.
    CSL = Prob (Demand Cu/(Cu+Co)
    Catatan: suatu peningkatan akurasi peramalan menurunkan kelebihan dan kekurangan jumlah inventori dan juga meningkatkan profit dari perusahaan.

    Respon yang Cepat : Berimbas pada profit dan Inventori
    Respon yang cepat adalah suatu tindakan dari Supply Chain dalam mereduksi waktu tunggu dari penambahan inventori. Manajer dari Supply Chain dapat menimprovisasi keakuratan peramalan dengan menurunkan waktu tunggu, dimana mereka dapat dengan tepat mensuplai suatu permintaan dan meningkatkan profit dari Supply Chain.
    Sebelum memulai dari musim penjualan, pembeli meramalkan secara mingguan dari permintaan sebagai distrbusi normal dengan rata-rata 20 dan standar deviasi 15. Kita dapat membandingkan dampak dari 2 kebijakan pemesanan berikut:
    Satu permintaan harus ditempatkan pada permulaan suatu musim untuk menutupi seluruh permintaan dalam satu musim.
    2 permintaan ditempatkan dalam satu musim, satu disalurkan pada awal musim, dan lainnya disalurkan pada awal dari minggu ke-8.
    Jadi, respon yang cepat secara jelas menguntungkan bagi para retailer dalam suatu Supply Chain. Sebagai seorang yang mengelola manufaktur, mereduksi waktu tunggu penambahan barang, mengizinkan suatu permintaan kedua, kita melihat bahwa ukuran permintaan retailer menurun. Efeknya, manufakturer menjual sedikit kepada retailer. Kemudian, respon yang cepat menghasilkan manufakturer untuk membuat untung yang sedikit dalam waktu singkat jika semuanya berubah. Ini suatu poin penting untuk dipertimbangkan, karena menurunkan waktu tunggu penambahan inventori membutuhkan efek yang besar dari seorang manufakturer, walaupun menguntungkan retailer disaat menambah biaya dari manufakturer.
    Catatan : Jika respon yang Cepat mengizinkan permintaan yang banyak dari suatu musim, dapat meningkatkan profit dan menurunkan kuantitas dari kelebihan inventori.

    Penundaan (Penangguhan) : Berimbas pada profit dan Inventori
    Penundaan mengizinkan suatu Supply Chain mempertemukan dengan lebih baik antara Supply dan Demand. Penundaan bisa sangat kuat dalam peningkatan pengelolaan untuk meningkatkan profit. Jika suatu Supply Chain dapat menunda differensiasi produk sampai setelah penerimaan pemesanan pelanggan, peningkatan secara signifikan dari profit dan mereduksi dalam inventorisasi bisa diraih.
    Benefit yang utama dari penundaan didapatkan dari peningkatan pencocokan antara supply dan demand. Walau bagaimanapun, biaya diasosiasikan dengan penundaan, karena biaya produksi yang menggunakan penundaan, secara tipikal lebih tinggi dari biaya produksi jika tanpa hal tersebut.
    Penundaan sangatlah berharga untuk sebuah perusahaan yang menjual varietas produk yang sangat besar dengan permintaan yang sangat bebas dan tergantung pada ukurannya.
    Penundaan tidak terlalu efektif jika fraksi besar dari demand datang dari satu produk saja. Ini karena benefit dari agregasinya kecil, dimana biaya produksi meningkat dipakai untuk semua jenis produk.
    Pada penundaan yang dekat, perusahaan menggunakan produksi dengan penundaan untuk memuaskan salah satu dari demandnya, dengan sisanya dipuaskan tanpa penundaan. Penundaan yang dekat memproduksi profit yang lebih tinggi dibandingkan tanpa penggunaan penundaan atau semua produk yang diproduksi menggunakan penundaan.

    Penyesuaian Supplier : Berimbas pada Profit dan Inventori
    Dalam Penyesuaian Supplier, perusahaan menggunakan kombinasi dari 2 sumber supply, satu memfokuskan pada biaya tetapi tidak bisa mengatur ketidakstabilan dengan baik, dan yang satunya memfokuskan pada fleksibilitas untuk menangani ketidakstabilan, tetapi biayanya lebih tinggi. Kedua supplier tersebut haruslah fokus pada kemampuan masing-masing. Nilai dari Penyesuaian Supplier tergantung pada pereduksian biaya yang bisa didapatkan sebagai suatu hasil dari satu sumber tanpa variabilitas.
    Dari Penyesuaian Supplier berbasis volume, bagian yang terprediksi dari permintaan produk diproduksi dengan fasilitas yang efisien, dimana ketidakstabilan bagian diproduksi pada fasilitas yang fleksibel. Penyesuaian Supplier berbasis volume ini seharusnya dipertimbangkan oleh perusahaan yang telah memindahkan produksi mereka untuk mengambil keuntungan dari biaya yang lebih rendah.
    Dari Penyesuaian Supplier berbasis produk, produksi dengan volume yang rendah disertai dengan permintaan yang tidak stabil diperoleh dari supplier yang fleksibel dimana produk dengan volume tinggi dengan ketidakstabilan permintaan yang rendah diperoleh dari sumber yang efisien.
    Di sejumlah instansi, produk baru mempunyai ketidakstabilan demand dimana produk yang telah diluncurkan lebih dulu mempunyai demand yang stabil. Penyesuaian Supplier berbasis produk mungkin diimplementasikan dengan fasilitas yang fleksibel berfokus pada produk baru, dan fasilitas yang efisien berfokus pada produk yang sudah ada.

    Note: saya sudah kirim tgl 7, knp belum muncul yach??
    Nama:Kemas AChmad
    NIM: 112067002


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: